alexametrics
Jumat, 12 Agustus 2022
Jumat, 12 Agustus 2022

Menanti Operasional Maksimal Pabrik Pakan Ternak

MATARAM-Uji coba operasional pabrik pakan ternak di STIPark terus dipercepat. Sebagai rangkaian dari program industrialisasi, hasil produksi pakan pabrikan ini masih terbatas.

Kepala Dinas Perindustrian NTB Nuryanti menyebut kendala berasal dari kebutuhan prasarana seperti silo. Silo digunakan sebagai penyimpan biji-bijian hasil pertanian dan pakan ternak. Saat ini itu masih dalam prosses tender. Selanjutnya utilitas yakni suplai listrik yang besar begitu pun anggarannya. Dengannya operasional pabrik baru dapat berjalan lancar.

”Estimasi butuh anggaran minimal Rp 3 miliar dan baru ada tahun depan dari APBD Perubahan,” katanya.

Dikatakan, proses operasional dan uji coba mesin telah berlangsung selama enam bulan dengan produktivitas yang amat kecil. Sehingga pasar serapannya pun terbatas baru sekitar dua persen. Transaksi jual beli baru ke sejumlah kalangan peternak lokal di Lombok dan Sumbawa. Selama proses uji coba, kapasitas produksi baru 25 ton per bulan. Meski kapasitas produksi dan pasar kecil, hasil produksi dari pabrik pakan ini sudah mampu meraup ozmet sekitar Rp 162,5 juta. Dengan harga jual Rp 325 ribu per sak ukuran 50 kilogram. ”Kalau kendala listrik sudah teratasi, maka kapasitas produksi dan omzet bisa lebih besar lagi,” jelasnya.

Baca Juga :  Virus Korona Bikin Okupansi Hotel di NTB Babak Belur

Idealnya, mesin dalam pabrik ini dapat beroperasi 6-8 jam per hari. Kemampuan produksi 5-7 ton per jam. Artinya, bisa berproduksi 30-50 ton lebih dalam sehari atau 900-1.500 ton per bulan. Jumlah ini pun diperkirakan cukup untuk mengatasi permasalahan pakan seluruh NTB. Jika seluruh operasional maksimal, target omzet Rp 9,750 miliar per bulan bukan mustahil untuk dicapai. Dengan catatan, seluruh perizinan edar dan formulasi pakan yang sesuai standar dan sehat untuk ternak juga sudah dikantongi. Sementara saat ini pihaknya juga masih terkendala proses perizinan dan kelistrikan.

”Kalau proses izin sudah keluar, baru produk ini bisa dipasarkan lebih luas dengan kapasitas sebesar tadi,” jelasnya.

Kedua persoalan tersebut sejauh ini masih menghambat operasional mesin dan pabrik secara maksimal. Padahal, jika pabrik berjalan maka seluruh ekosistem di dalamya sejak hulu hingga hilir juga dapat berjalan. Tantangan selanjutnya soal kesiapan SDM. Operasional pabrik membutuhkan tenaga kerja yang  banyak dan siap untuk ekosistem industri layaknya pabrikan di luar daerah. SDM harus siap dan sebelumnya harus melalui pelatihan yang matang. Jika tidak maka hanya akan memberatkan biaya untuk kelistrikan yang harus dioperasikan selama delapan jam per hari. ”Memang ada sistem kerja per shift, tapi apa SDM kita siap dengan budaya kerja pabrikan,”imbuhnya.

Baca Juga :  Vaksinasi PMK Ringankan Beban yang Ditanggung Peternak

Ia yakin kehadiran pabrik pakan ternak membuat peternakan di NTB menjadi lebih baik karena jaminan ketersediaan pakan. Para peternak pun senang karena harga bahan baku akan relatif stabil dan terjaga. Namun, juga dinilai perlu menjaga kestabilan serapan hasil produksi seperti telur dan ayam hasil peternak. ”Jadi ada simbiosis mutualisme,” katanya.

Nizar Patoni, salah satu peternak ayam asal Lombok Timur mengatakan, gaung keberadaan pabrik pakan belum masif. Peternak merasa mustahil jika kebutuhan pakan dapat dipenuhi dalam daerah apalagi oleh pemerintah sendiri. Mengingat peternak sering kesulitan mendapat pakan karena harganya cukup mahal. Pihaknya sendiri memenuhi kebutuhan pakan 7.000 ekor ayam ternaknya dari Surabaya. Jika kebutuhan pakan dapat dipenuhi dalam daerah, tentu akan menekan biaya produksi yang harus dikeluarkannya setiap bulan.

”Kita butuh 400 sak  per bulan dengan biaya yang dikeluarkan Rp 425 ribu per sak,” jelasnya. (eka/r9)

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications    OK No thanks
/