LombokPost - Dampak penutupan jalur energi di Timur Tengah kini benar-benar dirasakan dunia internasional.
Australia dilaporkan tengah berada di ambang krisis energi nasional setelah lebih dari 500 Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di berbagai penjuru negeri kehabisan stok BBM.
Kabar yang viral di platform X (Twitter) melalui akun Times of Iran News ini memicu kepanikan luar biasa (panic buying) di kalangan warga Australia, dengan antrean kendaraan yang dilaporkan mengular hingga bermil-mil.
Rantai Pasok Global Terputus
Kelangkaan ini merupakan "serangan balik" dari terganggunya jalur distribusi minyak mentah dunia akibat konflik terbuka antara Amerika Serikat dan Iran.
Netizen global menyoroti betapa rapuhnya sistem ekonomi dunia saat ini.
"Lebih dari 500 stasiun kehabisan stok bukan hal yang acak. Rantai pasok global sedang merasakan tekanan dari perang ini. Mereka menyalahkan Iran, tapi lupa bagaimana sanksi dan keputusan perang mengganggu seluruh pasar energi," tulis akun @hismylolo dalam komentarnya yang viral.
Ekonomi Australia Terancam Lumpuh
Krisis ini bukan sekadar masalah mobil yang mogok di jalan. Akun @_jnr_alfa menggambarkan situasi di Australia sebagai "nasional krisis" yang mengancam urat nadi kehidupan.
Kelangkaan BBM mulai berdampak pada truk-truk logistik yang tidak bisa mengirim bahan pangan, hingga risiko pembatalan penerbangan massal.
"Ketika sebuah negara kehabisan bahan bakar, itu tidak hanya menghentikan mobil, tapi menghentikan ekonomi dan ritme harian kehidupan. Satu titik sumbat di rantai pasok global, dan tiba-tiba seluruh bangsa berjalan di atas asap," tulisnya menggambarkan situasi mencekam di jalanan Australia.
Baca Juga: Pemerintah Bangladesh Tutup Semua Universitas, Malaysia-Filipina Siapkan Mitigasi Krisis Energi
Peringatan bagi Indonesia
Kondisi di Australia menjadi peringatan keras bagi ketahanan energi di tanah air. Sebagai negara tetangga terdekat, gejolak di Australia dapat memberikan efek psikologis dan ekonomi bagi Indonesia yang juga sangat bergantung pada impor energi.
Potensi Kenaikan Harga Logistik: Jika krisis energi global berlanjut, biaya pengapalan barang dari luar negeri dipastikan akan meroket.
Pentingnya Efisiensi: Langkah efisiensi BBM yang baru saja diinstruksikan oleh Presiden Prabowo kepada jajaran Kemhan dan TNI menjadi semakin relevan untuk menjaga cadangan energi nasional agar tidak mengalami nasib serupa dengan Australia.
Waspada Hoaks dan Panic Buying: Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan tidak terpengaruh isu kelangkaan lokal yang belum terverifikasi, guna menghindari penumpukan yang tidak perlu di SPBU-SPBU setempat.
Saat ini, Pemerintah Australia dilaporkan tengah berupaya mencairkan cadangan energi strategis mereka, namun publik tetap skeptis mengingat ketidakpastian di Timur Tengah yang belum menunjukkan tanda-tanda deeskalasi.
Editor : Kimda Farida