alexametrics
Sabtu, 23 Oktober 2021
Sabtu, 23 Oktober 2021

Budidaya Maggot, Kurangi Sampah dan Hasilkan Jutaan Rupiah Per Bulan

PRAYA–Arifudin Nurrahmatullah, pemuda asal Narmada, Lombok Barat bersama LAZ Dasi NTB mengembangkan budidaya maggot. Maggot adalah bayi larva lalat, black soldier fly yang mampu menguraikan sampah organik dengan sangat cepat dalam jumlah besar.

Pengembangan maggot menjadi produk olahan pakan ayam, bebek, ikan, dan burung. Layaknya bank sampah pada umumnya, masyarakat bisa menukarkan sampah rumah tangga dengan baby maggot gratis. Sehingga budidaya ini tak hanya berpotensi bisnis, namun juga berpotensi pengembangan ekonomi masyarakat dengan membantu mengatasi masalah lingkungan.

”Baby-nya nanti mereka pelihara dikasi makan sampah. Setelah 13-15 hari, akan kami beli maggot dewasanya,” kata Arif ditemui di kandang budidaya Maggot di Kediri, Lombok Barat, Kamis (15/10/2020).

Di tanah seluas 50 are tersebut, terdapat 104 kotak yang menjadi lokasi pertumbuhan baby maggot. Dari sini, ada lima potensi produk yang bisa diperjualbelikan. Mulai dari maggot segar, maggot kering, tepung maggot, telur dari lalat, serta pupuk organik.

Dijelaskan Arif, maggot segar dijual Rp 6-7 ribu per kilogram. Maggot kering atau yang sudah mati dihargai Rp 20 ribu ukuran 100 gram dan Rp 30 ribu untuk 200 gram. Potongan harga masing-masing Rp 2.000 untuk reseller. Telurnya bahkan lebih mahal, Rp 6-10 ribu per gram.

Satu biji telur bisa menghasilkan 3-5 kilogram maggot segar. Ketiga produk menyasar para peternak ikan hias dan unggas. Sedangkan tepung maggot, menyasar produsen pakan ternak sebagai campuran kandungan pakannya. ”Untuk sampah organik, skalanya masih kecil jadi masih digunakan pribadi, belum berani dijual di pasaran,” ujarnya.

Pihaknya biasa menghasilkan 20 kilogram maggot segar perhari. Penghasilan berkisar Rp 3,6 juta per bulan. Belum ditambah penjualan ketiga produk lainnya. ”Nanti pasti banyak yang minat jika sudah lihat sendiri hasilnya,” ujar alumni Politeknik Pembangunan Pertanian Malang tersebut.

Ditambahkan Hanan Yusron, manajer Markom dan Kerjasama LAZ Dasi NTB, pihaknya juga masih terkendala mesin penggiling sampah. Itu dibutuhkan untuk mempercepat perkembangbiakan maggot. ”Makin halus sampahnya, juga makin mudah diayak sebagai pupuk organik siap pakai,” tambahnya.

Dengan tagline sedekah dengan maggot, masyarakat bisa menghibahkan sampah organik untuk pengembangan maggot. ”Tim kami siap menjemput di mana pun rumah lokasi sampah organiknya,” ujarnya. (eka/r9)

 

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications    OK No thanks