alexametrics
Jumat, 12 Agustus 2022
Jumat, 12 Agustus 2022

Optimalisasi 5G Butuh Ketersediaan Fiber Optic

MATARAM-Ketersediaan fiber optic atau serat optic dalam penerapan teknologi 5G menjadi keharusan. Salah satu yang harus berperan adalah Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) untuk penyediaan fiber optic.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI) Marwan O. Baasir mengatakan, saat uji coba dan launching 4G tahun 2014-2015 lalu, proses roll out sebuah teknologi baru membutuhkan waktu. Apalagi dari 4G ke 5G.

Ada perbedaaan yang fundamental. Transport yang ada di 4G masih bisa menggunakan gelombang mikro atau microwave. Karena yang berjalan di masyarakat saat ini, dan juga dengan operator itu bisa lebih dari 50 persen menggunakan gelombang microwave.

Dengan beralih ke 5G, yang kecepatannya di atas 10 giga, membutuhkan fiber optic. ”Jadi, fiber optic itu harus. Kalau tidak, nanti 5G rasanya 4G, karena transportnya kurang. Itu yang sangat dibutuhkan,” kata Marwan saat diskusi virtual, Senin (7/6).

Baca Juga :  UMKM Mataram Bakal Dilibatkan di Event World Super Bike Mandalika

Ketersediaan fiber optic hingga saat ini masih terbatas. Baru ada di kota besar. Untuk itu, peran Kementerian Kominfo harus dioptimalkan. Membantu para operator yang tergabung dalam asosiasi, agar pemerintah daerah bisa merelaksasi aturan-aturannya. Sehingga proses penggelaran fiber optic dapat berjalan dengan mudah dan mendukung teknologi 5G.

5G yang ideal berada di frekuensi 3,5 giga herzt (gH). Saat ini operator menggunakan frekuensi yang ada, seperti di 2,3 gH. Dikarenakan penggunaan frekuensi 2,3 gH masih memungkinkan dengan adanya dynamic spektrum sharing.

”Tetap 5G, hanya menggunakan spektrum yang ada, jadi memang bandwith saat ini masih terbatas. Jadi, harapan kita 3,5 gH bisa cepat,” ujar Marwan.

Dalam menerapkan teknologi 5G, operator lain selain Telkomsel juga perlu diberi equal treatment. Kalaupun mereka menggunakan frekuensi yang ada, kata Marwan, yakni 1.800 dan 2.100 dengan DSS, pemerintah bisa mendorong Uji Laik Operasi (ULO) segera diperoleh operator. Salah satu operator yang sudah mengajukan DSS adalah Indosat.

Baca Juga :  BRIGADE MADANI Holding Ultra Mikro Menyebar Pemberdayaan dan Pertumbuhan

Saat ini, masyarakat akan diperkenalkan 5G dengan frekuensi yang ada. Paling tidak masyarakat bisa merasakan 5G terlebih dahulu. Tentu ada kendala dan tantangan. Seperti spektrum dan fiber optic yang belum sepenuhnya terintegrasi.

”Fiber optic perlu merata. Apalagi, dalam menggelar fiber optic operator itu sewa pada pemerintah daerah sampai pusat. Harapannya harga yang affordable, sesuai UU Omnibuslawa,” katanya.

Kemudian, kata Marwan, memastikan teknologi 5G bisa dimaksimalkan dengan baik. Tidak sekadar hanya untuk berselancar di internet saja. ”Manfaatnya banyak. Jadi kalau cuma pemakaian pada akses internet, tentu sangat disayangkan,” tegas Marwan. (dit)

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications    OK No thanks
/