alexametrics
Senin, 3 Oktober 2022
Senin, 3 Oktober 2022

Harga Elpiji 3 Kg Tembus Rp 35 Ribu, Warga Protes dan Blokade Jalan

BIMA-Puluhan warga dari beberapa desa memblokade jalan provinsi di depan kantor Desa Soro, Kecamatan Lambu, Kabupaten Bima, Selasa (9/8). Mereka memprotes kelangkaan dan kenaikan gas elpiji kemasan 3 kilogram (Kg).

Aksi warga itu dimulai pukul 09.00 Wita. Mereka memblokade jalan menggunakan bambu dan bale-bale. Jalan baru dibuka sekitar pukul 11.30 Wita. Itu setelah rombongan dari Bagian Ekonomi Setda Bima dan agen elpiji subsidi tiba di lokasi aksi.

Perwakilan dari Bagian Ekonomi Setda Bima Haerul Jaya Muslimah, Direktur PT Bima Indah Gemilang Agus Rusmanto, dan Manajer PT Putra Bima Raksasa Agung Utama Wildan mengadakan pertemuan dengan warga di kantor Desa Soro. Pada pertemuan itu, warga mengeluhkan harga jual elpiji di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) di tingkat pengecer. ’’Saya membeli gas elpiji pada pengecer Rp 35 ribu per tabung,’’ aku Takim, warga Desa Soro ini.

Nadira dan Muhklis juga menyampaikan keluh kesah yang sama. “Kami juga beli dengan harga Rp 35 ribu per tabung,” keluh dia.

Baca Juga :  Ibu Muda Ditangkap Polisi Usai Transaksi Sabu

Menurut warga, stok gas elpiji di pangkalan resmi cepat sekali kosong. Begitu turun dari mobil angkutan, elpiji melon itu diklaim pengecer sudah ludes terjual.

“Yang kami tahu, kita dikasih saat saat diturunkan dari mobil saja. Setelah itu pasti dikatakan habis. Padahal mereka prioritaskan memberi keluarga mereka yang menjadi pengecer,” ungkap Mukhlis.

Direktur PT Bima Indah Gemilang Agus Rusmanto menjelaskan, untuk wilayah Lambu, HET elpiji bersubsidi berbeda dengan wilayah dalam perkotaan. “HET di Lambu dari agen ke pangkalan Rp 14.750 dan dari pangkalan ke masyarakat pengguna Rp 15.759,” jelasnya di hadapan warga.

Perwakilan Bagian Ekonomi Setda Bima Haerul Jaya Muslimah meminta warga agar melaporkan bila ada pangkalan yang menjual di atas HET. “Laporkan kepada kami disertai bukti kuat. Nanti kami rekomendasikan izin usaha pangkalan nakal dicabut,” tegasnya.

Gas elpiji subsidi ini diperuntukan bagi warga miskin dan pelaku UMKM. “Apabila ada warga yang tidak berhak masih menggunakan elpiji subsidi, saya minta beralih menggunakan elpiji nonsubsidi,” ujarnya.

Baca Juga :  Jenazah Pasien Korona Dijemput Paksa Pemkot Bima Tempuh Jalur Hukum

Camat Lambu M Sidik menilai ada mekanisme penyaluran yang salah. Begitu juga dengan tindak lanjut laporan dari masyarakat yang belum sepenuhnya direspon agen maupun pemerintah daerah.

Pemilik Pangkalan Bahtiar,mengaku membeli elpiji bersubsidi kepada agen dengan harga Rp 14.750 ribu per tabung. ’’Saya menjual ke warga seharga Rp 22 ribu per tabung,’’ sebutnya. Pengakuan Bahtiar ini menuai sorakan berisi sindiran dari warga yang masih memadati halaman kantor Desa Soro itu.

Pemilik Pangkalan asal Desa Malayu Sofiah membongkar praktik di luar aturan diduga dilakukan oknum sopir dan kernet agen penyalur. “Saya kasi sopir dan kernet Rp 1.250 per tabung. Saya juga memberi uang makan dan minum lagi Rp 20 ribu,” ungkap dia.

Dia membeberkan alasan menaikan harga jual gas elpiji kepada masyarakat. “Banyak pengeluaran kita yang tidak terduga,” aku Sofiah.

Dalam pertemuan itu disepakati pemilik pangkalan menjual gas elpiji bersubsidi dengan harga Rp 20 ribu per tabung. Setelah mendapat kesepakatan itu, puluhan akhirnya membubarkan diri. (man/r8)

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications    OK No thanks
/