alexametrics
Senin, 27 Juni 2022
Senin, 27 Juni 2022

Pesawat di BIL Sisa 14 Sehari

MATARAM-Bandara Internasional Lombok mencatat tren pergerakan penumpang anjlok selama Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat Jawa-Bali. Sejak 5 Juli lalu atau hari ketiga PPKM Darurat, trafik penumpang tercatat menurun hingga sekitar 70 persen. ”Situasi tahun ini sepertinya masih parah seperti tahun lalu,”ujar Arif Haryanto, head Communication and Legal Manager BIL, Senin (12/7).

Data terakhir sejak 5-11 Juli, Rata-rata pergerakan penumpang hanya 963 penumpang per hari. Sedangkan Rata-rata pergerakan pesawat 14 unit per hari. Jumlah ini menurun drastis dari data 30 Juni hingga 4 Juli lalu. Dengan rata-rata pergerakan penumpang mencapai 3.051 penumpang per hari dan rata-rata pergerakan pesawat sebanyak 32 unit per hari.

”Artinya penurunan penumpang hingga berkurang 68,4 persen dan pesawat berkurang 54,3 persen,” jelasnya.

Baca Juga :  Kabar Setengah Baik, Penumpang Pesawat Naik, Pelabuhan Stagnan

Jika pembatasan terus berlanjut, dipastikan BIL alami kerugian yang akan semakin parah. Pembukuan rugi bersih yang dilakukan tahun 2020 lalu saja Rp 66 miliar. Jumlah tersebut sangat jauh jika dibandingkan tahun-tahun sebelum kemunculan pandemi Covid-19. Meski 2019 punBIL belum dapat dikatakan sepenuhnya untung. ”Kalau secara korporat pasti rugi lagi tahun ini, tapi kita belum hitung total secara resmi berapa,” ujarnya.

Tujuan kedatangan maupun keberangkatan penumpang sendiri didominasi dari dan ke Jakarta juga Surabaya. Menyusul daerah lainnya seperti Bali, Bima, dan Sumbawa Besar. Adanya protokol kesehatan bagi penumpang pesawat cukup ketat membuat mereka yang melakukan perjalanan memang hanya memiliki keperluan mendesak.

Artinya penerapan SE Menhub No. 45/2021 di tengah PPKM Darurat Jawa-Bali berjalan lancar dan mampu mengurangi mobilitas. ”Terlihat dari pergerakan penumpang yang semakin merosot ini,” imbuhnya.

Baca Juga :  Mulai Membaik, Trafik Penumpang Bandara Lombok Naik 94 Persen

Operasional bandara sendiri masih berlangsung hingga sore hari. Pihaknya mengatakan, sejauh ini pergerakan wisatawan masuk ke NTB masih menggunakan dokumen hasil rapid tes antigen. ”Karena untuk masuk ke NTB wajib PCR, kita belum nemu regulasi resminya dari pemerintahan,” tegasnya.

Adi Putra, pemilik Lombok Transport mengatakan, bandara kini memang tak bisa lagi diandalkan. Saat awal pandemi, dia yang biasa membawa tamu berwisata langsung banting stir. ”Jadi bidik tamu bandara, tapi sekarang terus turun, tak bisa lagi,” ujarnya.

Atas kondisi tersebut, dia tak bisa berbuat banyak. ”Ya usaha yang lain, tak bisa lagi andalkan transport,” jelasnya. (eka/r9)

 

 

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications    OK No thanks
/