alexametrics
Sabtu, 20 Agustus 2022
Sabtu, 20 Agustus 2022

Selama 2021, Penyaluran Kredit Konsumtif di NTB Mendominasi

MATARAM-Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi NTB mencatat selama tahun 2021 hingga Oktober penyaluran kredit untuk konsumtif paling banyak.

“Penyaluran kredit perbankan NTB berdasarkan jenis penggunaannya untuk konsumsi sebanyak Rp 24,138 triliun dengan Non Performing Loan (NPL) atau kredit macet sebesar 1,04 persen,” papar Kepala OJK NTB Rico Rinaldy.

Ia menjelaskan, penyaluran kedua sebanyak Rp 22,325 triliun dengan NPL atau kondisi debitur gagal bayar sebesar 2,33 persen di jenis penggunaan modal kerja. Sedangkan untuk jenis penggunaan investasi tersalurkan Rp 8,543 triliun dengan NPL 0,99 persen.

“Kalau dari asal kreditur penyaluran kredit terbanyak di Kota Mataram,” terangnya.

Tercatat di Kota Mataram kredit tersalurkan Rp 35,494 triliun. Kabupaten Sumbawa tersalurkan Rp 4,96 triliun, Kota Bima tersalurkan Rp 3,576 triliun. Dilanjutkan ada Kabupaten Lombok Timur tersalurkan Rp 3,483 triliun dan Kabupaten Lombok Tengah tersalurkan kredit Rp 2,857 triliun.

Baca Juga :  Berinovasi, Pria ini Jadikan Air Nira Miliki Nilai Jual Tinggi

“Kalau melihat daerah penyaluran ini, berarti masih banyak potensi daerah lainnya untuk menyalurkan kredit. Seharusnya perbankan bisa menangkap peluang ini,” tuturnya.

OJK NTB juga mencatat ada lima sektor ekonomi tertinggi penyaluran kredit. Sektor penerima kredit bukan lapangan usaha dengan nominal Rp 24,138 triliun, share 43,88 persen, dan NPL 1,04 persen. Sektor kredit perdagangan besar dan eceran dengan nominal Rp 10,98 persen, share 19,96 persen, dan NPL 3,32 persen. Sektor pertambangan dan penggalian dengan Rp 10,94 triliun, share 19,89 persen, dan NPL 0 persen. Sektor pertanian, perburuan, dan kehutanan dengan nominal Rp 3,486 persen, share 6,34 persen, dan NPL 1,58 persen. Sektor penyediaan akomodasi dan penyediaan makan minum dengan nominal Rp 1,307 triliun, share 2,38 persen, dan NPL 2,54 persen.

“Sektor lainnya tetap ada tapi belum terlalu banyak dan ini potensi yang bisa diincar semua perbankan di NTB,” imbuhnya.

Baca Juga :  LPS Jamin Bank Stabil, Belum Ada Potensi Gagal

Tercatat juga ada lima sektor penyumbang kredit macet atau debitur gagal bayar (Non Performing Loan/ NPL). Perdagangan besar dan eceran NPL mencapai 3,32 persen dengan nomimal Rp 364 miliar dan share NPL 42,58 persen. Penerima kredit bukan lapangan usaha NPL 1,04 persen dengan nomimal Rp 251 miliar dan share NPL 29,34 persen. Konstruksi NPL 6,41 persen dengan nominal Rp 69 miliar dan share NPL 8,08 persen. Pertanian, perburuan, dan kehutanan NPL 1,58 persen dengan nominal Rp 55 miliar dan share NPL 6,45 persen. Penyediaan akomodasi dan penyediaan makan minum NPL 2,54 persen dengan nominal Rp 33 miliar dan share NPL 3,89 persen.

“Sektor ini harus menjadi perhatian semua perbankan,” imbuhnya. (nur/r10)

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications    OK No thanks
/