alexametrics
Jumat, 14 Agustus 2020
Jumat, 14 Agustus 2020

Didatangi Belasan Petugas, Keluarga Pasien Merasa Terintimidasi

BIMA-Keluarga pasien reaktif rapid test asal Desa Boro Kecamatan Sanggar geram dengan tindakan petugas medis Puskemas setempat. Para petugas yang berjumlah belasan orang itu mendatangi rumah keluarga pasien tanpa pemberitahuan lebih awal.

Keluarga pasien sempat emosi karena tiba-tiba didatangi petugas. Bahkan mereka menilai tindakan petugas medis seolah-olah seperti menangkap penjahat. “Kami bukan tidak ingin dirapid test. Tapi, tidak begini caranya,” sesal Nurdin, orang tua AD, pasien reaktif rapid test.

Nurdin bersama istri dan dua anak kembarnya menjadi sasaran tracking contack petugas. Setelah salah satu dari anggota keluarga mereka, AD dinyatakan reaktif rapid test di RS Sondosia, Kamis (9/7) lalu.

AD menjalani rapid tes di RS Sondosia sebagai syarat bagi pelaku perjalanan. Karena saat itu AD ingin bepergian ke Makassar. Selasa (14/7), pasca AD dinyatakan reaktif rapid test, petugas Puskesmas Sanggar melakukan tracking contack.

Sebanyak 16 orang petugas dengan APD lengkap mendatangi rumah keluarga AD untuk dirapid test. Termasuk diantaranya, Babinsa, Bhabinkamtibmas, Kepala Desa Boro Zainal Arifin dan Kepala Puskesmas Sanggar.

Kadatangan petugas tersebut justru membuat pihak keluarga geram. Sebagai kepala keluarga, Nurdin menyayangkan tindakan petugas. Setidaknya dia berharap ada pemberitahuan awal dari petugas. Baik melalui surat atau via handphone.

“Orang yang melanggar hukum saja baru akan dijemput paksa setelah tidak mengindahkan tiga kali pemanggilan. Kita yang tidak tahu apa-apa, justru diperlakukan seperti penjahat,” protes Nurdin.

Tidak hanya itu, Nurdin juga menyesalkan tindakan petugas usai pengambilan sampel darah pada istri dan dua anak kembarnya. Apalagi usai pengambilan sampel darah tersebut, dua anaknya tampak lemas.

“Jangankan susu atau telur, air putih saja tidak diberikan. Dimana hati nurani mereka,” keluhnya.

Di sisi lain, dia juga mendapat kabar bahwa anaknya yang dikarantina tidak diperlakukan dengan baik. Tempat karantina yang seharusnya menyehatkan pasien, tapi jauh dari kata layak. WC tidak berfungsi, jendela ruangan tidak dipasangi gorden, hingga sabun cuci tangan pun tidak disiapkan.

“Yang jelas saya tidak tinggal diam dengan persoalan ini. Saya akan mengirimkan surat keberatan pada Kemenkes dan Komnas HAM,” tegas Nurdin.

Kondisi ruang karantina tersebut dikeluhkan AD. Mahasiswi di salah satu universitas di Makasar ini mengaku selama menjalani karantina merasa ketakutan.

“Dua hari pertama saya sendirian di ruangan. Mana jendelanya tidak punya gorden. Kalau tidur saya tutupi pakai sajadah,” tutur AD, via telpon, Jumat (17/7).

Dia tidak menampik dengan pelayanan petugas kesehatan di RS setempat. Terutama konsumsi, tetap rutin tiga kali sehari. Hanya saja, dia mengeluhkan WC dalam ruangan isolasi buntu. Begitupun pelengkapan mandi, seperti sabun untuk cuci tangan tidak disiapkan.  “Kalau mau buang air kita ke WC di luar ruangan. Kadang WC itu juga dipakai  keluarga pasien lain,” tutur AD.

Selama karantina dia mengaku sudah menjalani tes Swab dua kali. Pertama pada Kamis sore (9/7) dan kedua pada  Selasa (14/7). Namun, hasil dua kali Swab tersebut, hingga kini belum diketahui. “Saya baru seminggu di karantina. Ada juga yang lain sudah 11 hari, tapi hasil swabnya belum juga keluar,” sebutnya.

Sementara Kades Boro Zainal Arifin mengakui tidak ada pemberitahuan awal dari petugas saat mendatangi rumah keluarga Nurdin. Dia juga tidak menduga kejadiannya bakal seperti ini. “Tindakan ini berlaku secara umum. Karena biasanya, ketika ada salah satu dari pihak keluarga yang reaktif, maka keluarga yang kontak dengan pasien harus dirapid test,” jelas Zaina Arifin via HP, Jumat (17/7).

