LombokPost - AROMA tanah kering dan harum biji kopi yang disangrai secara tradisional langsung menyapa tatkala melangkah melewati gerbang kayu Desa Wisata Sasak Ende. Terletak di Dusun Ende, Desa Sengkol, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, permukiman adat ini bak sebuah mesin waktu.
Di tengah riuk pikuk modernisasi Lombok yang kian pesat dengan hadirnya Sirkuit Internasional Mandalika dan kawasan megah, Sasak Ende berdiri kokoh menjaga warisan leluhur Suku Sasak yang telah bertahan selama ratusan tahun.
Bagi para pelancong yang baru saja mendarat di Pulau Seribu Masjid, Sasak Ende adalah pintu gerbang kebudayaan yang sempurna. Aksesibilitas menjadi salah satu keunggulan utama destinasi ini. Hanya berjarak sekitar delapan kilometer dari Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid (BIZAM) Lombok, perjalanan menuju desa adat ini hanya memakan waktu sekitar 15 menit berkendara.
Baca Juga: Jaga Rumah Adat, Desa Wisata Sasak Ende Perkuat Mitigasi Bencana
Akses jalan mulus beraspal yang menghubungkan bandara menuju Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika membuat Dusun Ende sangat mudah dijangkau, baik menggunakan kendaraan roda dua, mobil pribadi, hingga bus pariwisata berukuran besar.
Satu hal yang paling menyita perhatian saat berada di Sasak Ende adalah deretan rumah adat yang disebut Bale Tani. Konstruksi bangunan di sini mempertahankan teknik arsitektur tradisional tanpa menggunakan paku besi maupun semen.
“Dinding-dinding rumah dibuat dari anyaman bambu (bedek), ditopang oleh tiang kayu lokal yang kuat, dan dinaungi atap melengkung dari susunan alang-alang kering,” ucap Kadir salah satu pemandu wisata lokal di sana.
Baca Juga: Akhir Pekan di Bawah Tenda Lembah Datu, Anak Muda Ikut Mengelola dan Membuka Peluang Ekonomi Baru
Namun, daya tarik utama yang kerap membuat pengunjung tercengang adalah ritual merawat lantai rumah. Masyarakat Sasak Ende secara berkala mengolesi lantai Bale Tani mereka—yang berbahan dasar campuran tanah liat dan kotoran kerbau atau sapi—menggunakan kotoran ternak yang masih segar.
Bagi masyarakat awam, tradisi ini mungkin terdengar tidak biasa. Namun, di balik tradisi unik tersebut menyimpan kearifan lokal yang sangat rasional. Campuran kotoran ternak dan tanah liat tersebut justru berfungsi sebagai perekat yang membuat lantai tanah tidak mudah retak, mengikat debu, serta mampu mengusir serangga seperti nyamuk dan rayap.
Hebatnya lagi, setelah lantai mengering dan disapu, sama sekali tidak ada aroma tidak sedap yang tertinggal. Pintu masuk rumah yang sengaja dibuat rendah juga mengandung filosofi mendalam, setiap tamu yang masuk harus menunduk, sebagai simbol rasa hormat kepada pemilik rumah dan Sang Pencipta.
Puas berkeliling mengagumi arsitektur bangunan adat, para wisatawan dapat melepas lelah di kafe kopi lokal yang dikelola oleh pemuda desa. Kafe berbasis kearifan lokal ini menyajikan Kopi Sasak dengan racikan yang masih sangat alami.
Menyeruput secangkir Kopi Sasak panas dengan aroma smoky khas kayu bakar memberikan sensasi kehangatan tersendiri. Sembari menikmati kopi, wisatawan sering kali disuguhi atraksi kesenian daerah seperti tarian Peresean, pertarungan ketangkasan antara dua pemuda Sasak menggunakan rotan dan perisai kulit sapi, serta alunan musik tradisional Gendang Beleq yang menghentak jiwa.
“Biasanya kalau rombongan wisatawannya banyak kami hadirkan atraksi-atraksi ini,” kata dia.
Meski menjunjung tinggi tradisi kuno, pengelola Desa Wisata Sasak Ende sangat sadar akan pentingnya kenyamanan bagi para pelancong modern. Berbagai fasilitas penunjang telah ditata secara rapi tanpa merusak estetika dan keaslian desa adat.
Di sepanjang koridor desa, terdapat deretan toko souvenir yang menjajakan ragam kerajinan tangan khas Lombok. Salah satu produk unggulannya adalah Kain Tenun Ikat dan Songket Sasak.
Wisatawan bahkan dapat melihat langsung para wanita desa yang terampil menggerakkan alat tenun tradisional (berenun). Selain kain tenun, terdapat pula aneka pernak-pernik seperti gelang manik-manik, asbak berbahan tempurung kelapa, hingga kerajinan anyaman bambu yang sangat cocok dijadikan oleh-oleh khas dari Pulau Lombok.
Untuk memenuhi kebutuhan ibadah bagi wisatawan Muslim, desa wisata ini menyediakan fasilitas musola yang bersih, nyaman, dan terawat lengkap dengan tempat wudu yang memadai. Area parkir yang disediakan di luar pemukiman inti tergolong sangat luas, mampu menampung puluhan kendaraan roda empat dan bus pariwisata tanpa mengganggu ketenangan area dalam desa adat.
Baca Juga: Di Balik Senja Josie Sunset Corner, Ada Cinta untuk Joella, Kearifan Lokal, dan Asa Warga Mandalika
Selain itu, toilet umum yang bersih dan representatif juga tersedia di beberapa titik. Setiap rombongan pengunjung juga akan didampingi oleh pemandu wisata lokal (local guide) yang ramah, fasih berbahasa Indonesia maupun bahasa asing, serta memiliki wawasan mendalam mengenai sejarah, adat istiadat, dan aturan adat yang berlaku di desa tersebut.
Pengembangan Desa Wisata Sasak Ende tidak hanya menjadi magnet pariwisata Lombok Tengah, tetapi juga menjadi bukti nyata bagaimana pariwisata berbasis masyarakat (community-based tourism) mampu menggerakkan roda perekonomian warga lokal tanpa harus mengorbankan identitas kebudayaan.
Dengan perpaduan lokasi strategis, nilai sejarah yang kental, keunikan arsitektur, kulinernya yang khas, serta kelengkapan fasilitas umum, Desa Wisata Sasak Ende layak berada di urutan teratas daftar destinasi yang wajib Anda kunjungi. Sebuah perjalanan singkat dari bandara yang memberikan kesan manis dan mendalam tentang indahnya warisan tradisi di Pulau Lombok.
Editor : Akbar SirinawaSumber : Liputan Berita Lombok Post