alexametrics
Rabu, 8 Desember 2021
Rabu, 8 Desember 2021

SKK Migas Klaim Kandungan Lokal di Industri Hulu Migas Capai 58 Persen

Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto mengungkapkan, per September 2021, realisasi penerimaan negara dari sektor hulu migas mencapai USD 9,53 miliar atau mencapai 131 persen. Pencapaian melebihi target tahun ini sebesar USD 7,28 miliar.

Menurutnya, selain kontribusi dalam bentuk penerimaan negara secara langsung, industri hulu migas berperan pula dalam menciptakan dampak berganda. Diantaranya, menggerakkan sektor industri atau jasa lainnya, penyerapan tenaga kerja, dan pengembangan ekonomi lokal.

Terkait dengan pengembangan industri nasional, SKK Migas telah berhasil mencapai angka TKDN 58 persen pada pembelanjaan barang atau jasa hulu migas per September 2021. Capaian ini di atas target yang ditetapkan pemerintah sekitar 50 persen pada 2024.

“Total pengadaan barang dan jasa per 30 September 2021 mencapai USD 2,6 miliar dengan komitmen TKDN sebesar 58 persen,” ujarnya dalam konferensi pers di JCC Senayan Jakarta, Kamis (21/10).

Dwi Soetjipto menambahkan, nilai kontribusi industri migas bagi sejumlah industri lain pada tahun 2020-2021 mencapai USD 7,126 miliar. Industri-industri ini mendapatkan efek berganda karena tetap beroperasinya sektor hulu migas saat pandemi Covid-19.

Salah satunya industri transportasi yang mencatat nilai USD 470 juta dengan TKDN sebesar 78 persen. Selain itu, ada juga industri tenaga kerja senilai USD 442,76 juta dengan TKDN sebesar 86 persen, industri perhotelan USD 129.88 juta dengan TKDN 92 persen.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Tutuka Ariadji mengatakan, pemerintah telah menyusun berbagai langkah dan upaya untuk pencapaian visi 1 juta barel minyak per hari dan 12 miliar kaki kubik gas per hari pada 2030.

“Visi tersebut memerlukan peran dan kerja sama semua pihak. Target ini akan mendorong penciptaan multiplier effect di berbagai sektor industri serta mendorong percepatan pemulihan ekonomi Indonesia,” tuturnya.

Terkait TKDN, Tutuka mengatakan, saat ini terdapat 224 perusahaan industri penunjang migas dan 363 perusahaan jasa penunjang migas yang terdaftar di dalam Buku Apresiasi Produksi Dalam Negeri (APDN). Buku tersebut merupakan acuan dalam pengadaan barang dan jasa serta sebagai pengendalian impor barang operasi pada kegiatan usaha hulu migas.

Pihaknya sendiri, lanjutnya, terus mengupayakan peningkatan kemampuan produsen dalam negeri melalui kolaborasi dan sinergi antara seluruh pemangku kepentingan dalam memastikan produk dalam negeri mampu memenuhi spesifikasi, mutu dan kebutuhan kegiatan operasi hulu migas.

“Dengan dukungan semua pihak maka diharapkan produk dalam negeri penunjang usaha hulu migas akan semakin berkualitas, harga yang kompetitif, dan penyelesaian yang tepat waktu,” pungkasnya. (JPG)

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications    OK No thanks