LombokPost – NTB menutup tahun 2025 dengan catatan performa pertumbuhan ekonomi yang impresif. Badan Pusat Statistik (BPS) NTB melaporkan pertumbuhan ekonomi pada Triwulan IV-2025 melonjak drastis sebesar 12,49 persen (yoy) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Kepala BPS NTB, Wahyudin menerangkan capaian pada triwulan keempat ini merupakan pertumbuhan tertinggi yang pernah diraih NTB dalam empat tahun terakhir. Secara kuartal (q to q) atau triwulan, ekonomi NTB juga tumbuh positif sebesar 3,97 persen dibandingkan sebelumnya.
"Angka ini menjadi barometer penting bagi kita untuk menjaga ritme pertumbuhan ke depan," ujar Wahyudin, Kamis (5/2).
Menariknya, jika variabel tambang biji logam dikeluarkan dari perhitungan, performa ekonomi NTB justru terlihat jauh lebih kuat dan stabil.
Secara kumulatif selama tahun 2025, pertumbuhan ekonomi non tambang NTB tercatat mencapai 8,33 persen.
Angka ini jauh melampaui pertumbuhan ekonomi nasional yang dirilis pada hari yang sama di angka 5,11 persen.
"Artinya apa? Sektor-sektor di luar tambang ini sangat menggembirakan. Pertumbuhannya sangat signifikan dan menjadi penopang nyata bagi ekonomi masyarakat," tegas Wahyudin.
Meski demikian, secara kumulatif (c to c) termasuk sektor tambang, pertumbuhan ekonomi NTB sepanjang tahun 2025 berada di angka 3,22 persen.
Wahyudin mengakui angka ini belum mencapai target nasional (7 persen) maupun target RPJMD revisi (6,5 persen). Hal ini disebabkan oleh kontraksi atau pertumbuhan negatif yang terjadi pada triwulan I dan II tahun 2024.
"Kenaikan fantastis di triwulan keempat ini baru mampu menutup minus yang terjadi di awal tahun, sehingga secara total tahunan kita berada di angka 3,22 persen," imbuhnya.
Dari sisi lapangan usaha, Industri Pengolahan menjadi jawara dengan pertumbuhan luar biasa mencapai 137,78 persen (yoy). Hal ini dipicu oleh mulai beroperasinya industri logam dasar dari hasil smelter di Sumbawa Barat.
Selain industri, sektor Jasa Keuangan juga tumbuh kuat sebesar 28,12 persen, disusul sektor Perdagangan sebesar 12,29 persen, serta Akomodasi Makan dan Minum sebesar 11,17 persen.
Wahyudin menyoroti geliat sektor perdagangan dan konsumsi ini tidak lepas dari dampak implementasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang mulai masif di NTB sejak Februari 2025.
"Program MBG masuk ke dua sektor utama, yakni perdagangan dan usaha makan minum. Per Desember 2025, tercatat sudah ada 534 unit operasional MBG yang aktif di NTB, ini yang mendorong konsumsi kita tetap tinggi," jelasnya.
Data BPS juga menunjukkan adanya pergeseran struktur ekonomi di triwulan terakhir. Sektor Pertambangan kini menyalip sektor Pertanian sebagai pemegang share ekonomi terbesar di NTB.
Pertambangan kini memegang porsi 18,75 persen, mengungguli sektor Pertanian yang berada di angka 18,49 persen.
Lonjakan tambang ini didorong oleh kebijakan relaksasi ekspor konsentrat yang mulai berdampak pada November dan Desember 2025.
"Meski pertanian sedikit tergeser secara persentase share, namun secara keseluruhan tiga kategori utama yakni Pertanian, Pertambangan, dan Perdagangan tetap menjadi tulang punggung yang menopang lebih dari 50 persen ekonomi NTB," tutup Wahyudin.
Editor : Marthadi