alexametrics
Senin, 21 September 2020
Senin, 21 September 2020

ATLET-ATLET KEBANGGAAN BUMI GORA

“Berbahagialah dia yang makan dari keringatnya sendiri bersuka karena usahanya sendiri dan maju karena pengalamannya sendiri.”

PRAMOEDYA ANANTA TOER, Bumi Manusia

————————————————————————–

PERJUANGAN Fadlin, sungguhlah panjang. Jika kini, di usia 30 tahun, hidupnya begitu sejahtera, semuanya karena kerja yang sungguh-sungguh keras.

Fadlin, adalah atlet atletik NTB terlama di Pemusatan Latihan Nasional (Pelatnas). Terhitung hingga sekarnag, sudah 12 tahun. Dan sekarang, pria kelahiran Bima tahun 1989 tersebut telah merasakan nikmatnya menjadi atlet.

Siapa sangka. Dulu, Fadlin memulainya dengan begitu prihatin. Sebelum masuk Pelatnas, dia sama sekali tak memiliki sesuatu. Sepatu untuk berlari pun Fadlin tak punya.

”Saya kan dari kampung. Kalau lari nyeker,” kata Fadlin. Nyeker adalah istilah anak-anak muda zaman sekarang. Maknanya tak pakai alas kaki.

Dari kakaknya Fadlin mengenal olahraga atletik. Itu tahun 2004. Kakaknya yang membawanya mengikuti seleksi atlet atletik di Kota Bima. Dia dulu di tes oleh Pak Zubair. Pelatih atletik tertua di Bima.

Saat latihan, Fadlin tak  menggunakan sepatu. Hasilnya sudah bisa ditebak. Selepas latihan, telapak kakinya  selalu memar.

”Maklum tempat kita berlatih grapel,” kata Fadlin. Grapel adalah lintasan lari yang berwarna merah. Berupa tanah keras dan kering. Mirip serbuk batu bata merah.

Sempat pula terpikir di benaknya untuk berhenti latihan. Menyerah saja. Tetapi, kakaknya memberikan semangat. Dan Fadlin pun membulatkan tekad.

Tapi muncul pula kendala lain. Kali ini soal jarak rumahnya dengan lapangan tempatnya berlatih. Cukup jauh. Sekitar dua kilometer. ”Kadang-kadang tidak ada kendaraan,” ingatnya.

Terpaksa, untuk bisa menempuh itu, harus berlari dari rumah ke lapangan. Terkadang naik tumpangan gratis mobil-mobil pikap  yang melintas. ”Begitu berat perjuangan,”ujarnya.

Dalam hitungan bulan berlatih, Fadlin dipercaya pelatihnya turun membela Kota Bima di Pekan Olahraga Pelajar Daerah (Popda) pada akhir 2004. Hasilnya cukup mengejutkan. Fadlin yang lari tanpa sepatu berhasil menjadi yang tercepat di nomor lari 100 dan 200 meter.

”Saya meraih 2 medali emas,” bebernya.

Namun, meski juara, Fadlin tak masuk Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar (PPLP) NTB. Malah yang masuk adalah pelari yang meraih juara dua dan tiga.

”Sempat saya kecewa saat itu,” ujarnya.

Tapi, kegagalan itu dijadikan sebagai motivasi. Sepulang dari Popda, dia terus menempa diri. Pada 2006, Fadlin kembali dipercaya Zubair turun di Popda.

”Saya pertahankan gelar itu,” kata dia.

Kali ini, dia sukses. Fadlin dilirik dan masuk ke PPLP NTB. Setelah masuk ke PPLP, baru dia belajar berlari menggunakan sepatu spike, sepatu khusus untuk atlet lari profesional.

”Saya ingat dulu pertama kali sepatu saya mereknya Panther,” jelasnya.

Sepatu tersebut pada zamannya tidak terlalu populer. Baru tiga hari digunakan, sepatu itu langsung rusak. ”Ya terpaksa saya jahit,” jelasnya.

Di PPLP, tahun 2006 itu, Fadlin menerima uang saku Rp 300 ribu sebulan. Makan dan minum ditanggung. Biaya pendidikan juga ditanggung.

Setelah setahun berlatih, dia langsung turun mengikuti Pekan Olahraga Pelajar Nasional (Popnas) di Jakarta.  Dia berhasil meraih medali emas.

