LombokPost--Ketegangan perang di Timur Tengah semakin memanas setelah Iran memperingatkan dunia agar bersiap menghadapi lonjakan harga minyak hingga 200 dolar per barel.
Ancaman itu muncul di tengah serangan terhadap kapal dagang di perairan Teluk dan kekhawatiran gangguan besar terhadap pasokan energi global.
Juru bicara militer Iran, Ebrahim Zolfaqari, mengatakan harga minyak sangat bergantung pada stabilitas keamanan kawasan yang saat ini terguncang akibat konflik.
“Bersiaplah menghadapi harga minyak 200 dolar per barel, karena harga minyak bergantung pada keamanan kawasan yang telah kalian destabilkan,” ujarnya.
Pada Rabu (11/3), sedikitnya tiga kapal dagang dilaporkan terkena serangan di perairan Teluk.
Pasukan Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) mengklaim telah menembaki kapal yang dianggap tidak mematuhi peringatan militer Iran.
Salah satu kapal kargo berbendera Thailand dilaporkan terbakar hebat sehingga awak kapal harus dievakuasi. Tiga orang dilaporkan hilang dan diduga terjebak di ruang mesin.
Dua kapal lainnya, yakni kapal kontainer berbendera Jepang dan kapal kargo berbendera Kepulauan Marshall, juga mengalami kerusakan akibat proyektil.
Sejak perang dimulai, setidaknya 14 kapal dagang telah menjadi sasaran serangan.
Konflik ini dipicu oleh serangan udara gabungan yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel hampir dua pekan lalu.
Sejauh ini, sekitar 2.000 orang dilaporkan tewas, sebagian besar berasal dari Iran dan Lebanon.
Meski mendapat serangan udara besar-besaran dari Pentagon, Iran masih mampu melancarkan serangan balasan ke Israel dan berbagai target di Timur Tengah.
Baca Juga: Dokter Jack Wafat, Wartawan NTB Kenang Sosoknya yang Humble dan Terbuka
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan militer AS telah menghancurkan sebagian besar kekuatan laut Iran.
Menurut Trump, pasukan AS telah menenggelamkan 58 kapal angkatan laut Iran dan melemahkan sistem pertahanan negara tersebut.
“Mereka hampir tidak memiliki angkatan laut, tidak punya angkatan udara, dan tidak punya sistem pertahanan lagi. Kami bebas beroperasi di atas negara itu,” kata Trump dalam pidatonya di Kentucky.
Meski begitu, Trump belum memastikan kapan operasi militer akan dihentikan.
“Kami tidak ingin pergi terlalu cepat. Kami harus menyelesaikan pekerjaan ini,” ujarnya.
Konflik juga membuat jalur energi global di Selat Hormuz semakin berbahaya.
Selat ini merupakan jalur strategis yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia.
Trump mengatakan kapal-kapal seharusnya dapat melintas di wilayah tersebut.
Namun laporan keamanan menyebut Iran telah menanam sekitar selusin ranjau laut, sehingga pelayaran tetap berisiko tinggi.
Militer Iran bahkan menegaskan Selat Hormuz masih berada di bawah kendali mereka.
Situasi ini membuat negara-negara G7 mempertimbangkan opsi pengawalan kapal dagang agar dapat berlayar dengan aman di Teluk.
Sementara itu, International Energy Agency (IEA) merekomendasikan pelepasan 400 juta barel minyak dari cadangan strategis global untuk menstabilkan harga energi dunia.
Langkah tersebut menjadi intervensi terbesar dalam sejarah pasar minyak.
Pemerintah AS langsung menyetujuinya. Menteri Energi Amerika Chris Wright mengatakan Washington akan melepas 172 juta barel minyak dari cadangan strategis mulai pekan depan.
Namun para analis menilai jumlah tersebut hanya sebagian kecil dari pasokan minyak yang biasanya melewati Selat Hormuz.
Ketegangan juga meningkat setelah militer AS memperingatkan warga Iran agar menjauhi pelabuhan yang memiliki fasilitas angkatan laut.
Sebagai balasan, militer Iran memperingatkan bahwa pusat ekonomi dan perdagangan di kawasan dapat menjadi target sah jika pelabuhan mereka diserang.
Bahkan, Departemen Luar Negeri AS memperingatkan bahwa milisi yang didukung Iran berpotensi menargetkan infrastruktur energi milik Amerika di Irak.
Putra Khamenei Dilaporkan Terluka
Di Iran, ribuan warga turun ke jalan menghadiri pemakaman para komandan militer yang tewas akibat serangan udara.
Baca Juga: Status Gunung Tambora Naik Jadi Waspada, Masyarakat Diminta Tidak Masuk Radius 3 Km
Mereka membawa foto Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei yang dilaporkan tewas dalam serangan sebelumnya.
Seorang pejabat Iran mengatakan kepada Reuters bahwa putra sekaligus penerusnya, Mojtaba Khamenei, mengalami luka ringan pada awal perang ketika serangan udara menewaskan ayahnya bersama beberapa anggota keluarga.
Hingga kini Mojtaba belum muncul di publik sejak konflik dimulai.
Editor : Kimda Farida