alexametrics
Senin, 18 Januari 2021
Senin, 18 Januari 2021

Sepi Pembeli, Perajin Gerabah Banyumulek Terpaksa Alih Profesi

GIRI MENANG-Pandemi Covid-19 sempat memberikan angin segar terhadap industri gerabah di kawasan sentra kerajinan gerabah Desa Banyumulek, Kediri, Lombok Barat. Kala itu, banyak pemesanan pot gerabah ukuran besar untuk tempat mencuci tangan. Belum lagi pot kecil seiring bertambahnya pecinta tanaman hias pada masa pandemi.

Kini kondisi tersebut sudah tak ada lagi. ”Awal Korona pesanannya membludak sekali. Sekarang satu saja kalau bisa terjual,” ujar Hj Khairunnisa, pemilik toko Banyu Andika salah satu toko pengepul kerajinan gerabah, Rabu (25/11/2020).

Pada masa jayanya dulu, pihaknya bisa meraup omzet hingga puluhan juta setiap bulan. Ekspor produk gerabah sampai ke Perancis dan Amerika. Sepinya penjualan dirasakan sejak peristiwa bom Bali 2002 silam. Kini kondisi terus memburuk. Keuntungan pun merosot hanya Rp 20-100 ribu saja per hari, atau bahkan tak ada sama sekali. Hal ini membuat tak sedikit warga gulung tikar.

Sejumlah pengepul atau penjual gerabah, kini beralih profesi menjadi pengusaha kios-kios kecil atau pedagang keliling. ”Banyak sekarang yang jualan keliling barang apa saja daripada jualan gerabah,” ujarnya.

Terkait harga jual produk, bervariasi tergantung bentuk dan ukurannya. Termahal yakni pot jumbo seharga Rp 100-125 ribu, dan termurah mulai dari Rp 5 ribu saja untuk jenis pot anggrek. Menurutnya, kerajinan gerabah tak akan pernah kehilangan pasar. Karena ciri khas dan kualitasnya yang akan selalu dicari. Tak hanya bagi wisatawan luar, tapi juga pembeli dari seluruh Pulau Lombok.

”Nggak takut kesaing produk-produk plastik. Karena gerabah selalu dicari pembeli dari sini sampai Lotim segala macam,” ujarnya terkait alasan tetap bertahan.

Hanya saja kini kondisi sedang tak berpihak padanya. Dan ia sabar menanti hingga momen kejayaan itu kembali lagi.

Syarifudin, salah satu perajin gerabah juga mengatakan hal yang sama. Meski saat ini sepi pembeli, ditambah beberapa penjual yang beralih profesi, namun pihaknya tetap berproduksi. Tak banyak, hanya 2-4 produk yang didominasi ukuran kecil. Sedangkan ukuran besar hanya dibuat untuk mengisi stok yang sudah laku saja. ”Mau buat banyak yang beli juga sepi. Jadi buatnya kalau memang ada permintaan dari pembeli sama pengepul,” ucapnya. (eka/r9)

 

 

 

Berita Terbaru

Enable Notifications   OK No thanks