”Tidak ada bonus saat di Popnas,” akunya.

Namun, ada bonus dalam bentuk lain rupanya. Prestasi gemilang yang ditorehkan Fadlin di ajang multi event antar pelajar itu, membuatnya dipanggil ke pelatnas. Dia dipercaya mengikuti Asean School Games di Jakarta. ”Uang sakunya masih tetap dari daerah nilainya Rp 300 ribu,” jelasnya.

Tampil mengejutkan, Fadlin meraih medali emas. Dia mendapatkan bonus. ”Ada sekitar Rp 2 jutaan kalau tidak salah,” ujarnya.

Uang sebanyak itu, cukup banyak bagi dirinya. Karena sebelumnya dia tidak pernah memiliki uang pribadi sebanyak itu. ”Saya sangat senang waktu menerima bonus itu,” bebernya.

Semakin terasah, meski dalam keadaan junior, dia dipercaya turun di PON Kaltim 2008. Tetapi, gagal berprestasi. ”Kalah saing sama Suryo Agung,” ujarnya.

Kendati demikian, Fadlin tetap dipanggil mengikuti Pelatnas. Persaingan atlet di Pelatnas cukup ketat. Fadlin hanya dijadikan sebagai pelapis.

”Pesaing saya waktu itu Suryo Agung yang saat itu masih memegang rekor di Asia Tenggara,” kata dia.

Gaji pertama di pelatnas Rp 1,5 juta per bulan. Gajinya ia gunakan untuk membeli peralatan yang lain. ”Kalau makan, akomodasi, serta biaya kesehatan tidak saya pikirkan. Karena sudah ditanggung,” ujarnya.

Pada 2009, Fadlin dipercayakan turun pada SEA Games di Vientane, Laos. Dia mengikuti nomor lari 100 meter dan estafet 4×100 meter. Dia mempersembahkan dua medali perunggu untuk Indonesia.

Bonus besar pun mulai mengalir. “Saya dapat bonus sampai Rp 50 jutaan saat itu,” terangnya.

Sejak prestasinya itu, Fadlin terus dipercaya mengikuti ajang-ajang internasional. Karirnya semakin melonjak. Fadlin diturunkan di Asian Games 2010 di Guangzhou, Cina. “Tapi, saya gagal persembahkan medali,” ujarnya.

Pada 2011, dia turun di SEA Games Palembang. Dia berhasil mempersembahkan medali emas. ”Saya dapat Rp 200 juta,” ungkapnya.

PON 2012, Fadlin memborong  medali. Dia mempersembahkan  dua emas dan satu perak. ”Saya dapat bonus Rp 275 juta,” kata dia lagi.

Tahun berikutnya, Fadlin turun di SEA Games 2013 di Myanmar. Dia menyumbangkan medali perak dan perunggu. Di nomor 100 meter dan estafet 4×100 meter. ”Bonus yang didapatkan Rp 50 jutaan,” ujarnya.

Pada 2015, dia turun di SEA Games. Tetapi, hanya mempersembahkan medali perunggu. ”Saya hanya dapat mendapatkan bonus Rp 25 juta,” ungkapnya.

Terakhir, dia mendapatkan bonus saat turun di Asian Games 2018. Saat itu, Fadlin bersama Zohri, Eko Rimbawan, dan Bayu Kertanegara mempersembahkan medali perak. ”Saya dapat bonus dari Kemenpora Rp 300 juta,” kata dia.

Setelah itu, Fadlin memutuskan pensiun dari atlet Pelatnas. Selama di Pelatnas dia delapan kali memecahkan rekor di nomor lari estafet  4×100 meter.

”Setiap memecahkan rekor saya mendapatkan Rp 100 juta,” terangnya.

Ditanya soal tabungannya selama menjadi atlet, kepada Lombok Post, Fadlin mengaku kini memiliki tabungan. Serta aset berupa rumah dan tanah. ”Rumah harganya sekitar Rp 600 jutan,” ujarnya.

Sementara aset tanah yang dimilikinya seluas 60 are. Lokasinya terpisah. Ada yang berada di pinggir jalan dan ada juga tanah yang masih berupa sawah. ”Kalau yang di pinggir jalan itu dekat dengan bandara,” akunya.

