alexametrics
Sabtu, 28 Mei 2022
Sabtu, 28 Mei 2022

Dihantam Korona, Ekonomi NTB Diprediksi Masih Aman

MATARAM-Pengamat Ekonomi Supiandi menilai ekonomi NTB masih aman. ”Untuk Provinsi NTB saya memprediksi ekonominya pasti mengalami perlambatan, tapi tidak sampai minus. Hal ini didasari oleh fundamental ekonomi dan mesin ekonomi NTB yang masih berjalan aman,” katanya pada Lombok Post, kemarin (4/5/2020).

 

Ada beberapa roda penggerak ekonomi NTB yang masih berjalan hingga saat ini. Sektor Pertanian, menyumbang 23,02 persen terhadap total PDRB, dan mayoritas tenaga kerja NTB bekerja di sektor ini. ”Sektor ini juga yang membuat NTB memiliki daya tahan cukup bagus, kita punya stok pangan yang cukup,” ujarnya.

 

Bahkan April-Mei petani padi di NTB panen raya. Hal ini juga yang memicu menurunnya harga beras akhir-akhir ini. Bulan Februari-Maret harga beras per kilogram rata-rata Rp 11-12 ribu. Bulan ini angkanya menurun menjadi Rp 8-10 ribu. Secara logika ekonomi, semakin banyak jumlah yang tersedia dan permintaan tetap atau naik maka harganya akan menurun. ”Covid-19 tidak menyebabkan lonjakan permintaan terhadap beras, karena meskipun WFH konsumsi nasi juga tetap sama,” jelasnya.

 

Selanjutnya sektor perdagangan, sektor ini menyumbang 14,07 persen terhadap PDRB. Sektor ini masih tetap bertahan meskipun terjadi penurunan. Bahkan jika melihat tren konsumsi bisa mengalami peningkatan saat Ramadan. ”Hanya polanya saja yang berubah sedikit, yang awalnya transaksi terjadi langsung di pasar sekarang sudah mulai bergeser ke online,” tuturnya.

Baca Juga :  Mitsubishi FE SHD-X Gagah dan Cocok untuk Bisnis

 

Nomor tiga, sektor konstruksi menyumbang 11,13 persen terhadap PDRB. Pembangunan infrastruktur masih tetap berjalan. Tukang bangunan, tukang batu atau pasir masih bisa bekerja dan menerima pendapatan. Permintaan terhadap bahan bangunan seperti batu, bata, pasir masih tetap tinggi. Proyek rehab-rekon, pembangunan perumahan subsidi atau komersil masih ada. Proyek fisik yang berasal dari anggaran pemerintah juga masih berjalan. ”Lalu sektor pertambangan juga masih hidup, sektor ini menyerap tenaga kerja yang cukup banyak di Pulau Sumbawa,” ujarnya.

 

Sedangkan sektor yang paling terpukul dari Covid-19 ini adalah sektor jasa dan ekonomi kreatif. Salah satu contohnya sektor pariwisata. Sektor pariwisata mengalami penurunan yang tajam. Banyak pegawai yang dirumahkan lantaran hotel tidak mampu membayar gaji dan lainnya. ”Tapi, jika dihitung secara menyeluruh kontribusi sektor ini belum mendominasi perekonomian NTB,” jelasnya.

 

Bagiamana dengan pelaku ekonomi kreatif dan jasa lainnya? Sektor ini juga mengalami pukulan telak, tapi SDM yang bekerja di sektor ekonomi kreatif adalah SDM yang siap dan cepat beradaptasi dengan lingkungan. ”Banyak dari mereka menjadikan Covid-19 sebagai tantangan dan peluang baru untuk membuka bisnis baru,” tambahnya.

Baca Juga :  Penghasilan Merosot 90 Persen, Pengusaha Angkutan Ramai-ramai Ajukan Relaksasi Kredit

 

Sejak Covid-19 hadir di NTB, bisnis digital tumbuh bagaikan jamur pada musim penghujan. Itu digerakkan oleh sektor ekonomi kreatif. Sebelumnya mereka bergerak lepas sesuai mekanisme pasar. ”Sekarang beberapa dari mereka menggandeng pemerintah untuk menjadi mitra,” tambahnya.

 

Selain itu, ketahanan ekonomi ini ditambah dengan adanya program dari pemerintah pusat, provinsi, kabupaten/kota hingga desa. Ini juga menjadi stimulus roda perekonomian, meskipun secara jumlah dan skala tidak terlalu besar. Bahkan, jika stimulus ini dibagikan setengah saja dari nominal yang ada, ekonomi NTB masih tetap normal. ”Tidak bosan-bosan kami mengingatkan bahwa masalah utama yang kita hadapi di NTB ini adalah Pandemi Covid-19, semakin cepat kita menangani wabah ini semakin cepat ekonomi akan pulih,” terangnya.

 

Menurutnya masyarakat NTB sudah terbiasa mengalami kesusahan ekonomi, karena sudah terbiasa mereka sudah tahu jalan keluarnya sendiri. Bahkan jika negara tidak hadir sekalipun mereka akan tetap berjuang. Sedangkan menghadapi pandemi masyarakat NTB galau, masih buta, butuh bimbingan. ”Selain mendatangkan dampak negatif, Covid-19 juga mendatangkan manfaat positif. Banyak bisnis yang bertumbangan, namun ada juga bisnis yang semakin kokoh,” ujarnya. (nur/r9)

 

 

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications    OK No thanks
/