Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Ekspor Terlambat Sebabkan Kerugian

Wahyu Prihadi • Senin, 9 Agustus 2021 | 13:47 WIB
SIAP DIEKSPOR: Seorang karyawan NTB Mall melayani pengunjung yang sedang memilih koleksi kerajinan ketak lokal, Selasa (6/4/2021). (Eka/Lombok Post)
SIAP DIEKSPOR: Seorang karyawan NTB Mall melayani pengunjung yang sedang memilih koleksi kerajinan ketak lokal, Selasa (6/4/2021). (Eka/Lombok Post)
MATARAM-Ketua Asosiasi Pengusaha Eksportir (Apex) NTB, Anhar Tohri menilai ekspor yang harus mundur dari jadwal akan menyebabkan berbagai kerugian. Salah satu yang disorot yakni keterlambatan pengiriman ekspor 40.000 kerajinan ketak ke Arab Saudi. Dari yang mulanya dijadwalkan dikirim September, dikhawatirkan harus mundur bulan selanjutnya.

”Saya pastikan keterlambatan itu akan membuat kerugian bagi kedua belah pihak, baik eksportir maupun negara tujuan,” tegasnya, (8/8).

Pertama, hal ini otomatis membuat stuffing atau proses memasukkan barang ekspor yang telah di-packing ke dalam kontainer juga ikut terhambat. Padahal ketersediaan kapal dan kontainer saat ini sudah dalam kondisi limit dan menjadi rebutan akibat krisis masa pandemi. Jika molor dari jadwal yang ditetapkan maka rawan untuk mengeluarkan biaya tambahan baru. Boleh jadi hal ini terpaksa membuat kedua belah pihak harus mengubah MOU antara keduanya.

”Yang paling merugikan, apa iya si buyers mau mengubah delivery ordernya, kan tidak semudah itu,” tegasnya.

Sarannya, untuk mengurangi semakin banyaknya kerugian, dengan membuat MOU baru berbasis delivery time. Alias batas perjanjian kerja yang lebih lama dengan importir. Meski pihaknya sendiri tak dapat menjamin apakah negara eksportir bersedia melakukannya. Apalagi jika letter of credit (L/C) ekspor tidak menggunakan metode pembayaran dagang internasional seperti freight on board (FOB).

FOB berarti pihak eksportir menanggung segala biaya dari gudang eksportir sampai penyerahan barang di atas kapal. ”Setelah barang berada di atas kapal, baru beban biaya ditanggung oleh importir,” katanya.

Menurutnya, hal ini seharusnya dapat menjadi pembelajaran untuk para eksportir. Apalagi pemerintah saat ini tengah menggenjot beragam produk lokal menjajaki pasar luar negeri. Namun penting untuk eksportir agar lebih detail menganalisa kemampuan produsen untuk membuat barang yang disorder. Sehingga dapat memberikan estimasi kapan batas waktu produksi, pengiriman, dan sebagainya.

”Jadi negara lain juga tak kapok bekerja sama dengan kita,” imbuhnya.

Sebelumnya, Kepala Dinas Perdagangan NTB Fathurrahman mengungkapkan pihaknya tengah mewanti-wanti kendala keterlambatan kerajinan ketak tersebut. Kendala yang dimaksud diantaranya, akses permodalan yang sulit dihubungkan dengan koordinator perajin. Padahal sejauh ini 600 perajin ditarget untuk memproduksi 500-600 pcs kerajinan ketak per hari. Bahkan 30 persen ditargetkan selesai pekan ini. Artinya akan ada 11 ribu tambahan yang masuk ke gudang penyimpanan. 70 persen sisanya akan diselesaikan sepanjang Agustus hingga pertengahan September mendatang. Diperkirakan pengiriman dimulai sekitar Oktober mendatang.

”Kita butuh setidaknya tiga bulan untuk memenuhi permintaan itu,” katanya.

Permasalahan lainnya yakni kelangkaan kontainer dan keterbatasan ruang atau space di kapal. Sebab China yang juga kembali menggalakkan ekspor, tengah menarik sejumlah kontainer untuk mendapatkan yang kosong guna memenuhi kebutuhan tersebut. Terlebih pemerintah Tiongkok memberikan subsidi dan kemudahan di pelabuhan. Sehingga pelayaran cenderung mengarakan kontainer kosongnya ke China, baru dilanjutkan ke negara lain. Alhasil, Indonesia harus memesan kontainer sejak pekan bahkan bulan sebelumnya.

”Ini kan efek global pandemi, jadi harus sesuaikan dengan kondisi yang ada,” katanya. (eka/r9)

  Editor : Wahyu Prihadi
#ekspor impor