Jika harganya dikalkulasikan, nilai aset berupa tanah ini sudah lebih dari Rp 1 miliaran. ”Ya segitulah kalau misalkan saya jual,” ungkapnya.

Setelah pensiun, kini Fadlin bertindak sebagai asisten pelatih. Selain sebagai PNS di Dinas Pemuda dan Olahraga NTB. Gaji perbulannya sebagai asisten pelatih Pelatnas mencapai Rp 5 juta. Dan gaji tersebut diluar gaji menjadi atlet pelatda dan gaji sebagai PNS.

”Kalau dikalkulasikan seluruhnya per bulannya bisa mendapatkan Rp 13 juta,” kata dia soal pendapatan bulanannya kini.

Paling Tajir

Lain Fadlin, lain pula Lalu Mohammad Zohri. Sprinter muda asal Lombok Utara yang membuat gempar Indonesia. Boleh dibilang, dia adalah atlet muda yang paling tajir. Sebab, Zohri kini masih atlet junior. Pundi-pundi keuangannya nilainya miliaran.

Untuk mengumpulkan pundi-pundi uangnya itu, Zohri pun tak butuh waktu lama. Hanya empat tahun saja. Dia masuk di PPLP NTB pertengahan 2015. ”Pertama kali masuk PPLP mendapatkan uang saku Rp 600 ribu,” ujarnya.

Setahun setelah di PPLP, Zohri menorehkan prestasi di beberapa kejuaraan nasional (Kejurnas). Tetapi tak mendapatkan bonus dari pemerintah daerah.

”Di 2016 belum mendapatkan bonus,” kata Zohri kepada Lombok Post melalui sambungan telepon, kemarin (3/9).

Pada tahun berikutnya, Zohri menjadi andalan NTB di Pekan Olahraga Pelajar Nasional (Popnas) 2017  Semarang, Jawa Tengah. Zohri berhasil mempersembahkan dua medali emas. Kendati demikian, dia tak mendapatkan bonus dari Dinas Pemuda dan Olahraga NTB, kala itu.

”Ada orang yang memberikan. Tetapi tak banyak. Kalau dari pemerintah tidak ada saat itu,” bebernya.

Zohri pun mendengar kabar, kalau menjadi atlet pelajar tidak diberikan bonus. ”Ya, tidak ada,” ujarnya.

Meski tak mendapatkan bonus, tak membuat semangatnya luntur. Dia lalu turun di kejurnas antar PPLP di Papua. Zohri kembali mempertahankan gelarnya. Mendapatkan medali emas lagi.

Sejak saat itu, dirinya dipanggil ke pelatnas. Sempat terjadi gonjang-ganjing. Keberangkatan Zohri dicekal beberapa pihak. Tetapi dengan tekad yang kuat, Zohri pun bisa tiba di pelatnas.

Dalam waktu hitungan bulan, Zohri langsung dipercaya turun di kejuaraan Asia Junior di Jepang. Dia berhasil menorehkan prestasi. ”Hanya diberikan bonus dari PB PASI saat itu. Karena meraih juara,” ujarnya.

Berhasil menjadi yang tercepat di Asia, membuat Zohri tampil di kejuaraan Dunia, Finlandia, Juli 2018. Di kejuaraan itu, Zohri seakan tak diperhitungkan.

Zohri yang berlari di line 8 keluar sebagai juara. Dia mencatatkan waktu 10,18 detik. Mengalahkan dua sprinter Amerika Serikat Anthony Schwartz dan Eric Harrison. Selisih waktu Anthony dan Eric hanya 0,04 detik dari Zohri.

Setelah menjadi juara dunia junior, nama Zohri pun booming. Menjadi juara dunia tetapi, rumah Zohri reot. Sehingga, simpati berdatangan.

Sepulangnya ke tanah air, Zohri langsung diguyur bonus. Dia mendapatkan bonus Rp 250 juta dari Menpora Imam Nahrawi. Ditambah lagi tabungan emas 1 kilogram dari pegadaian.

”Saya diberikan saat disambut di Bandara,” kata Zohri.

Tak hanya itu, pengacara kondang Hotman Paris Hutapea juga memberikan bonus Rp 100 juta. Ditambah lagi dari PB PASI sekitar Rp 100 juta. ”Bonusnya luar biasa. Bonus itu disumbangkan untuk korban gempa di KLU,” ucapnya.

