LombokPost - Sejak USS Franklin kena tembak pada 1945 di tengah Perang Dunia II, belum ada kapal induk Amerika Serikat yang mengalami nasib serupa. Sampai kemudian drone dan rudal Iran mengenai USS Abraham Lincoln.
Teheran mengklaim, seperti dikutip dari CBS News, serangan mereka pada Kamis (12/3) lalu itu merusak lumayan parah kapal induk seharga USD 13 miliar tersebut.
Negeri yang dulu bernama Persia itu, yang diketahui sudah mengembangkan misil antikapal sejak 20 tahun silam, juga menyebut USS Abraham Lincoln telah menjauh dari titik konflik di Timur Tengah untuk kembali ke Amerika Serikat.
Sampai berita ini selesai ditulis kemarin pukul 17.00 WIB, Pentagon tidak membantah atau membenarkan kabar tersebut.
Jika benar, itu jadi pukulan beruntun AS setelah di hari yang sama juga kehilangan salah satu pesawat pengisi bahan bakar, KC-135, yang jatuh di kawasan barat Iraq.
Pesawat ini semacam “SPBU Udara.” Tugasnya sangat krusial: mengisikan bahan bakar ke jet tempur. Kehilangan satu pesawat jenis ini bakal mengacaukan pola operasi militer.
Pusat Komando AS (CENTCOM), seperti dikutip The Guardian, membantah KC-135 tersebut jatuh akibat tembakan.
Sebab, kejadiannya berlangsung di friendly zone alias zona bebas konflik. Penyebab jatuh disebut karena ada kecelakaan dengan pesawat lain.
Saat kejadian ada satu pesawat sejenis lain yang kemudian bisa mendarat dengan selamat.
Tapi, ada pula kabar yang menyebut jatuh karena adanya tabrakan. Ada lima kru di dalam pesawat yang jatuh, tapi belum bisa dikonfirmasi nasib mereka.
Pukulan lainnya bagi AS adalah kian kecewanya negara-negara di kawasan Teluk Persia terhadap AS.
Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Kuwait, dan Qatar dilaporkan telah menarik investasi sebesar USD 7 triliun dari Negeri Paman Sam itu.
Selain itu, ancaman serangan Iran terhadap bank-bank di kawasan Teluk yang terafiliasi dengan AS dan Israel membuat bank-bank tersebut keder.
Citibank jadi bank kedua yang akan meninggalkan UEA. Sebelumnya, Standard Chartered juga telah lebih dulu hengkang.
Selain besarnya biaya perang, hantaman demi hantaman itu juga yang kemungkinan membuat AS mengajak gencatan senjata.
Steve Witkoff, utusan khusus Presiden Donald Trump, ujar, sebuah sumber kepada The Guardian, telah dua kali menawarkan proposal itu kepada Iran lewat bantuan negara ketiga.
Tapi, Iran menolaknya.
“Kami jelas tidak sedang menginginkan gencatan senjata. Biar musuh tahu, apapun yang mereka lakukan akan membawa konsekuensi pembalasan segera. Mata untuk mata, gigi untuk gigi, tanpa kompromi dan pengecualian,” kata Ketua Parlemen Iran Mohammad Ghalibaf.
Menurut Iran Observer, Iran punya stok 100 ribu drone dan 10 ribu misil, serta mampu memproduksi sekitar 400 drone tiap harinya.
Sejumlah analis menyebut, penolakan Iran terhadap gencatan juga karena menilainya hanya akal-akalan AS dan Israel untuk reload atau mengisi ulang amunisi mereka.
Perang tahun ini dan tahun lalu juga dipicu serangan saat Iran tengah bernegosiasi di meja perundingan.
Dalam kesempatan terpisah, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyebut, kalau mau gencatan ada tiga syarat yang harus dipenuhi AS.
Pertama, akui hak sah Iran. Kedua, bayar kompensasi kerusakan akibat serangan mereka bersama Israel. Dan terakhir, jaminan pasti di masa depan tak akan ada serangan serupa lagi.
Terus Bertarung
Dalam pidato pertamanya sebagai Pemimpin Tertinggi yang dibacakan lewat televisi, Ayatollah Mojtaba Khamenei juga menyerukan kalau negaranya akan terus bertarung.
“Kami bakal menuntut kompensasi dari AS atas serangan yang mereka lakukan. Kalau mereka menolak, Iran akan menghancurkan aset mereka yang nilainya sebesar utang mereka kepada kami,” katanya, seperti dikutip Middle East Monitor.
Mojtaba juga memerintahkan Selat Hormuz tetap ditutup. Iran telah menyerang 16 kapal yang nekat melintasi selat penghubung Teluk Persia dengan Laut Arabia itu sejak mereka diserang AS dan Israel pada 28 Februari.
Kepada 15 negara tetangganya di kawasan Teluk, Mojtaba mendesak mereka menutup pangkalan militer AS yang dijadikan basis penyerangan ke Iran.
“Kami telah menyerang pangkalan-pangkalan militer AS dan akan tetap melanjutkannya jika pangkalan-pangkalan tersebut masih aktif,” katanya.
Mojtaba juga mengakui, dia kehilangan ayah, ibu, istri, adik, keponakan, dan saudara ipar akibat serangan Israel.
Anak Ayatollah Ali Khamenei itu dikabarkan juga terluka. Mungkin karena itu pula, dia tidak tampil live menyampaikan pidatonya.
Di hari yang sama, Kamis (12/3), Perdana Menteri Netanyahu juga tampil dalam konferensi pers di Tel Aviv.
Dia mengklaim, Israel “menjadi lebih kuat dari sebelumnya.”
Tak beda dengan Trump, Netanyahu juga mengklaim, Iran mengalami pukulan berat setelah berperang dua pekan.
“Kami berhasil menewaskan pakar nuklir Iran dan menyebabkan pasukan Korps Garda Revolusi Islam serta Basij mengalami pukulan berat. Iran tidak sama lagi seperti sebelumnya,” katanya, seperti dilansir Al Jazeera. (ttg/JPG/r3)
Editor : Kimda Farida