alexametrics
Kamis, 13 Mei 2021
Kamis, 13 Mei 2021

Investasi Masih Andalkan Kerja Mesin

MATARAM-Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) NTB Mohammad Rum menanggapi minimnya tenaga kerja yang bisa diserap di sektor investasi. Padahal, realisasinya di sepanjang tahun 2020 menorehkan catatan yang memuaskan.

Menurutnya, hal itu dikarenakan investasi yang masuk lebih banyak fokus pada industri padat mesin atau teknologi. Seluruh pengerjaan teknis lebih banyak memanfaatkan tenaga mesin dibanding tenaga kerja manusia. “Mereka pakai ekskavator, hidrolik, dan teknologi lainnya. Sehingga tenaga kerja tak menjadi prioritas,” jelasnya.

Terlebih, investasi terbesar diisi sektor pertambangan dan listrik. Pengerjaan teknis lebih banyak menggunakan alat dan teknologi. Investasi yang membutuhkan lebih banyak tenaga kerja, kata dia, justru realisasinya sangat sedikit. “Hal ini sesuailah dengan realisasi investasi kita, bisa dicek sendiri,” imbuhnya.

Investor pun saat ini diyakini masih dalam masa penjajakan. Fokus pada persiapan dan mobilisasi sebelum merekrut lebih banyak tenaga kerja. Dia memastikan tenaga kerja lebih besar akan diambil jika perusahaan sudah mulai pada tahap produksi. “Untuk sekarang yang dibutuhkan paling satpam, belum ke hal yang bersifat teknis personal,” jelasnya.

Jika serapan tenaga kerja lebih besar dari porsi yang dibutuhkan, dia khawatir justru akan membebani pihak perusahaan. Di sisi lain pihaknya pun tak mampu melakukan intervensi agar investor lebih banyak menyerap tenaga kerja lokal. “Jangan sampai nanti mereka malah harus membayar lebih banyak orang justru untuk menganggur di perusahaan,” imbuhnya.

Pengamat Ekonomi Universitas Mataram Iwan Harsono juga menilai hal ini wajar. Di masa ekonomi pandemi, investor akan mencari lahan investasi yang menguntungkan. Tentu penggunaan teknologi akan lebih menguntungkan dibanding tenaga kerja. Utamanya dari segi pengeluaran biaya. Kesempatan negosiasi dan pilihan pemerintah untuk meminta lebih banyak serapan tenaga kerja pun minim. “Idealnya memang investasi bisa membuka lapangan kerja. Tapi di masa pandemi, hal itu sulit diwujudkan investor,” katanya.

Untuk itu, pembukaan lapangan kerja tak bisa mengandalkan realisasi investasi. Penggunaan APBD  justru lebih memungkinkan. Sekaligus menggerakkan ekonomi daerah. “APBD bisa dimanfaatkan untuk membuka keran konsumsi, UMKM, dan sebagainya,” saran dia. (eka/r8)

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications    OK No thanks