Keesokan harinya, tiba di tanah air, dia langsung diundang ke Istana Presiden. Dia diajak berkeliling di Istana oleh orang nomor satu di Indonesia. ”Tak ternilai. Senang rasanya saat itu,” ujarnya.

Selain itu Zohri juga mendapatkan bantuan tiga rumah. Dari PUPR, Mendagri, dan pihak swasta. ”Rumah itu sekarang ditempati sama beberapa kakak saya,” kata dia.

Selain itu, Zohri juga diberikan hadiah dari Aksi Cepat Tanggap (ACT). Berupa ruko dan tabungan senilai Rp 25 juta. Selain itu, Zohri juga diberikan polis asuransi sebanyak Rp 100 juta dan tabungan modal usaha Rp 100 juta.

”Saat ini rukonya itu masih berjalan.Kakak saya yang mengelolanya,” ungkapnya.

Sepulangnya ke NTB, Zohri langsung disambut bonus dari Gubernur NTB kala itu TGB HM Zainul Majdi sebanyak Rp 200 juta.

Bob Hasan, Ketua PB PASI juga memberikan bonus tabungan senilai Rp 500 juta. Uang itu dapat dicairkan dengan mengusulkan proposal.

”Saya dididik Pak Bob Hasan seperti itu supaya setelah menjadi atlet, tidak kere. Paling tidak bisa menjadi modal usaha nanti,” kata dia.

Setelah menjadi juara dunia, Zohri kembali bikin kejutan. Dia memecahkan rekor nasional milik Suryo Agung 10,17 detik. ”Setiap kali memecahkan rekor, Pak Bob memberikan hadiah Rp 100 juta,” beber Zohri.

Sampai saat ini, dia berhasil mengumpulkan tabungan Rp 2,5 miliar. Itu di luar aset serta gaji yang didapatkannya. ”Rp 2,5 miliar sekarang tabungan saya,” ucapnya.

Gaji di Pelatnas sendiri, Zohri mendapat Rp 7,8 juta sebulan. Ditambah gaji Pelatda Mayung Rp 3 juta. ”Kalau digabungkan sekitar Rp 10 juta lebih saya dapatkan per bulannya,” ujarnya.

Khusus kejuaraan internasional yang single event, tidak mendapatkan bonus. Hanya saja, memang menjadi kewajiban bagi atlet untuk mengikuti kejuaraan itu.

”Itu menjadi ajang try out dan evaluasi misalnya seperti di Malaysia dan Qatar,” ujarnya.

Di Asian Grandprix Zohri mendapatkan peringkat ketiga. Dia tidak diberikan bonus PB PASI. ”Tetapi saya mendapatkan hadiah dari event itu sebanyak 2.000 dollar,” terangnya.

Sedangkan bonus di Asian Games dia mendapatkan Rp 400 juta. Didapatkan dari bonus Menpora Rp 300 juta dan Bob Hasan Rp 100 juta.

”Karena, saya hanya menyumbangkan medali perak di nomor 4×100 meter,” ungkapnya.

Zohri menjadi satu-satunya atlet yang diundang di Kejuaraan Dunia di Qatar. Menjadi atlet undangan biasanya mendapatkan uang. “Nah, kalau yang itu saya tidak tahu,” ucapnya.

Ke depan, Zohri ingin menjadi pengusaha. Dia sudah ancang-ancang dari sekarang. Dia membeli tanah senilai Rp 800 juta.

”Luasnya 16 are,” ujarnya.

Tanah tersebut berada dipinggir jalan. Rencananya, akan menjadi bisnis toko bangunan. “Nanti toko itu dikelola sama kakak saya,” kata dia.

Endors Mengantri 

Sebagai juara dunia, Zohri kini dilirik beberapa brand nasional. Mereka ingin menjadikan Zohri sebagai bintang iklannya. ”Banyak yang nawarin,” ujarnya.

Dari merek minuman, makanan, hingga sepatu terkenal. “Saya menolaknya,” ucapnya.

Setiap ada yang ingin menggunakan jasanya untuk promosi dia selalu meminta izin ke PB PASI.

”Pak Bob meminta saya untuk fokus terlebih dahulu mengikuti kejuaraan dunia dan persiapan menuju Olimpiade,” ucapnya.

Sebelumnya, perwakilan Nike, brand ternama asal Amerika Serikat, pernah datang ke hotelnya. Dia yang masih tidak mengetahui mengenai kontrak langsung menandatangani.

