Sebuah langkah nekat yang diprediksi bakal memicu kiamat ekonomi global dan membuat harga BBM melonjak tak terkendali dalam sekejap.
Kondisi di salah satu jalur maritim terpenting dunia itu kini berada di titik nadir. Dikutip dari laporan Al Jazeera dan Reuters, kapal-kapal yang melintasi selat tersebut mulai menerima transmisi radio VHF dari Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran dengan pesan yang mengerikan: "Tidak ada kapal yang diizinkan melewati Selat Hormuz".
Meskipun secara resmi Teheran belum mengumumkan penutupan total, situasi di lapangan sudah menunjukkan tanda-tanda kelumpuhan.
Setidaknya 150 kapal tanker raksasa, termasuk pengangkut minyak mentah dan gas alam cair (LNG), kini dilaporkan terhenti dan membuang sauh di perairan terbuka karena ketakutan akan risiko keamanan.
"Kapal-kapal kami akan tetap diam selama beberapa hari," ungkap seorang eksekutif perdagangan minyak kepada Reuters.
Beberapa negara, termasuk Yunani, bahkan telah mengeluarkan instruksi tegas agar kapal-kapal mereka menghindari jalur tersebut.
Mengapa Dunia Harus Khawatir?
Selat Hormuz bukan sekadar perairan biasa. Wilayah yang hanya memiliki lebar jalur pelayaran sekitar 3 kilometer ini merupakan jalur bagi 20 hingga 30 persen pasokan minyak dan gas dunia.
Data dari US Energy Information Administration (EIA) mencatat bahwa sekitar 20 juta barel minyak melintasi selat ini setiap harinya.
Jika jalur ini benar-benar terkunci, para analis memperingatkan bahwa harga minyak dunia bisa meroket hingga USD 100 per barel.
"Penutupan Selat Hormuz akan menghentikan seperlima perdagangan minyak global dalam semalam. Harga tidak hanya akan melonjak, tapi akan melompat drastis karena rasa takut," ujar Ali Vaez, direktur proyek Iran di International Crisis Group kepada Al Jazeera.
Dampak sistemik ini diprediksi akan merembet ke segala sektor, mulai dari kenaikan inflasi global hingga ancaman resesi bagi ekonomi-ekonomi yang rapuh hanya dalam hitungan minggu.
Saat ini, dunia hanya bisa menunggu dengan cemas apakah gertakan Iran ini akan benar-benar menjadi "tombol penghancur" bagi stabilitas ekonomi internasional.
Editor : Marthadi