alexametrics
Sabtu, 23 Oktober 2021
Sabtu, 23 Oktober 2021

Sulit dan Mahalnya Ongkos Penyaluran BBM Ke Pegunungan Papua

PT Pertamina (Persero) mengungkapkan, dalam penyaluran Bahan Bakar Minyak (BBM) ke pelosok membutuhkan proses dan perjalanan yang tidak mudah. Direktur Logistik, Supply Chain, dan Infrastruktur Pertamina Mulyono mengatakan, misalnya saja untuk menjangkau kawasan Oksibil, Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua.

Menurutnya, untuk sampai lokasi tersebut, Pertamina harus tujuh kali mengganti moda transportasi. Bahkan, pengangkutan BBM harus menggunakan pesawat.

“Di Oksibil itu 7 kali pak gantinya. Jadi BBM pertama diambil dari kilang Balikpapan. Itu diangkut dengan kapal besar,” ujarnya secara virtual, Kamis (16/9).

Mulyono menyebut, awal perjalanan, BBM diambil dari Kilang Balikpapan dan diangkut menggunakan kapal besar yang berkapasitas 30 ribu ton. Kemudian, diangkut menuju terminal transit di Pelabuhan Wayame, Ambon.

Muatan BBM tersebut, dipindahkan ke kapal dengan ukuran 3.500 GT menuju terminal BBM di Pelabuhan Merauke, Papua. Sesampainya disana, kemudian diangkut menggunakan mobil tangki dan dibawa sejauh 55 kilometer ke Kapubaten Boven Digoel.

Setiba di Kabupaten Boven Digoel, ada petugas yang memindahkan BBM ke dalam drum untuk diangkut oleh kapal menuju Bandara Boven Digoel sejauh 345 nautical mil. Lalu BBM diangkut menggunakan pesawat dari Bandara Boven Digoel ke Oksibil sejauh 91 nautical mil ke Bandara Oksibil.

Terakhir, di Oksibil, BBM akan kembali diangkut menuju SPBU menggunakan truk sejauh 2 kilometer. Sehingga, kata Mulyono, untuk mewujudkan BBM satu harga ini membutuhkan biaya logostik yang sangat mahal.

Mulyono menyebut, biaya pengangkutan BBM ke Oksibil menghabiskan biaya 8 kali lipat lebih besar dari biaya normal. “Jadi normalnya biaya distribusi 300. Untuk BBM satu harga itu 2.500-an pak rata-rata. Jadi kira-kira 8 kalinya,” pungkasnya. (JPG)

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications    OK No thanks