Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Harga Pupuk Semakin Mahal, Petani Mengeluh

Galih Mega Putra S • Selasa, 27 Februari 2024 | 14:15 WIB
MUSIM TANAM: Sejumlah lahan sawah di Lombok Utara yang memasuki musim tanam, beberapa waktu lalu.
MUSIM TANAM: Sejumlah lahan sawah di Lombok Utara yang memasuki musim tanam, beberapa waktu lalu.

LombokPost-Banyak petani mengeluhkan mahalnya harga pupuk non subsidi saat ini.

Kenaikan harga yang terjadi cukup signifikan mencapai Rp 200 ribu per 100 kilogramnya.

Petani asal Lombok Utara Jemi Bahari mengatakan, harga pupuk saat ini sangat mahal.

Untuk jenis urea, harganya kini tembus di angka Rp 800 ribu hingga Rp 850 ribu per 100 kilogram.

”Padahal biasanya dulu harganya Rp 600 ribu sampai Rp 650 ribu per 100 kilogram,” ujarnya, kemarin (26/2).

Sedangkan untuk jenis NPK, tak banyak petani di daerahnya yang menggunakan itu.

Sepengetahuan Jemi, jenis pupuk yang paling banyak dicari petani adalah urea dan SP-36.

Pupuk SP-36 ini harganya kini menjadi Rp 600 ribu per 100 kilogram. Padahal sebelumnya, pupuk ini seharga Rp 400 ribu per 100 kilogram.

Berbicara kelangkaan, Jemi mengaku tidak ada, namun harga belinya yang naik.

Sedangkan jatah pupuk subsidi dari pemerintah masih belum cukup memenuhi kebutuhan petani. Jika dihitung per arenya, jatahnya tidak sampai satu kilogram.

”Jatah pupuk dari pemerintah itu tidak cukup karena sedikit sekali. Per 40 are hanya diberikan 60 kilogram, bukan 100 kilogram,” jelasnya.

Untuk mencukupi kebutuhan pupuk sawahnya, para petani mau tidak mau harus membeli pupuk subsidi. Meski mereka tahu harganya melambung cukup tinggi.

Untuk jenis urea, terkadang stoknya langka, juga menjadi kendala petani.

”Apalagi tidak ada keluar yang merek daun sekarang ini, itu yang sering dipakai oleh petani,” jelasnya.

”Malahan sekarang kalau tidak ada ya nitrea dan harganya melambung dia,” imbuhnya.

Dirinya memiliki lahan padi sekitar 60 are. Kebutuhan pupuk setelah diakumulasi secara keseluruhan hingga panen sekitar satu ton.

Untuk panen, kali ini diakui Jemi cukup bagus karena menggunakan padi jenis lama.

Jika merek saat ini, bobotnya diklaim berkurang.

Contohnya, dari biasanya panen 4 ton justru berkurang menjadi 2 ton saja.

Ditambahkannya, para petani berharap tidak lagi mengalami kendala pupuk untuk tanaman mereka.

Mereka juga berharap ke depan jatah pupuk yang diberikan bisa sesuai kebutuhan.

”Karena semakin lama jatah pupuk untuk petani semakin berkurang,” katanya.

”Kalau harga gabah sekarang ini Alhamdulillah naik dia, harga gabah tinggi saat ini,” tandasnya. (fer/r9)

Editor : Kimda Farida
#Petani #pupuk #mahal