alexametrics
Kamis, 18 Agustus 2022
Kamis, 18 Agustus 2022

Harga jagung : Pemprov Bilang Sudah Naik, Petani Sebut Harga Masih Anjlok

BIMA-Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) NTB berjanji menelusuri penyebab tersendatnya pengiriman jagung dari Bima ke Pulau Jawa. Sejauh ini, kendala pengiriman jagung karena kapal bisa bersandar di Pelabuhan Bima.

“Pemerintah akan intervensi dan telusuri apa penyebabnya (pengiriman jagung tersendat, red). Apakah dalam alur pendistribusiannya proses bongkar muat yang memakan waktu lama atau jumlahnya (kapal, red) yang kurang,” kata Kepala Distanbun NTB H Fathul Gani dihubungi Koran ini, Minggu (5/6).

Diketahui, stok jagung di Kabupaten Bima melimpah karena hampir semua kecamatan panen serentak. Sayangnya, stok melimpah tidak diikuti dengan harga yang bagus.

Selain itu, gudang perusahaan pun over kapasitas. Sehingga jagung menumpuk hingga di halaman gudang. Ini disebabkan kapal belum bisa menyandar di Pelabuhan Bima.

Fathul mengklaim, jagung menumpuk di gudang perusahaan sudah terserap atau dibeli perusahaan. ’’Bukan menumpuk karena tidak diserap,” klaimnya. “Perusahaan tinggal angkut saja, tapi ada masalah pada alur pendistribusiannya,” sambung dia.

Harga jagung pun diklaim Fathul sudah kian membaik. Harganya kini di atas Rp 4.200 per Kilogram (Kg). Ini menjawab atas aksi blokade jalan yang dilakukan petani di Kabupaten Bima untuk menuntut kenaikan harga jagung belum lama ini.

“Harga ini kan tergantung kualitas jagung, kadar airnya, tingkat pecahan. Itu yang dilirik perusahaan, bagus kualitas bagus pula harga jagung,” tambah mantan Kepala Dinas Ketahanan Pangan (DKP) NTB ini.

Baca Juga :  Dibacok Pria Bercadar, Warga Lambu Bima Kritis

Di tengah harga jagung yang lesu beberapa waktu terakhir, Pemprov NTB terus melakukan upaya untuk memperbaiki harga jagung di tingkat petani. Salah satunya dengan memfasilitasi petani dengan pembeli jagung. “Harga jagung berangsur membaik,” klaimnya lagi.

Dia menjelaskan, bahwa harga pembelian jagung di gudang PT. Seger Rp. 4.200 per kilogram (Kg). Sementara harga gudang di UD. Subur Sumbawa di Kabupaten Sumbawa Rp 4.250 per Kg.

Sedangkan di Kabupaten Dompu, harga pembelian di gudang sebesar Rp 4.200 per Kg, dan harga pembelian di gudang UD. Pemuda Kreatif yang ada di Kabupaten Bima sebesar Rp 4.400 per Kg.

“Ini berdasarkan hasil pantauan Distanbun NTB berkoordinasi dengan petugas Pelayanan Informasi Pasar (PIP) Lapangan Kabupaten/Kota tentang harga jagung pada hari Kamis tanggal 2 Juni 2022,” jelasnya.

Meski demikian, Fathul berharap, para petani jagung ikut proaktif memantau dan melaporkan harga serapan jagung yang ada di lapangan.

Sebelumnya, Laskar Tani NTB menggedor gedung bupati Bima. Mereka menuntut kenaikan harga pembelian jagung, karena menurut mereka harga jagung semakin anjlok. Kini harga jagung di tingkat petani mencapai Rp 3.800 per Kg. Harga ini dinilai tak sebanding dengan biaya produksi yang dirogoh petani.

Baca Juga :  PTTD Kota Bima Bagikan 69 Bak Sampah Gratis

Sementara, PT Santosa Utama Lestari (SUL) Unit Madapangga Kabupaten Bima melalui supplier membeli jagung kering pipil  untuk kadar air 17 persen dengan harga Rp 4.050. Harga itu untuk  tingkat petani, sedangkan harga beli perusahan pada supplier masih dirahasiakan.

“Untuk saat ini jagung kering pipil K 17 persen kita ke supplier Rp 4.050  per kilogram. Harganya akan lebih jika kadar airnya lebih rendah,” ungkap Humas PT SUL Unit Madapangga Isnaini, beberapa hari lalu.

Sedangkan harga beli perusahan pada supplier tidak bisa disampaikan ke publik. “Itu menjadi rahasia antara manajemen dengan supplier,” elaknya.

Mengapa harga jagung terus merosot? Dia mengaku, hal tersebut lebih erat kaitannya dengan marketing perusahaan. “Misalnya jagung di Sulawesi atau Lampung sedang panen, otomatis harga jagung di NTB akan turun,” terangnya.

Soal kemungkinan harga jagung naik dari harga saat ini, dia belum bisa memastikannya. “Selama kuota pembelian perusahan kita belum tercapai, kita tetap membeli jagung,” ujarnya.

Kaitan kondisi fisik sebagian dari stok jagung di gudang yang mulai busuk dan menghembuskan aroma menyengat, menurut dia, tidak berdampak pada lingkungan. “Jagung yang sudah rusak akan diproses ulang sebelum kita angkut dengan kapal,” timpalnya. (ewi/gun/r8)

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications    OK No thanks
/