LombokPost - Indonesia bersiap menyambut kemeriahan Cap Go Meh yang jatuh pada hari ke-15 setelah Tahun Baru Imlek.
Di tahun 2026, perayaan ini terasa kian istimewa karena bertepatan dengan suasana bulan suci Ramadan, menciptakan momen toleransi yang luar biasa di berbagai penjuru nusantara.
Kementerian Pariwisata RI merekomendasikan tujuh destinasi utama bagi wisatawan yang ingin merasakan langsung kemegahan budaya Tionghoa berpadu tradisi lokal.
Bogor (Bogor Street Festival): Digelar di sepanjang Jalan Suryakencana, festival tahun ini tampil beda karena dilaksanakan malam hari setelah salat tarawih.
Ini menjadi simbol kerukunan antarumat beragama di Kota Hujan.
Singkawang (Pawai Tatung): Pusat perayaan Cap Go Meh terbesar di dunia ini tetap menjadi primadona dengan parade Tatung yang menunjukkan kekebalan tubuh, sebuah akulturasi budaya Tionghoa dan Dayak.
Semarang (Pasar Imlek Semawis): Wisatawan dapat menikmati ragam kuliner khas seperti Lumpia Cap Go Meh sambil menonton berbagai pertunjukan seni di kawasan Pecinan.
Jakarta (Glodok & PIK): Ibu kota menawarkan kemeriahan di kawasan historis Glodok dan nuansa modern di Pantai Indah Kapuk (PIK) dengan atraksi barongsai dan Liong UV.
Makassar (Jappa Jokka): Mengambil nama dari bahasa Makassar dan Bugis yang berarti "jalan-jalan", festival ini menghadirkan kirab budaya hingga Heritage Run di sepanjang Jalan Sulawesi.
Palembang (Pulau Kemaro): Ribuan warga menyeberangi Sungai Musi untuk berdoa di Klenteng Hok Tjing Rio yang dihiasi lampion cantik dan pertunjukan wayang potehi.
Solo (Grebeg Sudiro): Tradisi unik yang memperebutkan gunungan kue keranjang, mencerminkan harmoni kuat antara etnis Tionghoa dan masyarakat lokal di Solo.
Perayaan Cap Go Meh bukan sekadar pesta budaya, melainkan bukti nyata kekayaan toleransi yang mempererat persatuan Indonesia.
Editor : Redaksi Lombok Post