alexametrics
Rabu, 15 Juli 2020
Rabu, 15 Juli 2020

Dampak Korona, ADB Prediksi Ekonomi Indonesia Hanya Tumbuh Satu Persen

JAKARTA–Pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun ini masih dibayangi ketidakpastian. Asian Development Bank (ADB) pun memproyeksikan ekonomi Indonesia tahun ini hanya bertumbuh 1 persen. Proyeksi itu mempertimbangkan kondisi kawasan Asia yang nyaris tidak mengalami pertumbuhan di tahun ini.

‘’Namun, pertumbuhan ekonomi Indonesia akan mencapai 5,3 persen pada 2021 karena bertambahnya belanja tidak wajib rumah tangga, membaiknya iklim investasi, dan mulai pulihnya perekonomian dunia,’’ ujar Direktur ADB untuk Indonesia Winfried Wicklein.

Dia melanjutkan, pandemic Covid-19 telah menimbulkan tekanan ekonomi yang signifikan di dunia, termasuk Indonesia. Pukulan terberat ada pada lapangan kerja dan konsumsi rumah tangga, terutama bagi kelompok masyarakat paling rentan. ‘’Meskipun ada pelonggaran PSBB pada awal Juni akan membantu kegiatan perekonomian berjalan kembali, tapi masih banyak terdapat ketidakpastian,’’ imbuh Ekonom ADB untuk Indonesia Emma Allen.

Dalam laporan terbarunya, ADB juga meramal pertumbuhan kawasan Asia dan Pasifik mencapai 0,1 persen di tahun ini. Angka itu menurun dibandingkan proyeksi sebelumnya yakni 2,2 persen yang dirilis April lalu. Ramalan itu tercatat sebagai proyeksi pertumbuhan terendah bagi kawasan Asia dan Pasifik sejak tahun 2961 silam. Negara Asia Tenggara juga disebut akan lebih terpukul daripada Indonesia. Di antaranya Filipina yang diproyeksi tumbuh -3,8 persen dan Thailand yang terkontraksi hingga -6,5 persen.

Pemerintah RI sendiri telah merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi sepanjang tahun 2020 dari 2,3 persen diturunkan menjadi 1 persen. Sementara, untuk tahun 2021 diproyeksi tumbuh 4,5 sampai 5,5 persen.

Ekonom Indef Bhima Yudhistira Adhinegara menilai, proyeksi pertumbuhan yang dipatok 4,5 sampai 5,5 persen untuk 2021 masih terlalu ambisius. ‘’Masih overshoot untuk 2021 setinggi itu. Idealnya untuk tahun depan 3 sampai 4 persen. Pasti masih di bawah 5 persen,’’ ujarnya kepada koran ini, kemarin.

Bhima menyebut, pendapat itu didasarkan pada kondisi belum ada tanda penurunan pandemi baik di negara lain maupun Indonesia. Terlebih, masih ada kemungkinan gelombang kedua pandemi. Dengan adanya kemungkinan second wave pandemic itu maka akan membuat pola kurva W pada ekonomi Indonesia.

Selain itu, pemulihan kinerja ekspor-impor pun juga masih membutuhkan usaha yang maksimal. Sebab, mitra dagang utama RI seperti AS dan Tiongkok juga masih tertatih dalam memperbaiki kinerja perdagangannya.

Sementara, lanjut Bhima, untuk revisi proyeksi pertumbuhan tahun ini menjadi 1 persen dikhawatirkan bisa lebih parah. ‘’Artinya bisa di bawah 1 persen realisasinya, bahkan bisa 0 persen atau minus. Maka perlu kerangka kebijakan yang countercyclical untuk membalikkan keadaan,’’ jelasnya. Dengan berbagai dinamika itu, Bhima menyebut sumber pertumbuhan bisa berasal dari belanja pemerintah dan kinerja investasi.

Dari sisi moneter, Bank Indonesia (BI) menurunkan suku bunga acuan 7-day (Reverse) Repo Rate sebesar 25 basis poin menjadi 4,25 persen. Penurunan tersebut sudah kali ketiga sepanjang 2020. Gubernur BI Perry Warjiyo menuturkan, keputusan tersebut dilakukan untuk mendorong pemulihan ekonomi nasional.

”BI tetap melihat ruang penurunan suku bunga seiring rendahnya tekanan inflasi, terjaganya stabilitas eksternal, dan perlunya mendorong pertumbuhan ekonomi,” papar Perry dalam video conference hasil Rapat Dewan Gubernur BI.

Untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, lanjut dia, pelonggaran likuiditas (quantitative easing) akan terus dilakukan. Yakni dengan menurunkan giro wajib minimum (GWM) hingga membeli Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.

BI mencatat nilai tukar rupiah terus menguat. Seiring dengan berlanjutnya aliran modal asing ke pasar keuangan domestik. Perry menyatakan, hingga 17 Juni nilai tukar rupiah mengalami apresiasi sebesar 3,75 persen secara point to point atau 5,69 persen secara rerata dibandingkan dengan level Mei 2020.

Menurut dia, penguatan rupiah ditopang akan terus berlanjut akibat meredanya ketidakpastian pasar keuangan global. “Juga tingginya daya tarik aset keuangan domestik dan terjaganya kepercayaan investor asing terhadap prospek kondisi ekonomi Indonesia,” ujarnya.

