Di tengah fluktuasi pasar modal, emiten pelat merah—khususnya di sektor pertambangan—berhasil membukukan kinerja positif yang didorong oleh stabilitas harga komoditas serta transformasi internal yang meningkatkan efisiensi operasional.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta Utama, menilai bahwa penguatan ini bukan sekadar fenomena jangka pendek.
Menurutnya, emiten seperti PT Timah Tbk (TINS) dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) memiliki landasan teknikal yang solid untuk mempertahankan tren positif di masa mendatang.
“Sejumlah emiten pelat merah nonbank memperlihatkan tren teknikal yang positif. Saham seperti TINS, ANTM, lalu TLKM dan PGEO juga memiliki prospek yang relatif kuat,” ujarnya di Jakarta, Jumat (2/1/2026).
Nafan menjelaskan bahwa faktor kepemimpinan dan aksi korporasi menjadi pendorong utama meningkatnya kepercayaan investor.
Langkah pemerintah dalam melakukan perombakan manajemen di sejumlah BUMN memberikan sinyal positif terkait penguatan tata kelola perusahaan (good corporate governance), disiplin dalam belanja modal (capex), serta efisiensi biaya operasional.
Selain itu, rencana restrukturisasi BUMN melalui Badan Pengelola Investasi Danantara Indonesia menjadi katalisator baru yang dinantikan oleh pelaku pasar.
“Jika dinamika Danantara berjalan konsisten, peluang perbaikan kinerja emiten BUMN dan indeks terkait akan terbuka lebar menuju 2026,” imbuh Nafan.
Senada dengan analisis tersebut, Head of Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata, melihat masih terdapat ruang pertumbuhan bagi saham BUMN sektor pertambangan.
Penurunan biaya dana (cost of fund) serta valuasi emiten pelat merah yang kini terkategori sebagai value stocks menjadi daya tarik utama bagi para manajer investasi.
Liza memprediksi sektor komoditas strategis dan energi akan tetap mendominasi pergerakan pasar pada tahun ini.
Fokus pemerintah pada program hilirisasi industri juga memberikan dampak langsung pada fundamental emiten.
“ANTM menjadi salah satu kandidat kuat dari sektor tambang, seiring prospek hilirisasi yang terus berjalan,” tutur Liza.
Kombinasi antara perbaikan fundamental perusahaan dan sentimen makroekonomi yang mendukung diharapkan mampu menjaga daya saing saham BUMN nonperbankan di bursa nasional, sekaligus memberikan nilai tambah jangka panjang bagi para pemegang saham.
Editor : Redaksi Lombok Post