alexametrics
Senin, 18 Januari 2021
Senin, 18 Januari 2021

Majukan NTB dengan Mendorong Peningkatan Pohon Industrialisasi

MATARAM-Peraturan Daerah (Perda) Rencana Pembangunan Industri NTB sudah dilaksanakan. Perda ini berlaku sebagai landasan kebijakan pemda dalam menjaga keberlangsungan peta industrialisasi di NTB.

Kepala Dinas Perindustrian NTB Nuryanti mengatakan, wujud pengaplikasian dari perda ini sudah terlaksana. Terbukti dari banyaknya kemunculan pelaku industri kecil menengah (IKM) yang hadir mewakili masing-masing sektor. ”Selama tahun 2020 kemarin kita sudah mengacu pada pondasi yang tercatat dalam perda tersebut, dan capaiannya pun sudah terlihat selama setahun ini,” klaimnya, kepada Lombok Post, Senin (12/1).

Dijelaskan, dalam perda tersebut terdapat enam industri prioritas di NTB. Antara lain industri pangan, industri hulu agro, industri permesinan alat transportasi, industri hasil pertambangan, industri kosmetik, farmasi herbal dan kimia, serta ekonomi kreatif.

Keenam industri tersebut akan dikembangkan selama 20 tahun, yang terbagi tiga periode. Periode pertama di tahun 2020 – 2025, selanjutnya 2026 – 2030 dan 2031 – 2040 adalah waktu untuk periode ketiga.

Berdasarkan target Rencana Program Jangka Menengah Daerah (RPJMD), tahun 2021 ini capaian program industri dapat naik satu persen, dari capaian terakhir tahun 2020 lalu. ”Kami harapkan dari tahun ke tahun capaian industrialisasi IKM kita bisa terus meningkat,” ujarnya.

Tahun 2021 ini IKM-IKM yang menjadi prioritas tersebut sudah terbentuk. Mulai dari IKM sepeda listrik, IKM kosmetik, dan IKM fashion. Ditargetkan, dalam satu komoditas bisa memiliki pohon industri. Masing-masing pohon indutri inilah yang nantinya bertahap akan direalisasi. Misalnya pada industri permesinan alat transportasi. Dengan sepeda listrik yang terus dikembangkan dari Le-Bui, Matric-B, dan NgebUTS. Kemudian berkembang IKM yang memproduksi komponen-komponen sepeda listrik. Mulai dari baut, kerangka, dan sebagainya.

”Pohon industrialisasi ini pun saling berkaitan satu lain,” tegasnya.

Nantinya, masing-masing kabupaten kota bisa menyusun Rencana Pembangunan Industri Kabupaten (RPIK). Turunan dari keenam sektor prioritas. Yang menjadi penyedia atau produsen bahan baku lainnya untuk menghasilkan satu jenis produk. ”Agar masing-masing kabupaten kota bisa menyesuaikan dengan kebutuhan dan ketersediaan bahan bakunya yang berkualitas,” tambah Yanti.

Terpisah, Gubernur NTB Zulkieflimansyah mengatakan, industrialisasi merupakan kebutuhan bagi suatu daerah. Pemprov NTB melakukan berbagai upaya dalam mendorong industrialisasi. Contoh nyata dapat dilihat pada JPS Gemilang tahap satu, dua, dan tiga yang seluruhnya menggunakan produk lokal.

”Dengan JPS Gemilang, ternyata kita bisa bikin masker, kita bangga betul bisa bikin masker, bisa bikin sabun, bisa bikin hand sanitizer yang selama ini kita beli,” ujarnya, Senin (12/1).

Ia berharap dengan hadirnya industrialisasi dapat menghadirkan kesadaran masyarakat. Agar tak hanya berpangku pada satu komoditas. ”Karena banyak insentif ekonomi lainnya yang tak kalah besar dan bisa kita kembangkan,” imbuhnya. (eka/r9)

 

Berita Terbaru

Enable Notifications   OK No thanks