Perry mengatakan, level nilai tukar rupiah secara fundamental masih undervalued atau dibawah nilai semestinya. Selain itu, secara fundamental seperti inflasi dan defisit transaksi berjalan yang rendah, imbal hasil aset keuangan domestik yang kompetitif (7,15 persen), serta premi risiko Indonesia yang mulai menurun, berpotensi terus menguat dan dapat mendukung pemulihan ekonomi domestik.

Berdasarkan laporan perkembangan indikator stabilitas nilai rupiah BI, mata uang Garuda diperdagangkan di level Rp 14.020 per USD. Sementara, Bloomberg Market Spot Rate mencatatkan Rp 14.100 per USD.

BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi tanah air akan menurun pada kuartal II 2020. Berkisar 0,9-1,9 persen. Mengingat, ekspor menurun seiring dengan kontraksi perekonomian global, konsumsi rumah tangga dan investasi menurun dampak dari Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).  Meski demikian, Perry optimis pertumbuhan ekonomi Indonesia meningkat 5 sampai 6 persen pada 2021.

Sementara itu, ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai penurunan suku bunga acuan BI mempunyai dampak terbatas pada nilai tukar rupiah cenderung kuat dan stabil. Hal tersebut seiring total aliran modal yang masuk hingga 15 Juni mencapai USD 7,3 miliar. ”Sejalan dengan defisit transaksi berjalan akan menyempit secara signifikan berada pada kisaran 1-1,5 persen PDB akibat kontraksi pada kinerja impor hingga Mei 2020 cenderung akan membantu penguatan rupiah hingga akhir tahun,” urai Josua saat dihubungi Jawa Pos.

Begitu pula ekonom Bank Danamon Wisnu Wardana menilai, sikap kebijakan moneter bank sentral tetap akomodatif. Meski begitu, suku bunga acuan tersebut masih relatif tipis dibandingkan dengan negara emerging market lainnya. ”Kami masih memproyeksikan pemotongan suku bunga 25bps lagi tahun ini,” tandasnya. (dee/han/JPG/r6)

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Korona Tinggi, Pola Pencegahan Covid 19 di Mataram Perlu Dievaluasi

emkot Mataram memang bekerja. Mereka berupaya memutus mata rantai penularan virus Korona. Sayangnya, kerja para pemangku kebijakan di Pemkot Mataram itu tanpa inovasi.

Enam Bulan, 19 Kasus Kekerasan Terhadap Anak Terjadi di Mataram

Kasus kekerasan anak di Kota Mataram masih sering terjadi. Buktinya, hingga Juli  tercatat sudah terjadi 19 kasus. “Kebanyakan dari kasus ini perebutan hak asuh,” kata Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Mataram Hj Dewi Mardiana Ariany, Selasa (14/7).

Larangan Dicabut, PNS Sudah Boleh Lakukan Perjalanan Dinas

Kebijakan pembatasan perjalanan dinas aparatur sipil negara (ASN) resmi dicabut. Kini ASN dibolehkan ke luar kota. Namun, dengan syarat-syarat khusus.

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Di Mataram, Tanpa Masker Tak Boleh Masuk Pasar

Saat ini, sebagian besar masyarakat NTB memang sudah menggunakan masker. Tapi, banyak pula yang memakai masker hanya sampai dagu atau di leher. Sementara di Kota Mataram dan Lombok Barat yang merupakan dua daerah zona merah dengan kasus Covid-19 terparah, banyak pedagang dan pengunjung pasar yang masih bandel. Mereka ngelencer di pasar tanpa masker.

Sukseskan Kampung Sehat, Tiga Pilar di Loteng Kompak

Pemkab, Polres dan Kodim 1620/Lombok Tengah siap menyukseskan lomba kampung sehat. “Harapannya masyarakat mempunyai kemampuan dan kemandirian dalam penanganan covid-19,” papar Kapolres AKBP Esty Setyo Nugroho saat memimpin upacara tiga pilar di Bencingah Alun-Alun Tastura, Praya, Selasa (14/7/2020).

Paling Sering Dibaca

Usai Pemakaman, Kades Sigerongan Lobar dan Lima Warga Lainnya Reaktif

Aktivitas di Kantor Desa Sigerongan lumpuh. Menyusul hasil rapid test kepala desa dan sejumlah warganya reaktif. Selama 14 hari ke depan, pelayanan di kantor desa ditiadakan sementara.

Korona NTB Masih Parah, Sekolah Hanya Bisa Dibuka di Kota Bima

Ketentuannya, kegiatan di sekolah pada tahun ajaran baru hanya diperbolehkan untuk daerah zona hijau. Karena itu, manakala ada pemerintah daerah yang nekat membuka sekolah non zona hijau. pemerintah pusat memastikan akan memberi sanksi.

Beli Honda ADV150, Hemat Rp 5,7 Juta

Honda ADV150 merupakan skutik penjelajah jalanan canggih dengan desain bodi yang futuristik dan manly. Skutik ini dibekali mesin 150cc eSP yang menyuguhkan performa responsif.

Liburan di Sungai Dodokan Lobar, Bayar Rp 5 Ribu Wisata Sampai Puas

Orang kreatif bisa membuat peluangnya sendiri. Itulah yang dilakukan Siali, warga Desa Taman Ayu, Kecamatan Gerung. Ia membuat Sungai Dodokan jadi spot wisata baru di Lombok Barat (Lobar).

Ikuti Mataram, Lobar Berlakukan Jam Malam

erkembangan pandemi Covid-19 di Lombok Barat (Lobar) semakin mengkhawatirkan. Kasus positif yang mencapai 300 lebih, menjadi atensi penuh Polres Lobar dalam melakukan upaya pencegahan penularan.
Enable Notifications.    Ok No thanks