alexametrics
Jumat, 26 Februari 2021
Jumat, 26 Februari 2021

Saatnya Berbuat, Milenial dan Generasi Z bisa Pacu Pemulihan Ekonomi

MATARAM-Badan Pusat Statistik (BPS) telah merilis hasil Sensus Penduduk NTB 2020. Selama sepuluh tahun terakhir, jumlah penduduk bertambah 819,88 ribu jiwa.

September 2020 tercatat penduduk NTB menjadi 5,32 juta jiwa. Data menunjukkan jumlah tersebut didominasi oleh generasi Z dan milenial. ”Proporsi generasi Z sebanyak 28,62 persen dari total populasi dan generasi milenial sebanyak 27,24 persen,” jelas Kepala BPS NTB Suntono.

Generasi Z merujuk pada penduduk yang lahir di tahun 1997 – 2012. Perkiraan usia sekarang sekitar 8-12 tahun. Sedangkan generasi milenial adalah mereka yang lahir di tahun 1981-1996 atau kini berusia antara 24-39 tahun. Menurutnya, struktur penduduk dapat menjadi salah satu modal pembangunan ketika jumlah penduduk usia produktif sangat besar.

”Kedua generasi ini termasuk dalam usia produktif yang dapat menjadi peluang untuk percepatan pertumbuhan ekonomi,” katanya.

Persentase penduduk usia produktif, yakni usia 15-64 tahun pun terus meningkat. Pada tahun 1971, proporsi penduduk usia produktif 52,56 persen dari total populasi. Meningkat menjadi 69,77 persen di tahun 2020. Perbedaan yang tajam antara persentase penduduk usia produktif dan non produktif , yakni mereka yang berusia 0-14 tahun dan 65 tahun keatas, juga terlihat lebih tajam di tahun 2020.

”Persentase penduduk usia produktif yang lebih besar dibandingkan penduduk usia nonproduktif tersebut menunjukkan bahwa NTB telah berada pada era bonus demografi,” katanya.

Ekonom Universitas Mataram Firmansyah mengatakan hal ini mampu mempercepat pertumbuhan ekonomi NTB. Dengan syarat, pemerintah harus mampu memfasilitasi dan melatih skill mereka terjun ke sektor ekonomi kreatif. Sekaligus menempatkan mereka sebagai ujung tombak menggarap aneka peluang yang sulit disentuh generasi diatasnya.

”Sebab ekonomi kreatif yang berkaitan dengan teknologi, seni, kriya, dan sebagainya adalah wilayahnya anak muda,” katanya.

Terlebih, sektor ekonomi kreatif NTB sudah berpayung hukum melalui Perda No 3 Tahun 2020. Tinggal bagaimana pemerintah menginkubasi pikiran anak muda, merintis bisnis yang memiliki inovasi dan kreativitas tinggi. Sekaligus meningkatkan kemampuan pengusaha muda dengan menggandeng Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) NTB.

Dari sisi teknologi, pemerintah bisa memfasilitasi dengan menyediakan wifi murah, hingga ruangan dan pelatihan seni. Langkah itu guna mengasah kemampuan bidang digitalisasi dan ekonomi kreatif. Ini rangkaian cerita yang harus dijahit pemerintah untuk memanfaatkan eksistensi penduduk muda.

”Banyak aspek yang bisa dimaninkan anak muda. Baru kemudian kita bisa meyakini bahwa ini akan berpengaruh pada sektor pertumbuhan ekonomi,” ujarnya.

Generasi ini bisa menjadi produsen yang memproduksi keahlian sehingga menciptakan barang dan jasa. Pada sisi yang lain, mereka juga merangkap sebagai konsumen.

Pemerintah perlu mengambil peran meyakinkan anak muda memanfaatkan produk lokal sebagai trend. Ia mencontohkan, generasi Z dan milenilai pemilik bisnis kafe. Harus didorong untuk menggunakan bahan baku dan perabotan produk lokal.

”Kalau tidak dimanfaatkan, ya mereka hanya menyenangi sesuatu yang kekinian tapi belinya produk luar di platform nasional,” imbuhnya. (eka/r9)

 

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications   OK No thanks