Zainal mengaku, ikut bersama petugas karena ditelpon bidan desa. Sempat terjadi penolakan dari Nurdin dengan kehadiran petugas. Apalagi bidan dan beberapa petugas puskesmas yang turun adalah mantan siswanya di SMAN 1 Sanggar. “Nurdin sampai menanyakan surat perintah pada petugas Puskesmas maupun Babinsa dan Babinkantibmas,” katanya.

Namun pada akhirnya kata dia, Nurdin bisa menerima kehadiran petugas, bahkan sempat kelakar. Kendati Nurdin sendiri menolak untuk dirapid test. “Alhamdulilah, hasil rapid test isteri dan dua anak kembarnya negatif,” pungkasnya. (jw/r8)

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Belajar Tatap Muka Harus Ada Izin Orang Tua Siswa

TALIWANG- Bupati Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) HW. Musyafirin menegaskan belajar tatap muka di sekolah di tengah covid-19 bisa saja digelar. Tetapi syaratnya harus ada izin atau persetujuan orang tua siswa.

Lima Daerah di NTB Alami Kekeringan Parah, Ini Daftarnya

Lima daerah di NTB mengalami kekeringan ekstrem dengan status awas. Yaitu Kabupaten Dompu, Bima, Sumbawa, Sumbawa Barat, dan Lombok Timur. ”Masyarakat  kami imbau mewaspadai dampak dari kekeringan,” kata Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Stasiun Klimatologi Lombok Barat Luhur Tri Uji Prayitno, kemarin (11/8).

Tertular Korona, Satu Anggota DPRD Lombok Timur Diisolasi

SELONG-Salah seorang anggota DPRD Lotim berinisial SM terpapar covid-19. “Ya, ada anggota kami yang dikonfirmasi positif,” kata Wakil Ketua DPRD Lotim H Badran Achsyid membenarkan informasi tersebut saat dihubungi Lombok Post, Selasa (11/8).

Soal Wifi Gratis Dewan Mataram : Pak Sekda Jangan Siap-Siap Saja!

Niat DPRD Kota Mataram untuk memasang wifi gratis di setiap lingkungan segera terealisasi. “Pak Sekda sudah bilang siap. Tapi saya bilang jangan siap-siap saja. Harus segera, karena anak-anak sangat butuh,” terang Sekretaris Komisi IV DPRD Kota Mataram Nyayu Ernawati.

Lale-Yusuf atau Pathul-Nursiah, Siapa Didukung Golkar di Loteng?

MATARAM-Tampilnya H Yusuf Saleh mendampingi Lale Prayatni atau Lale Sileng membuat dinamika politik di Lombok Tengah (Loteng) semakin dinamis. Tidak hanya untuk peta perebutan kursi Kepala Daerah tetapi untuk arah dukungan partai Golkar.

H Masrun : TGH Saleh Hambali Harus Jadi Pahlawan Nasional

PRAYA-Kiprah dan nama besar ulama NU TGH Saleh Hambali tercatat dalam sejarah. Tokoh ulama karismatik yang berkontribusi nyata dalam membangun pendidikan dan semangat kebangsaan di Lombok, NTB.

Paling Sering Dibaca

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Karyawan Swasta Gaji di Bawah 5 Juta Bakal Dapat Bansos Rp 600 Ribu

KONSUMSI masyarakat yang rendah membuat pemerintah memutar otak mencari solusi. Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Febrio Kacaribu menuturkan, pemerintah tengah memfinalisasi pemberian bansos bagi karyawan non PNS dan BUMN senilai Rp 600 ribu per bulan.

Penggali Kubur LNS di Mataram Sakit, Arwah Minta Organ Dikembalikan

Penyidik telah melakukan otopsi terhadap jenazah Linda Novita Sari (LNS) maha siswi unram yang diduga jadi korban pembunuhan. Bagian tubuh LNS diambil dokter forensik untuk proses pemeriksaan.

Berkarya Pecah, Baihaqi-Diyah Terancam

MATARAM-Dualisme kepengurusan di DPP Partai berkarya berimbas ke daerah. terutama bagi Paslon yang sebelumnya menerima SK dukungan dari kepengurusan Berkarya terdahulu. Salah satunya pasangan H Baihaqi-Hj Baiq Diyah Ratu Ganefi (Baru) di Pilwali Mataram.

Ayo, Pekerja NTB Setor Nomor Rekening Dapat Bantuan Rp 600 Per Bulan

Para pekerja yang merupakan karyawan swasta di NTB tak boleh ketinggalan. Bagian Sumber Daya Manusia (HRD) di setiap perusahaan di NTB diingatkan agar proaktif menyetorkan rekening karyawan untuk mendapatkan bantuan Rp 600 ribu per bulan dari pemerintah.
Enable Notifications.    Ok No thanks