alexametrics
Sabtu, 28 Mei 2022
Sabtu, 28 Mei 2022

NTB Siap Ekspor Kayu Sonokeling ke China

MATARAM-Bisnis ekspor kayu sangat potensial. BUMD PT Gerbang NTB Emas (GNE) menyadari bahwa produk kayu merupakan salah satu komoditas yang sangat menjanjikan dan sangat diminati pangsa pasar dunia. Salah satunya adalah kayu jenis sonokeling berkualitas tinggi. Untuk itu, NTB melalui GNE akan mengekspor produk mebel setengah jadi dari olahan kayu sonokeling. ”China adalah buyer pertama untuk kayu sonokeling yang kita jual ke pasar Internasional,” kata Direktur Utama PT GNE Samsul Hadi, (26/11).

Sebanyak 32.000 kubik kayu tersedia untuk diproduksi menjadi barang mebel setengah jadi alias bukan gelondongan. Saat ini produk tengah dalam proses pengerjaan untuk kemudian finishing bentuk akan dilakukan di negara tujuan. Pasar untuk produk mebel di China sedikit berbeda dengan Indonesia yang biasanya langsung membeli prpduk sudah jadi. Di sana, mebel akan dibuat sesuai pesanan konsumen, diukur sendiri dan barulah dibuat. Sehingga produk kayu setengah jadi lebih dibutuhkan dibanding produk jadi.

”Ekspor dalam bentuk setengah jadi pun sudah memiliki value yang tak sedikit bagi pendapatan daerah,” papar Samsul.

Baca Juga :  Holding Ultra Mikro Gelar Roadshow Internalisasi Sinergi BRIGADE MADANI

China mengimpor produk Kayu sonokeling karena kualitasnya yang mumpuni. Belum lagi motifnya yang indah secara alami. Nilai ekspornya mencapai Rp 10 miliar. Ia memproyeksi potensi ekspor kayu sonokeling mampu lebih besar pada 2022 dan beberapa tahun yang akan datang. Sejumlah calon buyer lainnya juga mulai membuka komunikasi. Meski demikian, sesuai arahan industrialisasi pemda, PT GNE pun kini tengah berupaya membangun industri pengolahannya. ”Kita upayakan menyasar potensi pemasukan dengan nilai ekonomi yang lebih besar lagi,” ujarnya optimis.

Edy Fikri, dirut PT Cahaya Ramadan Sejahtera dari anak perusahaan GNE menegaskan, kayu yang diambil bukan berasal dari hutan lindung. Untuk mengimbangi pengambilan kayu sonikeling, pihaknya juga memprogramkan penanaman ulang agar industrialisasi tetap berjalan tanpa merusak lingkungan. ”Satu kali ekspor dilakukan, maka penanaman akan dilakukan dua kali lipat dari jumlah kayu yang dieskpor,” katanya. (eka/r9)

Baca Juga :  Sri Mulyani Ungkap Tiga Tantangan Pemulihan Ekonomi Global

 

 

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications    OK No thanks
/