alexametrics
Selasa, 9 Agustus 2022
Selasa, 9 Agustus 2022

Surplus, Saatnya Perbaiki Kualitas Garam Lokal

MATARAM-Dinas Kelautan dan Perikanan NTB mendorong penguatan industrialisasi garam lokal. Salah satunya melalui penguatan kelompok IKM di beberapa wilayah produsen. Hal ini karena prospek produksi garam lokal sejauh ini cukup bagus.

Sayangnya kuantitas masih tak sejalan kualitas yang masih belum mumpuni. Sehingga berpengaruh pada minimnya target pasar yang dapat dibidik. ”Iklim NTB panas sehingga produktivitas kita tetap berjalan lancar,” kata Plt Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan NTB Muslim, Selasa (7/9).

Tahun 2020, data produktivitas garam di NTB 192.987 ton. Sementara kebutuhan garam untuk konsumsi dan kebutuhan industri hanya 46.592 ton. Surplus garam hingga 146.395 ton inilah yang diharapkan dapat diserap industri atau dijual lebih besar. Namun hal ini masih menjadi wacana. Sebab, kualifikasi garam lokal masih belum memenuhi kriteria. Kandungan garam harusnya memiliki 95 persen lebih senyawa kimia molekul NaCl. Untuk itu, upaya yang dapat dilakukan yakni melalui perbaikan pola produksi sektor hulu. Melalui  sistem pengembangan usaha garam rakyat terintegrasi menggunakan geo isolator.

Baca Juga :  Sri Mulyani: Perpajakan jadi Prioritas Pembahasan pada Pertemuan G-20

”Ini yang jadi tantangan pemerintah maupun pelaku usaha tersebut di NTB,” katanya.

Harga garam lokal pun bervariasi tiap lokasi. Di Lombok Barat, harganya bisa Rp 3 ribu per kilogram. Sedangkan di Bima mencapai Rp 300 ribu per kilogram. Selain itu, pihaknya juga melakukan penguatan kriteria untuk memenuhi standar konsumsi. Sepeerti BPOM ataupun SNI. Juga dibutuhkan kerja sama yang intens dari pemerintah kabupaten kota lokasi produsen.

Diantaranya Bima, Sumbawa, Lombok Timur, dan Lombok Barat. Masing-masing pemerintah telah difasilitasi anggaran sekitar Rp 1-5 miliar dari pusat untuk menggerakkan produktivitas dan kualitas. ”Termasuk pasarnya. Jadi animo masyarakat untuk berproduksi tetap jalan,” tegasnya.

Kepala Dinas Perindustrian Nuryanti mengatakan, pihaknya berperan dalam upaya memfasilitasi standarisasi SNI dan mesin-mesin kemasan. Serta penyimpanan menuju izin edar. Sebab kedua hal ini penting untuk meningkatkan kualiatas dari produksi garam lokal.

Baca Juga :  AirAsia Kenalkan Potensi Kerjasama dengan Hotel di NTB

”Karena garam termasuk produk wajib SNI dan izin edar,” imbuhnya. (eka/r9)

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications    OK No thanks
/