alexametrics
Senin, 15 Agustus 2022
Senin, 15 Agustus 2022

Memudahkan Syarat Kunjungan bisa Tingkatkan Okupansi

MATARAM-Aturan tes antigen yang kembali diperbolehkan sebagai syarat bagi penumpang pesawat diyakini mendorong petumbuhan ekonomi sektor pariwisata. Ketua Dewan Kehormatan Perhimpunan Hotel dan Restoran (PHRI) NTB I Gusti Lanang Patra menyebut, aturan ini bisa berpengaruh pada tingkat okupansi.

”Jelas akan meringankan beban biaya wisatawan atau pengunjung yang datang,” katanya antusias, Kamis (4/11).

Pemerintah telah menetapkan batas harga tertinggi di luar Pulau Jawa dan Bali untuk tes Antigen Rp 109 ribu. Sedangkan RT-PCR Rp 300 ribu. Disaat bersamaan, jumlah masyarakat yang sudah vaksin dua kali juga terus didorong.

Pihaknya optimis, potensi 500 kunjungan bisa didapat pada sisa dua bulan tahun ini. Belum termasuk jumlah penonton WSBK yang bukan tak mungkin akan berjumlah lebih banyak lagi. ”Bahkan kita harap bisa lebih dari 1.000 kunjungannya, belum termasuk penonton WSBK,” katanya.

Baca Juga :  Impor Vaksin Hampir Rp 70 Triliun, Airlangga Ingat Vaksin Merah-Putih

Dengan ketentuan harga Antigen, wisatawan asal Jawa dan Bali masih bisa datang ke NTB dengan membawa minimum budget sekitar Rp 3,5 juta perorang. Dengan rincian hitungan kotornya, harga tiket pesawat pulang pergi sekitar Rp 1,2 juta. Untuk kunjungan dua malam tiga hari, tarif harga hotel plus transportasi dan paket wisata terendah dipatok Rp 1.500.000. Pembelian oleh-oleh atau suvenir menghabiskan Rp 500 ribu. Terakhir tes antigen dua kali untuk pulang dan pergi Rp 218 ribu. Sementara untuk wisatawan masih harus menggunakan RT-PCR, tentu membutuhkan budget lebih besar, minimal sekitar Rp 4,5 juta. Karena besaran biaya tes menghabiskan Rp 600 ribuan dengan fasilitas dan waktu liburan yang sama.

Baca Juga :  Tahun Depan, AS Minta Sembilan Ton Vanili NTB

”Kalau yang berduit sih tak masalah, tapi yang pas-pasan tentu agak berat,” katanya.

Dari biaya tersebut, alokasi ke sektor akomdasilah yang menyerap paling besar. Sekitar 50-60 persen. ”Karena berbasis pada berapa lama waktu menginapnya,” ujarnya.

Taufan Rahmadi, pemerhati pariwisata mengatakan, penting membentuk kesepakatan bagi para pelaku industri pariwisata. Mereka didorong membentuk kesepakatan pemasaran terintegrasi. Diantaranya para pengusaha perhotelan, oleh-oleh, restoran, hingga transportasi. Ini terkait program paket diskon dengan harga yang kompetitif.

”Kita optimis kunjungan terus meningkat dengan keringanan aturan dan paket wisata menarik nan terjangkau,” katanya. (eka/r9)

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications    OK No thanks
/