Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Ayam Taliwang H Moerad, Eksis Sejak 1967

Galih Mps • Rabu, 15 Maret 2023 | 18:00 WIB
KHAS LOMBOK: Inilah menu legenda yang diciptakan Keluarga H Moerad dalam mengembangkan kuliner ayam Taliwang.(NURUL/LOMBOK POST)
KHAS LOMBOK: Inilah menu legenda yang diciptakan Keluarga H Moerad dalam mengembangkan kuliner ayam Taliwang.(NURUL/LOMBOK POST)

AYAM Taliwang merupakan salah satu kuliner khas Lombok yang sudah dikenal luas. Salah satu yang memulai paling awal, sejak 1967 adalah Ayam Taliwang H Moerad. Penciptanya adalah pasangan suami istri H Ahmad Moerad dan Hj Salmah Moerad. ”Kalau cerita ibu saya zaman dulu uang masih sangat murah, mungkin harganya tahun 1960-an itu bisa Rp 10-15 per ekor terus naik ke harga Rp 500 per ekor. Kalau yang saya ingat harga tahun 1980-an itu satu ekor Rp 2.500, kalau sekarang sudah Rp 57.500,” kata , Taufan Rahmadi, generasi ketiga Ayam Taliwang H Moerad.


Kreasinya menggunakan ayam kampung asli. Dengan usia rata-rata yang dipilih tiga bulan. Pemilihan usia itu ternyata mempengaruhi rasa. Meresapnya rempah-rempah yang digunakan, dan kualitas daging ayamnya. Ada beberapa varian yang ditawarkan. Yaitu ayam goreng, ayam bakar pelalah dengan bumbu pelalah, ayam pelecingan dengan bumbu merah yang lebih pedas. Seiring dengan berkembangnya waktu dan pengunjung, muncul kreasi ayam bakar madu. ”Bumbu semua ini diracik dengan resep khusus yang diciptakan Hj Salmah Moerad dan H Ahmad Moerad,” tambahnya.


Keduanya menciptakan makanan ini sudah kurang lebih 56 tahun silam. Ia mengatakan awal mula ayam taliwang ini ada karena sering dijadikan sebagai sajian tamu-tamu yang datang. Kala itu, keluarga H Moerad sering mendapatkan kunjungan dan mengundang orang-orang di daerah baik di Pulau Lombok atau Pulau Sumbawa. Menu yang disajikan kala itu pun olahan langsung Ayam Taliwang dari tangan keduanya.


Menariknya, usaha tersebut juga untuk membangun silaturahmi, bukan bicara murni bisnis. Pesan yang diingatnya,  jika suatu saat ada musafir yang datang dan kesusahan meminta makan, wajib diberikan dan jangan diminta bayaran. Ini salah satu hal pesan warisan (legacy) oleh H Moerad yang disampaikan ke anak cucunya.


”Banyaknya orang-orang yang suka dengan masakan nenek saya ini, membuat nenek menyampaikan maksudnya ke suami untuk berbisnis ayam Taliwang dan disambut baik kakek saya,” terangnya.


Nama Taliwang sendiri diambil karena merupakan asal daerah kakek nenek yang dari Pulau Sumbawa. Kedatangan ke Pulau Lombok karena pada saat itu, orang-orang Taliwang memiliki tiga keahlian yang dibutuhkan. Mulai dari keahlian memasak, pintar berkuda, dan jadi juru damai (negosiator). Undangan ini untuk menjalin komunikasi perdamaian dengan Raja Sasak dan Belanda saat itu. Keberhasilan dari komunikasi tersebut, maka diberikan hadiah tanah yang menjadi  Kampung Karang Taliwang Cakranegara saat ini. ”Masakan ayam taliwang ini dibawa spirit pada saat itu, Suku Taliwang diundang Raja Karangasem ke Lombok,” ceritanya.


Salah satu kekuatan dalam bisnis tradisional ini harus ada garis keturunan yang bisa untuk membuat dan meracik menu ini agar resep tidak berubah. Kuliner legenda hingga saat ini menjaga originalitasnya. Terakhir jelas harus memperhatikan bahan baku sesuai dengan standar terdahulu. ”Itu yang membuat pengunjung datang,” tambahnya.


Ririn, istri Taufan Rahmadi mengatakan dalam mengolah bumbu harus menggunakan bumbu yang digoreng. Ini menambah keawetan ayam taliwang setelah dibakar. ”Kalau dibakar menggunakan bumbu goreng lebih awet bisa tahan 24 jam suhu ruang dan seminggu kalau masuk freezer kulkas. Sedangkan kalau menggunakan bumbu mentah hanya bisa untuk makan langsung ditempat,” terangnya.


Dijelaskan, pihaknya tetap menggunakan tetap cabai rawit segar, walaupun sempat ada momen harga cabai melambung. Takaran akan tetap sama untuk menjaga cita rasa terjaga. ”Tidak bisa mengurangi takaran untuk menjaga cita rasa,” jelasnya. (nur/r9)

Editor : Galih Mps
#UMKM