LombokPost - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump membantah laporan sejumlah media yang menyebut Kepala Staf Gabungan Dan Caine memperingatkan dia tentang risiko besar jika melancarkan operasi militer terhadap Iran. Trump juga membantah Caine menolak opsi serangan ke Teheran.
Sebelumnya, sejumlah media AS melaporkan bahwa Caine telah mengingatkan adanya berbagai risiko terkait rencana serangan terhadap Iran. Dalam hal ini, termasuk potensi keterlibatan AS dalam jangka panjang.
Namun, melalui akun Truth Social-nya, Trump menyebut bahwa laporan tersebut tidak benar.
“Jenderal Caine, seperti kita semua, tentu tidak ingin melihat perang. Tetapi, jika keputusan militer terhadap Iran diambil, menurutnya itu akan menjadi sesuatu yang mudah dimenangkan,” tulis Trump seperti dikutip dari AFP Selasa (24/2).
Trump juga menegaskan bahwa Caine tidak pernah menyatakan, penolakan terhadap serangan militer, termasuk opsi serangan terbatas. “Dia hanya tahu satu hal, bagaimana cara menang. Dan jika diperintahkan, dia akan memimpin di garis depan,” lanjutnya.
Harian The Washington Post melaporkan bahwa Caine menyampaikan kekhawatiran di Gedung Putih dan Pentagon mengenai kekurangan amunisi serta minimnya dukungan sekutu yang dapat meningkatkan risiko terhadap personel Amerika.
Sementara itu, The Wall Street Journal menyebut Caine dan sejumlah pejabat Pentagon lain mengingatkan, potensi jatuhnya korban dari pihak AS dan sekutu. Selain itu, ada risiko terkurasnya sistem pertahanan udara AS jika serangan terhadap Iran dilakukan.
Axios juga melaporkan bahwa Caine memperingatkan kemungkinan Amerika Serikat terseret dalam konflik berkepanjangan. Dalam laporan yang sama disebutkan bahwa utusan khusus Trump Steve Witkoff serta sang menantu Jared Kushner mendorong agar presiden menunda serangan dan memberi ruang bagi jalur diplomasi.
Trump menuduh berbagai media tersebut menulis laporan yang keliru dan disengaja. “Saya yang membuat keputusan. Saya lebih memilih kesepakatan daripada tidak, tetapi jika kita tidak mencapai kesepakatan, itu akan menjadi hari yang sangat buruk bagi negara itu dan, sangat disayangkan, bagi rakyatnya,” tuturnya.
Bakal Sulit Dikontrol
Mantan Ketua Komite Hubungan Luar Negeri dan Keamanan Nasional Seyyed Hussein Mousavian juga mengingatkan, jika AS menyerang Iran, konflik yang terjadi bakal sulit dikontrol. Kondisinya berbeda dibandingkan Perang 12 Hari tahun lalu.
“Bagi Iran, serangan AS-Israel berikutnya tak ubahnya ‘perang eksistensial’, tak akan lagi menahan diri dan bakal memicu konflik yang sulit dikontrol,” tulis Mousavian di Middle East Eye.
Juni lalu, Israel meluncurkan serangan militer ke Iran berdasarkan strategi “pemerintahan dari atas ke bawah jatuh, akar rumput naik”. Israel dan AS berasumsi bahwa dengan membunuh para pejabat politik, militer, keamanan, dan nuklir Iran, rakyat Negeri Para Mullah itu akan mendesak perubahan rezim dan tumpah ke jalanan.
Israel dan AS juga mengasumsikan bahwa jika mereka menyerang misil Iran, hal itu akan mencegah terjadinya serangan balik yang pada akhirnya membuka jalan terjadinya perubahan cepat. “Serangan Juni tahun lalu menewaskan sejumlah pejabat senior Iran, tetapi rakyat ternyata tetap mendukung pemerintah,” tulis Mousavian lagi.
Iran membalas dengan tembakan ratusan misil dan drone ke Israel, yang menyebabkan dampak signifikan.
AS kemudian memerintahkan penyerangan ke tiga fasilitas nuklir Iran yang tidak sampai menghancurkan, tetapi membuat progres nuklir Iran tertunda hingga beberapa tahun ke depan.
Gencatan sementara kemudian terjadi, yang terutama dimaksudkan untuk melindungi Israel dari serangan misil Iran berikutnya.
Pidato di Tengah Tekanan
Isu Iran diperkirakan menjadi salah satu fokus utama dalam pidato kenegaraan Trump di Gedung Capitol kemarin (24/2) waktu setempat (pagi ini WIB).
Berdasarkan laporan France 24, Trump akan menggunakan momentum tersebut untuk memaparkan rencananya terkait Iran, termasuk kemungkinan intervensi militer.
Pidato tersebut menjadi sorotan karena disampaikan di tengah menurunnya tingkat dukungan publik terhadap Trump serta meningkatnya kekhawatiran atas kondisi ekonomi domestik menjelang pemilu paro waktu November mendatang.
Selain Iran, Trump juga diperkirakan menyinggung putusan Mahkamah Agung yang membatalkan kebijakan tarif globalnya.
Dia disebut akan menguraikan langkah alternatif untuk memberlakukan kembali sebagian besar bea masuk.
Di bidang ekonomi, Trump juga disebut akan mengklaim keberhasilan melalui penguatan pasar saham, investasi sektor swasta, dan legislasi pemotongan pajak. Dia juga diperkirakan kembali menegaskan kebijakan perbatasan yang lebih ketat dan kampanye deportasi imigran ilegal.
Namun, pidato tersebut berpotensi diwarnai ketegangan politik.
Sejumlah anggota Partai Demokrat dilaporkan akan memboikot acara tersebut dan menggelar aksi tandingan di luar gedung parlemen. Tahun lalu, beberapa legislator Demokrat sempat melakukan interupsi sebelum akhirnya keluar dari ruang sidang.
“Ini adalah satu-satunya kesempatan presiden saat seluruh dunia memperhatikan apa yang akan dia katakan,” kata Ahli Strategi Partai Republik Amanda Makki. (lyn/ttg/JPG/r3)
Editor : Kimda Farida