LombokPost--Respons resmi Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) RI terkait serangan militer Amerika Serikat (AS) ke Venezuela menuai kritik tajam dari sejumlah tokoh, termasuk mantan Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal dan tokoh nasional Anies Rasyid Baswedan.
Keduanya menilai pernyataan Indonesia terlalu hati-hati dan tidak sejalan dengan prinsip politik bebas aktif.
Kritik Dino Patti Djalal: "Bebas Aktif Harus Berani Berpendirian"
Melalui akun X-nya (@dinopattidjalal), Dino Patti Djalal menyatakan keheranannya atas pernyataan Kemenlu yang dinilainya sangat standar dan tidak secara tegas menyebut Amerika Serikat.
"Sejak kapan kita sungkan/takut mengkritik kawan yang lakukan pelanggaran hukum internasional?" tulisnya.
Dino, yang juga mantan Duta Besar RI untuk AS, menegaskan bahwa politik bebas aktif seharusnya berarti berani berpendirian, bukan menjadi penurut.
Baca Juga: Top 5: Kebijakan Wali Kota Mataram yang Membuat PPPK Tenang, Lega, dan Gembira
Ia mengingatkan momen ketika Indonesia dulu menentang invasi AS ke Irak, dan menegaskan bahwa bermitra dengan negara mana pun tidak boleh mengorbankan hal-hal yang prinsipil.
Anies Baswedan Soroti Ancaman bagi Kedaulatan Global South
Sementara itu, Anies Baswedan dalam cuitannya menyebut serangan AS sebagai pelanggaran kedaulatan dan multilateralisme.
Ia memperingatkan bahwa aksi ini bisa menjadi preseden berbahaya yang membatasi kebebasan negara-negara Global South dalam mengelola sumber daya mereka sendiri.
Anies mendorong Indonesia untuk memimpin inisiatif di PBB guna memperkuat solidaritas negara berkembang dan mengembangkan diplomasi proaktif, termasuk dengan melibatkan jaringan aktor non-negara.
"Ini bukan sekadar respons moral, tapi strategi bertahan di dunia yang terfragmentasi," tulisnya.
Baca Juga: NTB Dikepung 578 Bencana Sepanjang 2025, Ternyata Bukan Gempa yang Paling Mematikan!
Respons Resmi Kemenlu dan Pertanyaan Publik
Sebagai perbandingan, pernyataan resmi Kemenlu RI di akun @Kemlu_RI lebih menyerukan dialog, menahan diri, dan kepatuhan pada hukum internasional tanpa menyebut pihak tertentu.
Beberapa akun netizen ikut mempertanyakan sikap ini, dengan kekhawatiran bahwa kehati-hatian berlebihan dapat menurunkan kredibilitas Indonesia sebagai pemain penting di Global South dan mempengaruhi daya diplomasi ke depan.
Perbedaan pendapat ini menyoroti tantangan diplomasi Indonesia di tengah dunia yang semakin multipolar, di mana tekanan untuk memilih sisi sering kali berbenturan dengan prinsip netralitas dan kepentingan nasional.
Editor : Kimda Farida