Ketegangan mencapai titik didih setelah Amerika Serikat dan Israel meluncurkan gelombang serangan udara baru ke berbagai fasilitas minyak di Teheran sepanjang akhir pekan kemarin.
Dikutip dari laporan BBC dan Al Jazeera, harga minyak mentah jenis Brent melonjak drastis lebih dari 24 persen hingga menyentuh angka USD 114,74 per barel pada Senin pagi di Asia.
Ini adalah pertama kalinya harga "emas hitam" melampaui angka USD 100 sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022 silam.
Situasi semakin genting lantaran Iran secara efektif menutup Selat Hormuz—jalur nadi utama yang mengalirkan seperlima pasokan minyak dunia—sebagai bentuk balasan.
Akibatnya, stok energi global terancam lumpuh total. Para analis bahkan memperingatkan bahwa jika blokade ini terus berlanjut hingga akhir Maret, harga minyak bisa terbang hingga USD 150 atau bahkan USD 200 per barel.
Kepanikan pasar pun tak terbendung. Bursa saham di kawasan Asia-Pasifik bertumbangan; indeks Nikkei Jepang anjlok lebih dari 7 persen, sementara Kospi Korea Selatan terjun bebas hingga 8 persen, memaksa otoritas bursa menghentikan perdagangan sementara (circuit breaker) untuk meredam aksi jual panik.
Di tengah kekacauan ini, suksesi kepemimpinan di Iran menambah ketidakpastian.
Mojtaba Khamenei resmi ditunjuk menggantikan ayahnya, Ali Khamenei, sebagai pemimpin tertinggi Iran, sebuah sinyal kuat bahwa kelompok garis keras masih memegang kendali penuh di tengah bara konflik.
Menariknya, Presiden AS Donald Trump justru tampak santai menanggapi lonjakan harga ini.
Melalui unggahan di media sosial, Trump menyebut kenaikan harga minyak jangka pendek adalah "harga kecil yang harus dibayar" demi melenyapkan ancaman nuklir Iran.
"Hanya orang bodoh yang berpikir sebaliknya!" cetus Trump tegas.
Baca Juga: Jaksa Telusuri Peran Notaris Diduga Lakukan Transaksi Uang dengan Subhan
Namun bagi masyarakat dunia, ancaman nyata kenaikan harga BBM, tarif listrik, hingga harga pupuk dan tiket pesawat kini sudah di depan mata.
Apakah dunia siap menghadapi gelombang inflasi baru yang jauh lebih menyakitkan? Kita tunggu saja babak selanjutnya dari drama berdarah di Timur Tengah ini.
Editor : Marthadi