Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Dari Mimpi ke Raksasa Rokok: Sejarah Gudang Garam yang Menguasai Pasar Kretek Indonesia

Alfian Yusni • Minggu, 7 September 2025 | 17:30 WIB
Dari mimpi sederhana Surya Wonowidjojo hingga kini, Gudang Garam telah menjadi legenda industri kretek. (istimewa)
Dari mimpi sederhana Surya Wonowidjojo hingga kini, Gudang Garam telah menjadi legenda industri kretek. (istimewa)

LombokPost - Siapa tak kenal Gudang Garam. Nama ini bukan sekadar merek rokok, melainkan simbol perjalanan panjang industri kretek Indonesia.

Bersama Djarum dan Sampoerna, Gudang Garam menjadi penguasa pasar rokok Tanah Air selama puluhan tahun.

Namun, sedikit yang tahu, kisah Gudang Garam bermula dari mimpi sang pendiri di Kediri pada 1956.

Adalah Surya Wonowidjojo atau Tjoa Ing-Hwie, seorang imigran Tionghoa yang merintis usaha rokok rumahan dengan merek Inghwie.

Produk kelobotnya laris di pasaran. Dua tahun kemudian, tepatnya 26 Juni 1958, Surya mengganti nama usahanya menjadi Perusahaan Rokok Tjap Gudang Garam.

Konon, nama itu terinspirasi dari mimpinya melihat sebuah gudang garam tua di seberang pabrik tempat ia bekerja dulu.

Logo pun dibuat sesuai gambaran gudang tersebut: dua pintu terbuka, dua setengah terbuka, dan satu tertutup.

Sejak saat itu, Gudang Garam menorehkan sejarahnya sendiri. Dari memproduksi sigaret kretek klobot (SKL), sigaret kretek linting-tangan (SKT), hingga merambah sigaret kretek linting-mesin (SKM).

Perusahaan ini terus bertumbuh. Tahun 1966, Gudang Garam sudah menjadi produsen SKT terbesar di Indonesia, dengan produksi mencapai ratusan juta batang per tahun.

Modernisasi pun dilakukan. Pada 1979, Gudang Garam mulai menggunakan mesin untuk memproduksi SKM, menggandakan kapasitas produksi dari 9 miliar menjadi 17 miliar batang per tahun.

 

Pabrik mereka di Kediri berkembang pesat, hingga luasnya mencapai 240 hektar dan menyerap puluhan ribu tenaga kerja.

Tak berhenti di situ, Gudang Garam melangkah lebih jauh. Tahun 1990, perusahaan ini resmi melantai di bursa, menjadi perusahaan terbuka dengan kode saham GGRM.

Sejak itu, Gudang Garam tak hanya menguasai pasar dalam negeri, tapi juga merambah ekspor ke Asia Tenggara, Timur Tengah, hingga Jepang.

Produk-produk andalannya—dari Gudang Garam Merah, Djaja, Surya 16, GG Mild, hingga GG Shiver—terus mendominasi pasar.

Namun, kejayaan Gudang Garam juga menghadapi tantangan. Kenaikan cukai rokok tiap tahun membuat laba perusahaan berfluktuasi.

Saham GGRM sempat melemah akibat tekanan biaya produksi. Meski begitu, Gudang Garam tetap menjadi penyerap tenaga kerja terbesar di Kediri, dengan karyawan mencapai puluhan ribu orang.

Lewat program CSR, Gudang Garam juga berkontribusi dalam pendidikan, kesehatan, olahraga, hingga infrastruktur.

Kini, di bawah kepemimpinan keluarga Wonowidjojo, terutama Susilo Wonowidjojo yang menjabat Presiden Direktur sejak 2009, Gudang Garam masih bertahan sebagai salah satu raksasa rokok Indonesia.

Dari mimpi sederhana Surya Wonowidjojo hingga kini, Gudang Garam telah menjadi legenda industri kretek, bersanding ketat dengan Djarum dan Sampoerna dalam menguasai pasar.

Sejarah Gudang Garam adalah bukti bahwa sebuah mimpi bisa tumbuh menjadi kekuatan besar.

Sebuah cerita dari Kediri yang tak hanya mengubah nasib keluarga, tapi juga menyerap puluhan ribu tenaga kerja, menggerakkan ekonomi, dan menjadikan Gudang Garam sebagai ikon budaya rokok Indonesia. (***)

Editor : Alfian Yusni
#Gudang Garam #penguasa pasar rokok #Surya Wonowidjojo #djarum #sampoerna