alexametrics
Kamis, 11 Agustus 2022
Kamis, 11 Agustus 2022

Transaki Non-Tunai di NTB Terus Meningkat

PRAYA-Penggunaan uang eletronik semakin populer dengan adanya Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS). Itu terlihat dari meningkatnya jumlah akun dan nominal transaksi uang yang tercatat oleh Bank Indonesia NTB. Yakni mencapai jumlah Rp 40 miliar secara year to date.

”Hingga Mei 2020, jumlah akun uang elektonik bertambah 18,39 persen atau sejumlah 188.672 pengguna. Begitu pun dengan jumlah penjual (merchant) meningkat hingga 85,88 persen atau 46.523 penyedia,” kata Kepala Tim Sistem Pembayaran dan Pengelolaan Uang Rupiah (SP PUR) BI NTB Iwan Kurniawan, Sabtu (1/8/2020).

Pada transaksi menggunakan kartu ATM/debit dan kredit berjumlah 2.568.000 kartu. Peningkatan 3,26 persen dari Desember 2019 lalu.

Baca Juga :  Pengguna QRIS Makin Banyak, Sudah Lampaui Target 2021

Perkembangan ini, menjadi indikator agar masyarakat bisa meningkatkan pola konsumsinya. Mengingat, total outflow semester I tahun 2020 hanya Rp 4,29 triliun. Atau turun 26,50 persen dibanding tahun lalu.

”Karena masyarakat menahan pengeluaran selama pandemi berlangsung. Sehingga berimbas pada penurunan outflow akibat penurunan intensitas penarikan perbankan ke BI,” jelasnya.

Jika masyarakat terus menerus berhenti mengonsumsi, berimbas pada sektor usaha yang tak bisa berproduksi. Karena tidak ada pasar dan produk tidak terserap. Jumlah pengangguran pun bertambah. Untuk itu uang elektronik dianggap menjadi solusi transaksi bagi dunia industri.

Namun, sosialisasi penggunaan QRIS harus lebih digencarkan ke SDM merchant. Khususnya kasir yang bertugas. Karena sebagian besar dari mereka belum siap beradaptasi. Padahal, kata dia, transaksi nontunai melalui QRIS ini sejalan dengan protokol Covid-19. Yakni mengurangi interaksi antara penjual dan pembeli.

Baca Juga :  Penanaman dan Survei Serentak The BEST of Lombok Tahap I

”Merchant sudah banyak, tapi kasirnya belum siap. Itulah pentingnya sosialisasi lebih dan pelatihan terhadap SDM dari merchant yang bersangkutan,” katanya.

Upaya ini mampu menekan penggunaan uang tunai. Serta potensi penyebaran uang palsu. Hingga kini pihaknya menerima 744 lembar uang palsu selama Januari hingga Maret.

”Perbankan dapat laporan dari masyarakat. kemudian meminta klarifikasi ke BI. Sejauh ini perbankan sudah efektif melakukan filtering terhadap uang yang diragukan keasliannya,” imbuhnya. (eka/r9)

 

 

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications    OK No thanks
/