”Seketika itu diketahui Fadlin, langsung Nike diminta membatalkan kontraknya,” ingatnya. “Kata Pak Bob cara seperti tidak sopan,” kata dia.

Sementara informasi dari Fadlin, biasanya kontrak dengan apparel itu bisa mencapai Rp 150 juta per tahun. Belum dihitung dari produk yang dikeluarkannya.

”Kontraknya saja segitu. Kalau dihitung dengan barang bisa mencapai Rp 300-an juta,” ujarnya.

Zohri pernah ditawari beberapa apparel terkenal seperti Nike, Adidas, Puma, dan lainnya. Tetapi, belum diizinkan PB PASI. Kemungkinan besar setelah Olimpiade baru diberikan izin.

“PB PASI menginginkan, Zohri tampil maksimal di ajang itu,” ungkapnya.

Traktir Teman

Baik Fadlin dan Zohri sudah seperti kakak dan adik. Berkat bantuan Fadlin, Zohri bisa tembus Pelatnas. Sesekali, Fadlin dan kawan atlet lainnya kerap ditraktir Zohri. Mereka makan di salah satu resto di Jakarta.

”Saya tanya setelah selesai makan, Zohri bayar Rp 8 juta,” ujar Fadlin.

Fadlin juga pernah bertanya ke Zohri dengan candaan. Zohri memiliki dua ATM. “Satu ATM isinya Rp 2,5 miliar dan satunya lagi isinya Rp 3 miliar,” ceritanya.

”Itu saya bertanya sambil guyon,” ungkapnya.

Tetapi, itu dibantah Zohri. Dia hanya memiliki satu ATM. ”Isinya Rp 2,5 miliar,” kata Zohri.

Meski banyak uang, Zohri tetap membumi. Dia tak berfoya-foya. ”Dari sisa penghasilannya per bulan saja tetap dia tabung,” kata Fadlin.

Dia melihat, semangatnya Zohri masih seperti yang dulu. Dia menargetkan bisa meraih juara di Olimpiade. ”Dia ingin cetak sejarah di Olimpiade,” ungkapnya.

Tentu saja, cerita gemilang tidak hanya milik Zohri dan Fadlin. Ada pula Ridwan. Dia adalah atlet spesialis lari jarak jauh. Maraton. Ditempat sejak dini di PPLP NTB.

Kepada Lombok Post, Ridwan mengisahkan dirinya masuk PPLP setelah menjuarai Popda. Saat itu, bakatnya terpantau tim Dinas Dikpora NTB. Dirinya pun masuk dalam PPLP NTB pada 2005.

Di PPLP, pendidikan Ridwan terjamin. Karena biaya pendidikannya ditanggung pemerintah provinsi. Selain mendapatkan pendidikan, Ridwan juga menerima uang saku setiap bulannya sebesar Rp 300 ribu. Kala itu.

Setelah mengikuti berbagai kejuaraan, Ridwan akhirnya dilirik PB PASI. Ridwan pun dipanggil untuk mengikuti pelatnas PB PASI. Di pelatnas ini, Ridwan juga menerima uang saku yang diberikan per bulan. Besarannya ketika itu Rp 750 ribu per bulan.

”Untuk kebutuhan sehari-hari seperti makan ditanggung PPLP dan pelatnas,” katanya.

Digembleng di pelatnas, Ridwan dengan spesialisasi nomor 1.500 meter ini menorehkan sejumlah prestasi baik di ajang nasional, Asia Tenggara, dan Asia. Untuk Asia Tenggara, dia pernah meraih medali emas SEA Games 2011. Medali perak dan perunggu di SEA Games Myanmar 2013. Dan medali perak di SEA Games Singapura 2015.

Untuk level Asia, Ridwan juga pernah meraih medali emas di Kejuaran Asia Junior 2013 di Taiwan. ”Medali ini sebagian besar dari nomor 1.500 meter. Ada juga yang 800 meter,” katanya.

Sedangkan untuk lingkup nasional, prestasi Ridwan juga tak kalah mentereng. Ridwan pernah meraih dua medali emas di PON Riau 2012 dari nomor 800 meter dan 1.500 meter serta satu medali perunggu di nomor 4×400 meter. Kemudian di PON Jabar 2016, Ridwan meraih medali emas di nomor 1.500 meter dan 4×400 meter. Serta satu perak di nomor 800 meter.

