Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Dua Kapal Pertamina Belum Bisa Melewati Selat Hormuz, Krisis Energi Terancam Kian Parah

Lombok Post Online • Senin, 30 Maret 2026 | 11:21 WIB

Peta Selat Hormuz
Peta Selat Hormuz

LombokPost - SELAT Hormuz ditutup saja dunia langsung panas dingin akibat krisis energi. Apalagi jika ditambah pemblokadean Selat Bab al Mandab.

Selat Hormuz yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab dilalui sekitar 20 persen lalu lintas distribusi minyak dan gas dunia.

Tambahkan itu dengan 12 persen jalur pengangkutan yang melintasi Selat Bab al Mandab yang mengoneksikan Laut Merah dengan Teluk Aden dan Samudera Hindia.

Penutupan atau bokade di Bab Al Mandab itu kemungkinan besar terjadi setelah Houthi, kelompok yang terafiliasi dengan Iran di Yaman, turun gunung untuk ikut menyerang Israel.

Israel dan Amerika Serikat telah sejak 28 Februari lalu menyerang Iran tanpa alasan jelas.

Mengutip dari Al Jazeera kemarin (29/3), Kelompok Houthi yang menguasai sebagian besar wilayah utara Yaman meluncurkan dua serangan rudal dan drone ke arah Israel Sabtu (28/3).

Juru Bicara Militer Houthi Yahya Saree menyatakan, akan ada lebih banyak gempuran susulan.

Bab al Mandab memisahkan Yaman yang berada di ujung Semenanjung Arab dengan Djibouti dan Eritrea yang berada di bagian tanduk Benua Afrika. Sebelum Iran diserang, Houthi sudah beberapa kali menyerang Israel sebagai bentuk solidaritas kepada Gaza.

Houthi telah menunjukkan kemampuan mereka untuk menyerang target yang jauh di luar Yaman. Juga, mengganggu jalur pelayaran di sekitar Semenanjung Arab dan Laut Merah.

 Baca Juga: Krisis Energi Mengintai! Saudi Aramco Pangkas Pasokan Minyak ke Asia, Efek Penutupan Selat Hormuz Bikin Dunia Tegang

Senjata Andalan

Melaporkan dari ibu kota Yaman, Sanaa, Yousef Mawry dari Al Jazeera menyebut Bab al Mandab sebagai kartu as atau senjata andalan Houthi, kelompok yang juga memerangi rezim yang berkuasa di Yaman.

“Mereka ingin membuat Israel membayar secara ekonomi. Mereka ingin mengganggu rute perdagangan serta aktivitas impor dan ekspor Israel,” ujarnya.

Sementara itu, di Selat Hormuz, Menteri Luar Negeri Pakistan Ishaq Dar menyebut kalau Iran telah mengizinkan tambahan 20 kapal Pakistan untuk melintas.

Dengan izin transit dua hari.

Indonesia juga tengah mengusahakan hal serupa bagi dua kapal Pertamina yang belum bisa melewati Selat Hormuz: Pertamina Pride dan Gamsunoro.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Vahd Nabyl Achmad Mulachela mengungkapkan, ada pertimbangan positif dari Pemerintah Iran atas keamanan perlintasan dua kapal tersebut.

Perkembangan itu diperoleh berdasarkan koordinasi Kemenlu dan KBRI Teheran dengan pihak Pertamina. 

“Diperlukan kesiapan teknis oleh pihak Pertamina, termasuk perlindungan asuransi dan kesiapan kru kapal, sebelum ditindaklanjutinya tanggapan positif dari Pemerintah Iran tersebut,” ujarnya. (mia/ttg/JPG/r3)

Editor : Kimda Farida
#selat hormuz #kapal #menteri #pertamina #luar negeri