alexametrics
Minggu, 20 Juni 2021
Minggu, 20 Juni 2021

Dekranasda NTB Gelar Kompetisi Cerita Wastra

MATARAM-Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) NTB menggelar program Cerita Wastra Tingkat NTB. Kegiatan yang digelar daring ini bertujuan untuk memperkenalkan wastra atau kain tradisional dalam bentuk kompetisi foto daring kebaya dan kain tradisional khas NTB.

Hj Niken Saptarini Widyawati, ketua Dekranasda NTB mengatakan, kegiatan ini dapat memberi dampak positif bagi perajin. ”Program ini dapat memacu lebih banyak masyarakat melakukan bela beli produk lokal dan bangga buatan Indonesia,” ujarnya, kepada Lombok Post, (15/4).

Kegiatan ini diikuti seluruh peserta dari dekranasda tingkat kabupaten kota. Mereka diwajibkan mengunggah foto di media sosial menggunakan kebaya atau kain tradisional sembari bercerita. Unggahan foto kemudian dinilai untuk menemukan tiga orang juara dan satu pemenang terfavorit.

Diharapkan, program ini sekaligus menjadi wadah dalam mempromosikan UMKM perajin wastra, maupun meramaikan eksotisme kain lokal NTB melalui wastra. ”Upaya ini harus terus digalakkan demi menciptakan kesadaran, kecintaan dan kebanggaan menggunakan produk Indonesia,” imbuhnya.

Keempat pemenang diumumkan di laman instagram Dekranasda NTB. Baiq Dewi Septemi Abdiana, salah satu binaan dekranasda Lombok Barat terpilih sebagai juara pertama. Ia memperkenalkan baju adat Sasak Lambung yang dimodifikasi dengan kain gedogan dari Mareje, bernama mborerot maritim.

Dipadupadankan dengan kain tenun dari Desa Gumise, Lombok Barat. Ditambahkan aksen kain tile yang membuatnya terlihat cocok dikenakan secara kasual untuk semua kalangan.

”Saya harap ini bisa menginspirasi masyarakat bahwa kain tenun lokal pun bisa menjadi busana keseharian, bukan hanya momen tertentu saja,” ujarnya.

Dikatakan, eksistensi UMKM penenun asal desa Mareje dan Gumise ini memang belum setenar desa-desa penghasil tenun lainnya. Pembuatan kain tenun gumise dan mareje masih menerapkan cara tradisional, mulai dari pewarnaan sampai proses penenunannya. Ditenun langsung oleh ibu-ibu dan remaja putri setempat dengan penuh ketelitian dan waktu yang tidak singkat. Inilah yang menjadi daya tarik sehingga kualitasnya tergolong istimewa.

”Menemukan dan menggunakan kain mereka itu seperti melihat emas dan harta karun yang tersembunyi, karena belum banyak orang yang tahu,” katanya.
Pada 21 April mendatang, ia bersama ketiga pemenang lainnya akan kembali bersaing secara nasional. ”Dengannya kita bisa melestarikan budaya hingga membangun dan meningkatkan ekonomi masyarakat setempat,” ujar wanita yang akrab disapa Temi ini. (eka/r9)

 

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications    OK No thanks