Dari prestasinya tersebut, Ridwan juga memperoleh bonus. Untuk satu medali emas SEA Games, Ridwan menerima bonus Rp 200 juta dari Kemenpora. Sedangkan untuk medali perak mendapatkan bonus Rp 50 juta, dan medali perunggu Rp 30 juta. Kemudian untuk PON, Ridwan pernah mendapatkan bonus dari Pemprov NTB sebesar Rp 50 juta dan Pemkab Sumbawa Rp 30 juta.

Bonus-bonus tersebut digunakan Ridwan untuk investasi. Antara lain dengan membeli tanah di sejumlah wilayah. Seperti di wilayah Batulayar, Senggigi. Saat ini, tanah tersebut sudah bernilai Rp 6,7 miliar. Selain itu, Ridwan juga berinvestasi dengan membeli tanah di Sumbawa seluas empat hektare.

”Di Palembang, kampung halaman istri saya juga ada investasi tanah dan rumah,” katanya.

Selain berinvestasi dengan membeli tanah. Ridwan juga menyalurkan bonus-bonusnya untuk berinvestasi di bidang usaha. Ridwan merintis bisnis RR Sport Massage yang ada di Lombok Epicentrum Mall. Kemudian Ridwan juga mendirikan event organizer (EO) yang bergerak di bidang olahraga.

”EO ini menghandel event-event olahraga di NTB,” akunya.

Dari prestasinya, Ridwan juga dilirik brand olahraga dunia Nike. Ridwan dikontrak Nike. Dari kerja sama dengan Nike ini, Ridwan setiap tahunnya mendapatkan produk olahraga senilai Rp 100 juta.

Tidak hanya itu, kini Ridwan juga masih bisa mencari tambahan penghasilan dengan mengikuti event-event lari maraton yang digelar pihak swasta maupun pemerintah daerah.

”Ya untuk tambahan saya sering ikut maraton. Sebulan minimal tiga event saya ikuti,” katanya.

Ridwan tidak sembarangan mengikuti event maraton yang akan diikutinya. Pria yang sudah menjadi atlet selama 15 tahun ini, hanya mengikuti event dengan nominal hadiah tertentu.

”Biasanya saya ikut yang hadiahnya di atas 10 juta,” cetusnya sambil tersenyum.

Menurut ayah satu anak ini, menjamurnya event-event maraton kini menjadi kesempatan emas bagi atlet lari jarak jauh. Berbeda dengan atlet-atlet di nomor lari jarak pendek atau sprint yang kesulitan mengikuti event diluar kejuaraan resmi.

”Karena untuk jarak pendek memang belum ada event-event lain,” katanya.

Karena deretan prestasinya itu, Ridwan kini juga sudah diangkat menjadi PNS di Dispora NTB. Ridwan diangkat sebagai PNS pada 2011. Ridwan mendapatkan gaji dan tunjangan dari PNS sekitar Rp 3,5 juta per bulan.

”Jadi banyak manfaat yang bisa kita dapat sebagai atlet berprestasi. Jangan pernah ragu untuk menjadi atlet jika memang punya potensi,” sarannya.

Terpisah, atlet karate NTB Ahmad Zigi Zaresta Yuda merasa bersyukur bisa menjadi salah satu atlet berprestasi bagi NTB maupun Indonesia. Berbeda dengan Ridwan, Zigi tidak sempat merasakan atmosfer PPLP NTB karena saat itu, tidak ada atlet karate yang masuk PPLP.

Meski tidak masuk dalam PPLP, Zigi justru bisa masuk ke pelatnas saat usianya 21 tahun sebagai cadet junior U-21. Selama di pelatnas, Zigi juga mendapatkan beberapa fasilitas. Seperti uang saku per bulan sebesar Rp 4,5 juta. ”Masuk pelatnas itu 2015. Dari junior sampai sekarang,” katanya.

Berlatih di pelatnas, Zigi pun diturunkan Indonesia pada Asian Games 2018. Pada ajang tersebut, Zigi berhasil meraih medali perunggu di nomor kata perorangan. ”Waktu itu dapat bonus Rp 250 juta,” cetusnya.

