Hal ini merupakan upaya menekan angka kemiskinan ekstrem hingga nol persen pada tahun 2029 nanti.
Deputi Kepala Perwakilan BI NTB Andhi Wahyu Riyadno menjelaskan, pihaknya kini intens melakukan diskusi dengan berbagai pemangku kepentingan.
Hal itu untuk menyusun skema dukungan yang paling presisi. Salah satu senjata yang disiapkan BI yakni Program Kelompok Subsisten.
"Program Kelompok Subsisten ini menyasar kelompok usaha ultra mikro yang skalanya lebih kecil dari usaha mikro biasa. Kami arahkan untuk menjangkau masyarakat prioritas, termasuk penerima bansos dan warga miskin ekstrem," ujar Andhi.
Andhi menjelaskan, pendekatan BI tidak hanya menyentuh aspek permodalan. Pihaknya juga fokus pada penguatan kapasitas dan pendampingan berkelanjutan.
Tujuannya jelas, agar pelaku usaha ultra mikro di desa tidak sekadar bertahan hidup, tetapi bisa "naik kelas" mandiri secara ekonomi.
"Tujuan Kelompok Subsisten dan Desa Berdaya memiliki irisan yang kuat dalam menekan kemiskinan ekstrem," jelasnya.
Akurasi data menjadi kunci agar program ini tidak salah sasaran. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) NTB Wahyudin menegaskan, penentuan penerima manfaat kini berbasis pada Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN).
Wahyudin memaparkan, saat ini 144 pendamping desa telah diterjunkan di 40 desa awal untuk melakukan verifikasi lapangan.
Langkah ini krusial mengingat Program Desa Berdaya dirancang sebagai program berkelanjutan yang akan diperluas ke 33 desa tambahan pada 2027 mendatang.
"Kami ingin memastikan data benar-benar akurat. Pendamping desa ini akan membina masyarakat miskin ekstrem selama 1,5 hingga 2 tahun sampai mereka benar-benar mandiri dan keluar dari garis kemiskinan," tegas Wahyudin.
Baca Juga: Wi Ha Joon vs Kim Jung Hyun, Dua Pesona Kontras di Drakor Siren’s Kiss
Berbeda dengan skema bantuan sosial (bansos) yang bersifat sekali putus, sinergi Desa Berdaya ini menitikberatkan pada aspek produksi.
Masyarakat tidak hanya diberi bantuan, tetapi dibina untuk memiliki unit usaha mandiri sesuai potensi lokal yang dikuasai.
Langkah kolaboratif ini diharapkan mampu mengikis angka kemiskinan ekstrem yang saat ini masih berada di kisaran 2,4 persen. Sehingga NTB bisa menuju target nol persen dalam tiga tahun ke depan.
Editor : Kimda Farida