Nutsafir Cookies, brand kue kering berbasis biji-bijian lokal, membuktikan inovasi dan ketekunan mampu membawa produk UMKM melintasi batas negara.
Berdiri sejak 11 September 2012, Sayuk Wibawati sang pemilik, mengawali perjalanannya dari garasi dan halaman rumah.
Dengan modal awal sebuah oven hock manual, Sayuk perlahan menyulap komoditas pertanian lokal. Kacang hijau, jagung, lebui, hingga melinjo disulap jadi kue kering premium bernutrisi tinggi.
Perjalanan Sayuk bukanlah instan. Ia mengenang masa-masa sulit saat produksi masih dilakukan sepenuhnya dengan tangan.
Selama tiga tahun pertama, adonan dibuat secara manual hingga tangan para karyawannya kerap mengalami kram.
"Perbandingan efisiensi waktu dan kapasitas produksi naik hingga 75 persen ketika kami akhirnya mampu membeli mesin pengaduk dan mesin giling berkapasitas 300 kg per jam," papar Sayuk
Transformasi teknologi terus berlanjut. Dari oven manual, kini Nutsafir telah menggunakan mesin oven digital berkapasitas besar.
Inovasi ini didukung dengan standar keamanan pangan yang ketat, terbukti dengan raihan Sertifikat Bintang Satu Keamanan Pangan dari BPOM dan sertifikat Halal sejak 2013.
Sejak awal 2025, produk ini mulai agresif merambah pasar internasional melalui platform e-commerce. Memanfaatkan program ekspor Shopee, Nutsafir kini mulai kebanjiran pesanan dari Malaysia.
"Baru sekitar tiga bulan kami aktif di fitur ekspor. Respons konsumen sangat positif, terutama mengenai keamanan kemasan," ujar Sayuk bangga.
Sebelumnya, Nutsafir bahkan telah lebih dulu menjejakkan kaki di Australia dan Selandia Baru. Melalui kerja sama dengan agregator, produk Nutsafir kini tersedia di toko-toko ritel Asia di Adelaide dan beberapa kota di Selandia Baru, dengan penyesuaian label nutrition facts sesuai regulasi setempat.
Pemanfaatan digital marketing menjadi kunci. Sayuk mengungkapkan sejak mengelola toko daring secara serius, penjualan meningkat hingga 600 persen.
Dengan 10 varian rasa yang mampu bertahan hingga 16 bulan tanpa pengawet, Nutsafir optimis dapat terus memperluas pasar global.
Di balik manisnya cuan Nutsafir, yang mencatat omzet rata-rata Rp 200 juta per bulan, terselip misi mulia.
Sayuk berkomitmen mempekerjakan 100 persen tenaga kerja perempuan, termasuk mereka yang memiliki keterbatasan pendidikan formal.
"Kami ingin memberi ruang bagi perempuan agar bisa berperan menopang ekonomi keluarga," tandasnya.
Editor : Kimda Farida