alexametrics
Senin, 27 Juni 2022
Senin, 27 Juni 2022

Telur Luar Daerah Terus Masuk, Peternak NTB Susah Bersaing

MATARAM-Harga telur yang menurun sejak beberapa hari terakhir dikeluhkan para pengusaha ayam petelur Kota Mataram. Penurunan harga telur ini disinyalir karena stok telur yang melimpah datang dari luar daerah seperti Pulau Jawa dan Bali.

“Sekarang ini kondisinya memburuk. Telur semakin banyak, pemasaran agak sulit,” kata Marsoan, salah satu pengusaha ayam petelur di Kelurahan Sayang-sayang kepada Lombok Post, kemarin (24/9).

Informasi yang ia terima, telur yang beredar di Kota Mataram banyak yang datang dari arah timur dan barat. Baik yang ada di daerah lain di Pulau Lombok seperti Lombok Timur dan Lombok Tengah mupun daerah luar Lombok seperti Jawa dan Bali. “Makanya kami peternak yang di sini melempem,” cetus Marsoan.

Sebelum harga menurun, ia mengaku bisa menjual telur per tray-nya Rp 45 ribu. Minimal Rp 40 ribu. Namun saat ini, harganya menurun hingga mencapai Rp 38-40 ribu. “Yang nawar juga nggak ada. Masih banyak telur di rumah (yang sudah panen),” tuturnya ditemui di lokasi kandang ayam petelur miliknya.

Sehingga dengan kondisi ini ia mengaku kesulitan dalam hal pemasaran. Untuk itu, para pengusaha ayam berharap ada kebijakan yang bisa membatasi telur datang dari luar daerah. Karena dampaknya membuat rugi pengusaha lokal.

Baca Juga :  Jokowi Resmikan Groundbreaking Pabrik Baterai Kendaraan Listrik

“Di satu sisi harga pakan naik, harga telur turun. Harga konsentrat Rp 436 ribu per sak (50 kilogram). Kemudian harga jagung per kilogram Rp 6.500. Dedaknya Rp 35 ribu. Biaya makan ayam petelur ini Rp 1,2 juta per tiga hari. Bagaimana kita nggak pusing kalau seperti ini,” keluhnya.

“Tapi Alhamdulillah ada saja yang beli. Cuma yang laku kadang satu dua tray (per hari). Tidak selancar seperti sebelumnya,” sambungnya.

Kabid Bapokting Dinas Perdagangan Kota Mataram Sri Wahyunida mengakui harga telur mengalami penurunan di sejumlah pasar. Biasanya, harga telur Rp 42-45 ribu per tray. Sekarang turun menjadi Rp 38-40 ribu. “Memang informasinya telur Jawa dan Bali masuk karena konsumsi di sana menurun akibat banyak hotel yang tutup. Makanya dipasok ke sini,” ucapnya.

Namun dengan kondisi harga saat ini, Nida sapaannya menilai harga masih dalam batas normal. Kecuali harga memang turun drastis di kisaran Rp 35 ribu. Ini baru menurutnya anjlok drastis. “Kita lihat juga nanti biasanya kebutuhan telur saat maulid meningkat. Bagaimana keadaan harganya,” cetusnya.

Baca Juga :  Tunaikan Donasi Zakat dengan Mudah dan Aman Bersama BRImo

Sementara Kepala Dinas Pertanian Kota Mataram H Mutawalli yang juga menangani persoalan peternakan mengaku mendapat keluhan sejumlah pengusaha ayam petelur. Terkait harga yang anjlok merugikan pengusaha.

“Kalau yang datang dari wilayah Lombok seperti Lombok Tengah dan Lombok Timur memang tidak bisa kami kendalikan. Yang bisa kami kendalikan dari Bali dan Jawa. Kami akan koordinasi dengan pemerintah Provinsi bagaimana agar telur yang masuk itu tidak merusak harga,” katanya.

Banyak terlur asal Jawa dan Bali yang ke Mataram dikatakan Mutawalli ‘telur gelap’. Dalam artian kadang tidak ada izinnya. Maka penanganan hal ini harus melibatkan semua unsur yang ada di Satgas.

“Ini bisa diawasi di Pelabuhan kalau ada telur masuk. Makanya nanti akan kami koordinasi dengan provinsi,” tegasnya.

Data Dinas Pertanian Kota Mataram, saat ini 15 orang pengusaha peternak ayam di Kota Mataram. Baik yang beternak ayam daging atau ayam petelur. (ton/r3)

 

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications    OK No thanks
/