alexametrics
Minggu, 20 Juni 2021
Minggu, 20 Juni 2021

UMKM Jangan Mau Kalah, Lawan Produk Impor

MATARAM-Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) NTB perlu menganalisa kembali sasaran pasar produknya. Hal tersebut mutlak dilakukan untuk bisa bersaing dengan produk impor.

Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) NTB Anas Amrullah member pandangannya. Selama ini kendala dalam persaingan langsung antara produk lokal dan impor adalah keduanya menyasar pasar yang sama. Sarannya, UMKM perlu meraih segmen yang berbeda. Salah satunya dengan menyasar segmen premium atau konsumen kelas menengah keatas.

”Kalau menyasar pasar yang sama, situasinya semakin kompetitif. Sedangkan harga impor lebih murah. Ini tentu tak menguntungkan bagi UMKM,” katanya, (22/2).

Memprediksi sasaran pasar adalah hal paling utama. Bukan sebaliknya, yang hanya berorientasi pada produksi produk besar-besar tanpa memperhatikan pasar. Juga memproyeksi apakah produk tersebut menjadi kebutuhan suatu pasar atau tidak. Jika menggaet pasar premium, UMKM lantas tinggal memberi nilai tambah pada produk tersebut. ”Itu yang perlu kita pikir. Kita harus memilih segmen yang tepat berikut nilai tambah yang ditawarkan,” ujarnya.

Menurutnya, soal produk impor yang membanjiri marketplace bukan isapan jempol belaka. Harga yang murah menjadikan produk impor ladang keuntungan baru bagi reseller (penjual kembali). Pihaknya menemukan, sebagian besar partisipan marketplace justru didominasi oleh reseller. Sedangkan pihak produsen hanya mengisi tak lebih dari 10 persennya saja.

”Harganya murah sehingga keuntungannya menggiurkan bagi reseller,” jelasnya.

Selanjutnya, intervensi pemerintah dengan membatasi masuknya barang impor secara bertahap perlu dilakukan. Pihaknya perlu melihat sejumlah aturan turunan dari Omnibus Law. Mencari kesempatan baru dengan mengidentifikasi mana saja produk impor yang diproteksi. ”Itu nanti bisa jadi kesempatan baru bagi kita,” imbuhnya.

Lebih lanjut, upaya peralihan penjualan dari offline ke online dengan layanan penjualan e-commerce lokal, juga dapat mendorong persaingan produk ini. E-commerce lokal diperlukan untuk membedakannya dengan produk yang ada di marketplace yang sudah didominasi penjual asing. NTB Mall bisa menjadi wadah yang tepat. Dengan catatan, dikelola secara benar sesuai fungsi dan tujuannya. Itu artinya, UMKM pun tetap harus dicekoki sejumlah literasi soal digitalisasi. ”Karena strategi digital marketing untuk online dan offline berbeda. Jadi ini perlu identifikasi lebih lanjut,” imbuhnya.

Hal serupa dikatakan Iwan Harsono, pengamat Ekonomi Universitas Mataram. UMKM dituntut untuk meningkatkan daya saing melalui efisiensi produk. Kuncinya, penggunaan IT dan teknologi untuk menekan biaya produksi. Globalisasi memaksa UMKM untuk mampu berkecimpung dengan potensi digitaliasi. Ditambah dengan inovasi pada pelayanan, seperti pesan antar, pembebasan biaya ongkir, dan sejenisnya.

”Pada efisiensi produk, mana yang bisa bersaing itulah yang bisa hidup,” katanya.

Namun, harga yang murah untuk berdaya saing tak boleh mengorbankan kualitas. Pemerintah daerah melalui dinas terkait harus berada di garda terdepan membantu UMKM. Bisa melalui bantuan alat dan promosi memanfaatkan APBD. ”Sebab, dua tantangan UMKM dan pemerintah saat ini yakni pandemi dan daya saing dengan produk impor,” katanya.

Septia Erianty pemilik UMKM Organic Lombok mengatakan, eksistensi produk impor memang menjadi tantangan baru bagi pelaku usaha lokal. Untuk bertahan, UMKM harus beradaptasi dengan melakukan diferensiasi produk menggunakan produk dan bahan baku yang tak dimiliki produk asing. Sehingga menipiskan kesempatan impor untuk mengambil alih target pasa UMKM.

”Jika mereka mau buat sendiri di pabrikan negaranya, mereka harus impor dulu bahan bakunya di kita,” katanya.

Menurutnya, produk impor yang merajalela karena adanya permintaan yang tinggi dari konsumen di Indonesia. Untuk itu, pemerintah perlu mendorong kampanye dan branding tertentu. Bertujuan menyadarkan konsumen agar lebih memilih produk lokal dibanding produk impor. ”Masyarakat harus mengubah persepsi, mindset untuk mulai mencintai dan membeli produk-produk lokal,” katanya. (eka/r9)

 

 

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications    OK No thanks