alexametrics
Jumat, 10 Juli 2020
Jumat, 10 Juli 2020

Pengusaha di Tiga Gili Keluhkan Biaya Rapid Test untuk Pekerja

TANJUNG– Kebijakan pemkab yang menyerahkan biaya rapid test pada pengusaha menjadi dilema. Saat ini pengusaha dihadapkan pada ekonomi yang belum pulih.

Ketua Gili Hotel Association (GHA), Lalu Kusnawan mengaku masih belum paham dengan protokoler penanganan Covid-19 untuk menyambut new normal. Beberapa keluhan anggota GHA yang diterimanya, rata-rata mempersoalkan pengenaan biaya rapid test karyawan yang akan dipekerjakan kembali.

Padahal menurut dia, kesepakatan tahap awal new normal yakni memasukkan karyawan untuk membenahi properti. Faktanya, tidak semua pengusaha memiliki anggaran untuk biaya tes. ”Menjadi problem sekarang ini, kita mau melakukan percepatan pemulihan untuk pariwisata, tentunya akses untuk karyawan itu dikasih masuk dong, biar jelas,”  jelas dia

Ia mengungkapkan, pada rapat 27 April lalu muncul arahan agar karyawan dapat ditarik sesegera mungkin. Syahbandar bahkan siap menyediakan tempat untuk dibangunnya Posko Covid.

Hanya saja, sampai awal Juni posko itu tidak tersedia. Pengusaha lantas kesulitan memasukkan kembali karyawannya, karena adanya syarat hasil rapid test non reaktif.

”Sekarang ini terjadi miskomunikasi yang banyak sekali,” kata dia.

”Ketika kita cari surat keterangan sehat di Puskesmas Pemenang tidak dilayani, di suruh ke rumah sakit Tanjung. Terus di RSUD Tanjung kena biaya ratusan ribu untuk diambil tes darah,” bebernya.

Permintaan pengusaha agar biaya rapid test ditanggung Pemkab Lombok Utara tak bisa terpenuhi. Pemkab hanya mampu menanggung rapid test untuk warga asli KLU di dalam tiga gili.

Kepala Dinas Kesehatan Lombok Utara, H Lalu Bahrudin mengatakan biaya  rapid test karyawan memang harus menjadi beban pemilik usaha. ”Ini kan untuk kepentingan mereka,” jelas dia, kemarin (4/6/2020).

”Jika semuanya dilimpahkan ke daerah, bisa bangkrut kita,” sambungnya.

Kalaupun nantinya ada permintaan subsidi, harus menunggu kebijakan daerah. (fer/r9)

 

 

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Mataram Bisa Tiru Depok, Tak Pakai Masker Denda Rp 200 Ribu

Pemkot Mataram merespons kritikan Wakil Gubernur NTB. Kemarin, tim gabungan yang terdiri dari Satpol PP, TNI, dan Polri melakukan penertiban di pagi buta. Sasarannya, para pedagang di Pasar Kebon Roek, Ampenan.

Kuliah ke Luar Daerah, Warga Mataram Harus Bebas Korona

Warga Kota Mataram yang kuliah di luar daerah cukup banyak. Kemarin kata dia, sekitar 50 mahasiswa mengajukan permintaan melakukan rapid test. Dari jumlah tersebut tidak ada yang hasilnya reaktif.

12 Karyawan Bank di Cilinaya Mataram Positif Korona

Di Kelurahan Cilinaya misalnya. Di sini tercatat ada 12 karyawan salah satu bank terpapar virus Korona. “Sebenarnya hanya satu. Namun setelah kita tracing, menjadi 12 orang yang positif,” kata Lurah Cilinaya I Gusti Agung Nugrahini, Kamis (9/7)

Di Kediri Lobar, Ibu Rumah Tangga Diduga Jual Narkoba

WM, 28 tahun, warga asal Kediri Selatan ditangkap Satres Narkoba Polres Lobar. Ia bersama kedua rekannya MA dan MU diduga menjadi penjual dan penyalahguna narkotika jenis sabu. Bahkan, WM alias Dewi ini diketahui sebagai penjual obat penenang tanpa izin pihak instansi kesehatan.

Pariwisata Lesu, Pengusaha Travel Lombok Bertahan lewat Promo

Agen travel perjalanan wisata terus berupaya bertahan dalam ketidakpastian Pandemi Korona. Sektor ini menjadi salah satu yang paling terdampak akibat turunnya kunjungan wisatawan. ”Kami upayakan tetap bangkit seiring dengan penerapan new normal yang sedang digaungkan,” kata Kukuh Laro, pemilik Duta Lombok Transport.

Berdayakan UMKM Lokal, Bappeda NTB Tunggu Pergub

Pergub Pemberdayaan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) hingga kini belum rampung. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) NTB masih menunggu kelanjutan masukan dan revisi dari gubernur. ”Sampai hari ini (kemarin,Red) kita belum terima. Jika sudah ada, akan langsung kita jadikan landasan dalam memberdayakan UKM/IKM,” kata Kepala Bappeda NTB Amry Rakhman, saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (9/7/2020).

Paling Sering Dibaca

Jika Masih Tak Patuh, Seluruh Pasar di Mataram Bakal Ditutup Paksa

akil Gubernur NTB Hj Sitti Rohmi Djalilah mengancam akan menutup pasar yang mengabaikan protokol kesehatan. Ancaman tersebut disampaikan Wagub saat menggelar inspeksi mendadak di Pasar Mandalika, kemarin (8/7). Dia mendapati langsung banyak pedagang dan pembeli tidak mengenakan masker.

Zona Merah Korona, Wagub NTB : Mana Pol PP Mataram, Kenapa Sembunyi?

Pemkot Mataram dinilai lemah dalam merespon dan menangani Covid-19. Wakil Gubernur NTB Hj Sitti Rohmi Djalilah pun begitu geregetan. Meski zona merah dengan kasus positif dan kematian tiap hari, penerapan protokol kesehatan di ibu kota justru sangat longgar. Tak lagi ada pengawasan macam sedang tidak terjadi apa-apa.

Istri Model Suami Youtuber, Bantah Cari Sensasi “Mahar Sandal Jepit”

Pernikahan dengan mahar sandal jepit Iwan Firman Wahyudi dan Helmi Susanti bukan bermaksud mencari  sensasi di media sosial. Menurut mereka ikatan mereka tulus beralas kasih sayang.

Pilbup Loteng, Lale Prayatni Mulai Goyang Posisi Pathul Bahri

Lobi politik tersaji di DPP Partai Gerindra. Dari informasi yang dihimpun Lombok Post, diam-diam SK Gerindra dibidik Prayatni melalui ‘lorong’ Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Hashim Djojohadikusumo.

Turun dari Rinjani, Warga Lombok Tengah Tewas Jatuh ke Jurang

Pendakian di Gunung Rinjani kembali memakan korban jiwa. Sahli, 36 tahun, warga Desa Tampak Siring, Lombok Tengah meninggal setelah terjatuh ke jurang di kawasan Gunung Rinjani, Senin (6/7).
Enable Notifications.    Ok No thanks