alexametrics
Minggu, 20 September 2020
Minggu, 20 September 2020

Ciku Ghea, Pelukis Pasir Pertama di NTB yang Masih Eksis

MATARAM-Melukis menggunakan kuas pada kanvas putih mungkin pemandangan yang sudah biasa dilihat. Namun, bagaimana dengan melukis menggunakan media pasir?

Edisi D’Ladies kali ini akan mengulik profil seorang pelukis pasir pertama di NTB. Dialah Baiq Amalia Putri Ghaesani. Ladies yang akrab disapa Ciku Ghea ini sebelumnya tidak pernah membayangkan akan serius berkecimpung di bidang tersebut.

“Sudah hampir lima tahun menjalaninya,” kata dia, kemarin.

Ditemui di sela-sela kesibukannya, Ladies kelahiran 1995 silam ini menceritakan ketertarikannya menjadi seorang pelukis pasir di 2015 lalu. Berawal saat dirinya menyaksikan penampilan Vina Candrawati, di Ajang Indonesia Mencari Bakat (IMB). Di salah satu stasiun tv swasta. Goresan dan taburan pasirnya berhasil membuat Ghea terkesima.

“Aku saat itu langsung tertarik, dalam hati bilang, nggak begitu susah kok, aku kan punya udah basic aliran realisme, ganti media saja ke pasir, bukan ganti aliran,” terangnya.

Menurutnya pada saat itu, menjadi pelukis pasir membuatnya lebih cepat belajar. Akhirnya atas izin orang tua dan tekad yang kuat, Ghea mulai mencari seluk beluk pelukis pasir, alat, hingga jenis pasir dan yang lainnya di kanal YouTube.

“Awalnya belajar secara otodidak,” tegasnya.

Kemudian dirinya mencari tahu beberapa komunitas pelukis pasir di Bali dan Surabaya dengan berselancar di internet. “Alhamdulillah ketemu, mereka ngasi tahu semuanya, dari jenis pasir dan rekomendasi hal-hal tentang itu,” ucapnya.

Sebelum Ghea serius menggeluti seni luksi ini, ada cerita menarik lainnya kenapa bisa tertarik. Luasnya bentangan pantai di NTB khususnya di Lombok memudahkan dirinya menemukan pasir yang menjadi medianya untuk melukis.

“Ternyata jenis pasir yang digunakan berbeda. Pasir khusus yang digunakan untuk melukis itu namanya silika,“ ucapnya.

Menjadi pelukis pasir menurut Ghea ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Selama hampir setahun, Ghea terus berkutat dengan latihan demi latihan. “Pas lagi mood aja (latihan), soalnya mikir peluangnya kan, ini mau dipakai di acara apa ya, susahnya di situ,” terangnya.

Hingga pada akhirnya, Ghea terpilih sebagai Puteri Pariwisata NTB tahun 2015 dan berhasil lolos ke Jakarta mengikuti malam final. Menjadi pelukis pasir adalah bakat yang ia tampilkan di acara tersebut.

“Rejekinya, aku ketemu teman di sana yang sama juga (pelukis pasir), ketemu yang satu manajemen dengan Mba Vina (pelukis di IMB) dan kami belajar bareng, banyak hal yang aku tahu,” jelasnya.

Sebelum menampilkan bakatnya di Jakarta, pentas pertama Ghea sendiri ternyata di Kota Mataram. Tepatnya di Bandini Koffie. Berawal dari kegiatan penggalangan dana untuknya menuju Jakarta dalam rangka mengikuti final Puteri Pariwisata 2015 tingkat nasional.

“Alhamdulillah uangnya ke kumpul sampai Rp 15 juta, jadinya dari situ orang-orang banyak yang tahu, sampai aku pernah tampil di gereja juga,” terang Ghea.

Perlahan namun pasti. Mulai 2016, dirinya benar-benar menggeluti sebagai pelukis pasir. Dirinya sering diundang tampil dalam acara di Gili Trawangan, Festival Bau Nyale dan kegiatan-kegiatan BUMN yang lain.

“Aku nggak bisa dadakan, karena latihannya ini butuh waktu, biasanya yang aku terima maksimal waktunya dua minggu sebelum pentas, kalau lima atau tiga hari, aku nggak ambil,” ujarnya.

