alexametrics
Kamis, 13 Mei 2021
Kamis, 13 Mei 2021

Bali Dibuka, Pariwisata NTB Bisa Membaik

MATARAM-Rencana membuka pintu Pulau Bali bagi wisatawan mancanegara terus digodok pemerintah. Upaya ini menjadi angin segar bagi NTB. Karena sebagian besar wisatawan yang datang ke Bali pasti akan singgah ke Lombok.

Ya, paket-paket tersebut sudah disinergikan ASITA NTB dengan ASITA Bali. Kebijakan itu akan menjadi harapan untuk meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan ke NTB. Sekaligus menambah pundi-pundi pemasukan bagi pelaku usaha sektor pariwisata di masa pandemi.

“Karena Bali ini destinasi yang sudah mendunia. Sudah ada paket-paket yang disandingkan untuk mereka bisa langsung berkunjung Lombok-Sumbawa,” terang Sekretaris Dinas Pariwisata NTB Lalu Hasbulwadi, Minggu (28/2/2021).

Upaya pemerintah membuka kembali keran wisatawan ke Bali berkat adanya tren penurunan kasus Covid-19 di sana. Menurutnya, tak menutup kemungkinan hal serupa juga terjadi di NTB jika kondisi terus membaik.

Dibukanya gerbang pariwisata ini, lanjut dia, harus dibarengi sosialisasi penerapan protokol ketat  dan tata cara khusus selama masa pandemi. Bagi pelaku usaha, dia berharap kabar ini bisa menjadi angin segar bagi mereka. Dengannya aneka jenis paket-paket destinasi wisata bisa segera dipersiapkan. “Ini kesempatan emas, harus dipersiapkan semaksimal mungkin agar wisatawan nyaman dan tak menimbulkan klaster baru penyebaran Korona,” katanya.

Ketua Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) NTB Ainuddin mengatakan, pihaknya optimis upaya ini menggairahkan kembali iklim bisnis jasa pramuwisata. Dengan catatan, perlu adanya keseragaman kebijakan masa berlaku hasil rapid test. Sebab masa berlaku yang berbeda-beda akan berpengaruh pula pada masa kunjungan wisatawan. Bisa jadi, banyak wisatawan yang akan membatalkan kunjungan lantaran masa berlaku hasil rapid yang hanya mampu selama berada di Bali saja.

Hasil temuannya, beber Ainuddin, masa berlaku hasil rapid tes berbeda-beda tiap lokasi. “Kalau rapid di rumah sakit A, berlaku 14 hari. Di bandara justru cuma 2 hari. Ini seperti apa kebijakannya?,” keluh dia.

Menurutnya, perlu ada koordinasi dan kerja sama yang baik antara pemerintah NTB dan Bali. Menggunakan satu aturan pasti yang diturunkan dari pemerintah pusat. Jika tak dilakukan, dia khawatir akan merusak citra Bali dan NTB hingga Indonesia di mata wisatawan. Lantaran tak mampu menerapkan keseragaman protokol kesehatan yang benar. “Padahal kita lihat aturan di negara lain seragam. Keseragaman itu harus ada se Indonesia,” tegasnya. (eka/r8)

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications    OK No thanks