Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Empat Pekerja Migran Indonesia Jadi Korban Kebakaran Kompleks Apartemen di Hongkong

Lombok Post Online • Jumat, 28 November 2025 | 11:39 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi

LombokPost - Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) membenarkan adanya warga negara Indonesia (WNI) yang jadi korban dalam kebakaran besar di kompleks apartemen di Hongkong.

Kemenlu menyebut, ada dua WNI yang meninggal dunia.

Direktur Jenderal Informasi dan Media, Kemenlu Hartyo Harkomoyo mengungkapkan, informasi tersebut diperoleh dari hasil koordinasi intensif KJRI Hong Kong dengan Hong Kong Police Force (HKPF). Ada empat WNI yang menjadi korban dalam insiden tersebut.

“Diperoleh informasi hingga saat ini ada orang WNI dinyatakan meninggal dunia dan dia orang lainnya mengalami luka-luka,” tuturnya saat dikonfirmasi, di Jakarta Kamis (27/11).

Menurutnya, semua korban WNI tersebut merupakan Pekerja Migran Indonesia (PMI). Mereka bekerja sebagai PMI di sektor domestik.

KJRI Hong Kong disebutnya telah menghubungi pihak keluarga dari WNI terdampak guna menyampaikan keprihatinan dan belasungkawa yang mendalam.

KJRI juga sudah memberikan penjelasan informasi secara detail mengenai kondisi yang terjadi, termasuk soal langkah penanganan selanjutnya untuk para korban.

“KJRI juga terus berkoordinasi dengan otoritas setempat dan agen ketenagakerjaan setempat guna pengurusan repatriasi jenazah serta hak-hak terkait,” jelasnya.

Lebih lanjut, Yoyok, sapaannya, mengungkapkan, bahwa KJRI Hong Kong telah berkoordinasi dengan otoritas setempat serta pihak-pihak terkait lainnya untuk memantau perkembangan situasi yang ada. Termasuk, dalam memberikan pendampingan lanjutan kepada para WNI yang terdampak.

“Ini termasuk juga penyediaan tempat singgah sementara dan logistik pada gedung KJRI Hong Kong,” ungkapnya.

Saat ini, diperkirakan ada lebih dari 168 ribu WNI yang berada di Hong Kong. Mayoritas dari mereka merupakan PMI sektor domestik yang bekerja di rumah tangga.

Kronologi Kebakaran

Hingga pukul 17.00 WIB kemarin (27/11), kebakaran yang melalap tujuh bangunan kompleks apartemen Wang Fuk Court, Hongkong, telah menyebabkan 55 orang meninggal. Ratusan lainnya belum diketahui nasibnya.

Yuen, salah seorang lansia yang menghuni kompleks dengan total delapan bangunan itu, .  menyebut bahwa lingkungannya banyak dihuni warga senior. Sebagian menggunakan kursi roda atau alat bantu jalan.

Mengutip BBC, dari 4.600 penghuni kompleks tersebut, 40 persen di antaranya berusia di atas 65 tahun.

Yuen menduga, para tetangganya banyak yang tidak mendengar alarm kebakaran yang terjadi sejak Rabu sekitar pukul 14.00 waktu setempat itu.

Sebab, banyak rumah menutup jendela karena apartemen tersebut sedang dalam perbaikan.

"Saya menyaksikan api menyebar dari satu gedung menjadi tiga dan terakhir saya melihat ada empat gedung yang terbakar," kata penghuni lainnya, Veezy Chan, seperti dikutip dari The Guardian kemarin.

Bambu menjadi perancah kontruksi (scaffolding) dan angin yang sedang kencang mengantarkan bara dengan cepat. Akhirnya tujuh gedung terbakar.

Awalnya diumumkan ada 44 korban meninggal. Belakangan, Anadolu Agency menyebut  seorang petugas pemadam kebakaran menyatakan ada 55 orang meninggal. Satu di antaranya adalah petugas pemadam kebakaran.

Di antara 68 orang yang dibawa ke rumah sakit karena luka-luka, 16 orang dalam kondisi kritis. 25 orang perlu perawatan serius. Sebanyak 279 orang masih hilang dan tim pemadam kebakaran terus melanjutkan operasi pemadaman kebakaran. Sekitar 900 warga yang terkena dampak kebakaran telah berlindung di delapan fasilitas sementara.

Polisi telah menahan tiga orang, masing-masing dua manajer dan seorang insinyur konsultan, dari perusahaan konstruksi yang sedang melaksanakan renovasi di kompleks bersubsidi di Distrik Tai Po tersebut. Mereka dituding atas dugaan pembunuhan.

Menyebar Cepat

Pihak berwenang mengatakan perancah bambu yang didirikan untuk renovasi dan bahan plastik busa seperti styrofoam yang menutupi jendela membuat si jago merah menyebar dengan cepat.

"Kami punya alasan untuk meyakini bahwa individu yang bertanggung jawab di perusahaan tersebut sangat lalai, yang menyebabkan kebakaran menyebar dengan cepat dan mengakibatkan banyak korban jiwa," kata  Inspektur Senior Eileen Chung Lai-yee dari kepolisian setempat.

Menteri Keamanan Hong Kong Chris Tang mengatakan, penyelidikan awal menunjukkan api menyebar dengan cepat dan ini tidak biasa. Api menyebar saat mengenai bahan insulasi busa.

"Kami menemukan bahwa material yang menutupi dinding bangunan, jaring di sekitar perancah, dan terpal kedap air menyebabkan api menyebar jauh lebih cepat dibandingkan dengan material yang memenuhi standar keselamatan," ujarnya.

Untuk pertama kalinya dalam 17 tahun, Hong Kong mengeluarkan alarm kebakaran level 5. Ini adalah skala tertinggi di negara bekas jajahan Inggris tersebut.

Departemen Perhubungan mengumumkan bahwa jalan-jalan di daerah tersebut telah ditutup karena kebakaran. Termasuk enam sekolah yang sementara meliburkan para muridnya.

Kemarin pagi, petugas telah berhasil menjinakan api.

Meski demikian, di dalam gedung suhu masih tinggi. Upaya pemadaman dan pendinginan terus dilakukan. (mia/lyn/ttg/JPG/r3)

Editor : Kimda Farida
#kjri #kemenlu #PMI #hongkong #migran