Dia menjelaskan, banyak hal yang harus dipersiapkan sebelum melukis pasir. Ghea harus membuat storyboard di kertas terlebih dulu. Memudahkannya mengingat bagian demi bagian yang dituangkan ke media pasir. “Dan itu prosesnya lama, latihan pas jam 10 malam ke atas, nyari waktu yang nggak berisik, harus tenanglah,” kata dia.

Belum lagi, pihak panitia kegiatan menyertakan penampilan yang harus diikuti dengan lagu atau mengiringi penyanyi. Itu juga menggunakan teknik khusus. “Makanya latihannya benar-benar fokus, jangan sampai kita yang telat atau keduluan,” ujar Ghea.

Melukis menggunakan media pasir juga membutuhkan kesabaran khusus dan teknik mendasar yang harus dikuasai secara matang. Kadang berdiri hingga duduk terlalu lama. Dan yang paling penting, harus memperhatikan storyboard, karena akan sangat fatal bila lukisannya dihapus.

“Kalau pas off air ya nggak apa-apa masih diedit, pas live itu nggak boleh, kalau kehapus bisa fatal banget,” ujarnya.

Kemudian kendala yang lain adalah cuaca. Ghea juga banyak menerima acara yang digelar dengan konsep outdoor. Dirinya pernah punya pengalaman, saat tampil di acara eks Pelabuhan Ampenan. Dengan kondisi dekat dengan pantai dan angin yang berhembus cukup kencang, membuatnya merasa kesulitan dalam melukis.

“Aku ngomong ke panitianya buat nyediain properti kiri kanan karena kalau ada angin kan otomatis gambarnya nggak jadi, malah pasirnya yang terbang,” terangnya.

Karena aliran yang disukai Ghea adalah realisme, maka hembusan angin harus diminimalisir. Lantaran, selama dirinya berkecimpung di bidang tersebut, teknik yang menurutnya paling susah adalah membuat gambar menjadi lebih hidup.

“Menggambar dimensi lebih susah dengan pasir daripada pensil, apalagi bikin wajah orang, kalau nggak mirip sedikit aja, kita pasti tanya orang, pas live kita harus bisa sendiri,” tegasnya.

Kemudian dari segi alat. Ghea mengakui, menjadi pelukis pasir harus dilengkapi berbagai alat. Namun, kelengkapan tersebut, terkadang tidak diperhatikan pihak penyelenggara. “Biasanya terkendal banget sama budget, makanya kalau aku tampil, aku sesuaikan dengan semuanya,” ungkapnya.

Kendati demikian, banyak pengalaman yang didapatkan Ghea selama menjadi seorang pelukis pasir. Dirinya banyak berbagi ilmu dengan sesama pelukis pasir. “Alhamdulillah, ketemu orang-orang hebat juga,” jelasnya.

Menjadi pelukis pasir pertama di NTB ternyata masih menyisakan banyak tantangan yang harus dihadapi Ghea. Dia bercita-cita membentuk komunitas pelukis pasir di NTB. Ibarat api jauh dari panggang, impian tersebut sampai saat ini belum terwujud.

“Banyak yang mau kursus cuma belum buka, karena budget sama skill harus ada, aku nggak mau orang yang hanya ingin tahu tetapi tidak serius,” ujarnya.

Tidak dipungkiri, menjadi pelukis pasir merupakan seni yang langka, unik dan mahal. Sehingga sangat sedikit orang yang bisa dan membutuhkan tekad yang kuat. “Pernah pas ada orang mau belajar, tanya berapa budget, aku bilang sekian tetapi nggak jadi, kalau mau pasti udah diusahakan,” jelasnya.

Di sisi lain, ada juga keresahannya. Pelukis pasir belum mendapat dukungan dari pemerintah. Misalnya dalam pementasan dalam kegiatan-kegiatan daerah pelukis pasir yang sebenarnya bisa jadi jembatan untuk menceritakan sejarah daerah belum didukung penuh.

