Serangan balasan ini terjadi setelah eskalasi konflik pada 13 Juni lalu, saat Israel lebih dulu menghantam fasilitas di Iran.
Dari tayangan video yang dirilis Al Jazeera, tampak gedung-gedung di Tel Aviv rusak parah dihantam rudal Iran.
Termasuk Rumah Sakit Soroka di Beersheba, bagian selatan Israel, yang mengalami kerusakan berat. Iran serang Israel dengan total tujuh target di berbagai lokasi, termasuk markas militer dan kawasan sipil.
Menteri Kesehatan Israel melaporkan sedikitnya 50 orang luka-luka, empat di antaranya kritis. Meskipun sasaran utama adalah fasilitas militer seperti markas komando dan kamp intelijen di Gav-Yam Tech Park, namun rudal Iran juga mengenai rumah sakit yang berada di dekatnya.
Pengamat Israel, Ori Goldberg, menyebut bahwa penempatan markas militer di area sipil justru memicu kerugian sipil.Menurutnya Israel kerap menempatkan target militer di tengah lingkungan warga, ini memancing risiko tinggi.
“Penting untuk disebutkan bahwa ada instalasi dan markas yang sangat sensitif di dekat rumah sakit, karena Israel sengaja menempatkan markas militernya di tengah-tengah lingkungan sipil,” katanya.
Tak hanya dari dekat, Iran meluncurkan rudal balistik dari Esfahan, yang berjarak 1.600 km dari Israel. Rudal jarak jauh yang digunakan antara lain Emad, Ghadr, dan Sejjil-1, dengan jangkauan antara 1.700–2.000 km. Namun sorotan utama adalah pada rudal Sejjil, senjata baru yang disebut-sebut sebagai rudal Iran yang menembus Iron Dome.
Menurut laporan India Times, rudal Sejjil berbahan bakar padat itu memiliki kecepatan tinggi dan kemampuan manuver tinggi. Sistem pertahanan udara Israel, Iron Dome, kewalahan karena waktu reaksi yang sangat sempit.
“Ini menjadi titik balik. Rudal Sejjil memberi tekanan psikologis dan militer karena kecepatan serta manuvernya yang sulit dilacak radar,” tulis laporan itu.
Baca Juga: Rumah Sakit Diserang, Iran Tuding Israel Lakukan Kejahatan Perang
Sementara itu, data dari ABC Australia menyebut bahwa Iran adalah negara dengan stok rudal balistik terbesar di Timur Tengah, dengan lebih dari 3.000 rudal aktif. Rudal-rudal ini telah dikembangkan sejak dekade 1990-an dan kini jadi senjata strategis utama.
Jenderal Kenneth McKenzie dari Komando Pusat AS beberapa waktu lalu bahkan menyatakan bahwa rudal Iran menjadi ancaman serius, apalagi jika dikombinasikan dengan potensi pengembangan nuklir.
“Rudal Teheran, dikombinasikan dengan potensi nuklirnya, menimbulkan tantangan yang rumit untuk dicegah,” ujarnya.
Baca Juga: Ayatollah Khamenei, Imam Perlawanan: Ulama Tua Iran yang Tak Pernah Mundur dari Israel
Iran menyerang Israel dengan rudal bermanuver tinggi seperti Sejjil menjadi alarm baru dalam konflik Timur Tengah. Dengan Iron Dome yang semakin mudah ditembus, para analis menyebut Israel harus mencari sistem pertahanan yang lebih adaptif terhadap rudal generasi baru.
Editor : Redaksi Lombok Post