alexametrics
Sabtu, 25 Juni 2022
Sabtu, 25 Juni 2022

Berkah MotoGP, Ayam Bakar Taliwang Khas Pak Udin Terjual 400 Ekor Sehari

Berkah MotoGP Mandalika secara nyata berikan dampak positif bagi perekonomian daerah, terutama pelaku UMKM bidang kuliner. Seperti yang dialami Siti Sana’ah dan suami. Berikut ulasannya.

Perhelatan ajang balap berskala internasional MotoGP yang digelar di Sirkuit Mandalika turut memberikan dampak positif bagi perekonomian daerah salah satunya melalui pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di Kota Mataram, Lombok, Provinsi NTB.

Hal ini dialami langsung oleh Siti Sana’ah, 63 tahun bersama suami, Saherudin, 72 tahun. Keduanya pemilik rumah makan Ayam Bakar Taliwang Khas Pak Udin di Cakranegara yang ramai dikunjungi wisatawan.

“Perhelatan MotoGP kemarin, membuat usaha kami kebanjiran pesanan. Rumah makan kami ramai dikunjungi oleh wisatawan asing dan wisatawan lokal, seperti pejabat dan sejumlah artis Ibu Kota juga mampir untuk makan ayam bakar taliwang,” tutur Siti Sana’ah, Jumat (1/4/2022).

Ia menuturkan, dua hari sebelum acara MotoGP dimulai hingga hari terakhir penyelenggaraan dirinya bisa menjual lebih dari 400 ekor ayam per hari. Sehingga omzet penjualan offline meningkat 80 persen dalam sehari. Tidak hanya itu, penjualan online melalui layanan GrabFood pun berdampak dan meningkat hingga 30 persen jika dibandingkan hari-hari sebelumnya.

Pandemi Covid-19 yang melanda memberikan dampak bagi seluruh pelaku usaha, tak terkecuali usaha milik pasangan suami-istri ini. Kala itu, pendapatan mereka mengalami penurunan drastis hingga 75 persen, dikarenakan tidak ada satupun pelanggan yang berkunjung ke rumah makan akibat diberlakukannya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) oleh pemerintah setempat.

Baca Juga :  Begini Cara Kafe Rain Membantu Musisi Lokal Terdampak Covid-19

“Demi mempertahankan usaha ini, segala cara sudah kami lakukan. Kami sempat buka lebih awal, biasanya kami buka pukul 17.00 Wita tapi kami mulai berjualan sejak pukul 14.00 Wita hingga pukul 20.00 Wita. Meski begitu, tidak ada satupun pembeli yang berkunjung ke rumah makan kami. Bahkan kami sempat tidak berjualan selama tiga hari sehingga 20 ekor ayam yang sudah kami potong, terbuang begitu saja,” bebernya.

Beruntung, sambung Siti, salah satu pelanggan memberikan masukan untuk berjualan secara online. Ia pun memutuskan untuk bergabung menjadi salah satu mitra merchant GrabFood di tahun 2020.

“Syukurlah, sejak berkenalan dengan teknologi, kami tetap dapat melayani pelanggan bahkan menjangkau masyarakat lebih banyak lagi meskipun di tengah PSBB,” jelas Siti.

Layanan pesan antar makanan ini, rupanya bisa mendukung keberlangsungan usaha Ayam Bakar Taliwang Khas Pak Udin.

“Setelah tiga bulan terdaftar sebagai mitra merchant GrabFood, banyak sekali dampak positif yang kami rasakan. Mulai dari peningkatan pendapatan hingga 45 persen, konsumen lebih mudah mencari rumah makan kami, hingga mempertahankan seluruh karyawan kami,” ujar Ibu Siti.

Ayam Bakar Taliwang Khas Pak Udin dimulai dari gerobak sederhana dan resep dari sang nenek. Dalam merintis usahanya, pasangan suami-istri ini mengalami jatuh bangun, namun mereka tetap gigih dalam menjalani usahanya karena percaya bahwa suatu hari nanti, ayam Taliwang-nya akan dikenal oleh banyak orang.

“Saya dan suami memulai usaha ini sejak 2002 dengan berjualan kaki lima ke beberapa daerah di sekitar Lombok. Waktu itu, kami hanya menjual satu ekor ayam yang dibagi menjadi 5 potong. Awal-awal, sempat tidak terjual sama sekali, ada juga pelanggan yang datang hanya membeli ketimun dan pelecing kangkung saja. Namun sekecil apapun hasilnya, selalu kami syukuri,” terang Ibu Siti.

Baca Juga :  Butuh Komitmen Bersama, Libur Dua Pekan Agar Korona Tidak Semakin Menyebar

Pasangan suami-istri ini melakukan berbagai strategi agar usahanya laris.

“Selama hampir 10 tahun, kami berpindah dari satu lokasi ke lokasi lainnya menggunakan gerobak demi memperkenalkan Ayam Bakar Taliwang Khas Pak Udin. Perlahan-lahan ayam taliwang kami dibanjiri pelanggan hingga kami memutuskan untuk mempekerjakan 6 orang karyawan yang berasal dari warga sekitar,” lanjutnya.

Tahun 2012, Ibu Siti dan Pak Udin memulai langkah baru. Mereka memberanikan diri untuk menyewa sebuah rumah toko (ruko) sebagai lokasi usaha yang baru. Tidak hanya itu, Ibu Siti dan Pak Udin juga dibantu oleh anak-anaknya dalam mengembangkan Ayam Bakar Taliwang Khas Pak Udin. Usaha ini pun semakin berkembang dan dapat membuka lahan pekerjaan baru. Hingga kini, Ayam Bakar Taliwang Khas Pak Udin memiliki 12 orang karyawan.

“Perjalanan berdirinya usaha kami tidak luput dari semangat dan terus usaha. Kondisi perkembangan zaman pun membuat kami yang tadinya hanya mengandalkan penjualan secara offline, kini membuat kami percaya teknologi dapat membantu kami mempertahankan Ayam Bakar Taliwang Khas Pak Udin hingga saat ini,” tutup Siti. (lestari dewi/r10)

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications    OK No thanks
/