Belum lagi menyangkut pariwisata. Ghea mengatakan, destinasi wisata tidak melulu soal pantai atau gunung. Harus juga disertai dengan berbagai macam atraksi dan melukis pasir sangat cocok dan masuk jika dilirik untuk mengenalkan identitas daerah dan budaya. (yun/r10)

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

14 Ribu UMKM Lombok Utara Diusulkan Terima Banpres

Jumlah UMKM KLU yang diusulkan menerima bantuan presiden (Banpres) Rp 2,4 juta bertambah. Dari sebelumnya hanya 4. 890, kini tercatat ada 14 ribu UMKM. ”Itu berdasarkan laporan kabid saya, sudah 14 ribu UMKM yang tercatat dan diusulkan ke pusat,” ujar Plh Kepala Diskoperindag KLU HM Najib, kemarin (18/9).

Cegah Penyimpangan, Bupati Lobar Amankan 640 Dokumen Aset Daerah

Dinas Arsip dan Perpustakaan Lombok Barat (Lobar) terus mencari dokumen-dokumen aset milik pemkab. ”Kalau arsip (dokumen) hilang, aset daerah juga melayang,” kata Kepala Dinas Arsip dan Perpustakaan Lobar H Muhammad Yamil.

Penuh Sampah, Warga Dasan Geres Turun Bersihkan Sungai

Pola hidup bersih digalakkan warga di Lingkungan Dasan Geres Tengah. Salah satunya melalui program sungai bersih. ”Kita ciptakan lingkungan bersih dan asri,” kata Lurah Dasan Geres Hulaifi, kemarin.

Perintah Menteri, RT Wajib Bentuk Satgas Penaganan Covid-19

Upaya menekan penyebaran virus COVID-19 masih harus gencar. Salah satu kebijakan baru yang digagas adalah mewajibkan membentuk satgas penanganan COVID-19 hingga level kelurahan, dusun atau RT/RW. Satgas tersebut nantinya bertugas mengawal pelaksanaan kebijakan satgas pusat di lapangan.

Senggigi Telah Kembali (Bagian-2)

SELAMA berminggu-minggu “kegiatan tidak berarti ini” dilaksanakan tanpa ada maksud apa-apa kecuali biar sampah tidak menumpuk. Namun keberartian “kegiatan tidak berarti ini” justru menjadi simpul efektif dari kebersamaan dan rasa senasib sepenangungan seluruh komponen yang ikut bergotong royong.

Gowes di Jalan Raya Kini Tak Bisa Lagi Serampangan, Ini Aturannya

Belakangan tren bersepeda marak. Agar tertib, maka Kementerian Perhubungan mengeluarkan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 59 Tahun 2020 Tentang Keselamatan Pesepeda di Jalan pada 14 Agustus lalu. Kemenhub rutin untuk melakukan sosialisasi.

Paling Sering Dibaca

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Di Tengah Pandemi Korona, Dua Murid SMP di Lombok Tengah Menikah

Saat sekolah tak kunjung dibuka karena Pandemi Korona dua pelajar SMP di Lombok Tengah memilih untuk melangsungkan pernikahan Sabtu (12/9) lalu. Mereka adalah Suhaimi, kelas 2 SMP asal  Desa Pengenjek, Kecamatan Pringgarata menikahi Nur Herawati, kelas 1 SMP.

Siswa SMP di Loteng Menikah, Kenal Lewat HP, Pacaran Cuma Empat Hari

Meski belum cukup umur, Suhaimi dan Nur Herawati telah resmi menjadi pasangan suami istri. Bagaimana kisahnya sampai mereka memutuskan menikah? Berikut ulasannya.

Bantuan Uang Tunai untuk Warga Terdampak Korona Diperpanjang Sampai Desember

JAKARTA–Pemerintah memutuskan untuk memperpanjang pemberian bansos. Awalnya, bansos hanya diberikan tiga bulan dari April sampai Juni, namun akhirnya diperpanjang hingga Desember 2020. Sehingga, total...

Pemda di NTB Wajib Daftarkan Honorer Ikut BPJS Ketenagakerjaan

"Seluruh tenaga kerja di NTB, baik yang ada di lingkungan pemerintah atau pun swasta, baik sektor formal maupun informal wajib mendapatkan jaminan sosial ketenagakerjaan," tegas Wisma.
Enable Notifications    Ok No thanks