Penyemangat Atlet Junior 

Kesuksesan yang diraih para atlet-atlet ini menjadi penyemangat luar biasa bagi para atlet junior NTB. Mirawan dan Jumratun misalnya. Kepada para atlet dengan prestasi gemilang itulah mereka menoleh. Saat ini, kedua atlet junior NTB ini telah berhasil meraih medali perak di ASEAN School Games ke-11.

Mirawan meraih medali perak di nomor4x 400 meter putra. Sedangkan Jumratun meraih medali perak di nomor 4×400 meter mixed. Kedua atlet pelajar ini berhak mendapatkan bonus dari kemenpora. Untuk peraih medali perak, akan diberi bonus Rp 7,5 juta.

”Mmasih diproses sampai sekarang,” ujarMirawan kepada Lombok Post.

Selama di PPLP, remaja asal Bayan, Lombok Utara ini juga mendapatkan beasiswa pendidikan. Sehingga tidak pusing memikirkan biaya pendidikannya selama menempuh pendidikan di SMAN 2 Mataram. Selain itu, setiap bulan juga menerima uang saku sebesar Rp 600 ribu.

”Di PPLP sudah ditanggung semua, makan, minum dan sekolah. Tinggal kita berusaha mengejar prestasi di sekolah maupun di lapangan,” katanya.

Terpisah, Kepala Dispora NTB Husnanidiaty Nurdin menjelaskan di PPLP NTB, segala kebutuhan atlet sudah dijamin pemprov NTB. Mulai dari biaya pendidikan, makan dan minum, serta uang saku.

”Yang masuk PPLP juga karena prestasi. Tidak asal comot atlet saja,” katanya.

Menurut wanita yang akrab disapa Eni ini, uang saku untuk atlet PPLP mengalami kenaikan. Misalnya dulu pada awal 2005, uang saku bagi atlet PPLP sebesar Rp 300 ribu. Kemudian sekarang meningkat menjadi Rp 600 ribu.

”Uang saku PPLP NTB ini lebih besar daripada Bogor,” katanya.

Meskipun dijamin biaya pendidikan, makan dan minum, serta kebutuhan sehari-hari. Atlet PPLP harus menunjukkan performa yang bagus. Karena PPLP akan mengevaluasi prestasi atletnya. Evaluasi dilakukan setahun dua kali. Setiap Mei dan Desember.

”Tidak berprestasi ya kita keluarkan,” tandasnya.

Begitulah manfaatnya sebuah kerja keras. Hasilnya pun tak akan pernah ingkar. Berbahagialah anak-anak muda NTB ini. (arl/puj/r6)

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Simulasi KBM Tatap Muka SMA Sederajat di NTB Pekan Kedua Dimulai

Simulasi KBM tatap muka untuk SMA sederajat di NTB memasuki pekan kedua. ”Sambil kami tetap memantau perkembangan penyebaran Pandemi Virus Korona,” kata Kepala Dinas Dikbud NTB H Aidy Furqan, pada Lombok Post, Minggu (20/9/2020).  

Mendikbud Pastikan Wacana Penghapusan Mapel Sejarah Hoaks

”Tidak ada sama sekali kebijakan regulasi atau perencanaan penghapusan mata pelajaran sejarah di kurikulum nasional,” tegas dia.

HARUM Goda Pemilih Millenial Lewat Lomba Film Pendek dan E-Sport

Bakal Calon Wali Kota Mataram H Mohan Roliskana mencoba menggoda pemilih milenial. Caranya, dengan menggelar film pendek dan e-sport. "Orang yang menggeluti dunia film tidak banyak. Bagi sebagian orang ini ekslusif. Prosesnya panjang," kata Mohan Sabtu malam (19/9) lalu.

Cerita Shaina Babheer saat Memerankan Sosok Kikin dalam film MOHAN

Shaina Azizah Putri dipilih untuk memerankan sosok Kikin Roliskana dalam film pendek berjudul "Mohan". Ini menjadi tantangan baru bagi dara yang sudah membintangi beberapa sinetron dan FTV nasional ini.

“Menara Eiffel”di Desa Seruni Mumbul Lombok Timur Ramai Pengunjung

Pengelola wisata Denda Seruni, Desa Seruni Mumbul, Kecamatan Pringgabaya tak ingin puas dengan keberhasilannya menyedot wisatawan. Realisasi target PADes Rp 30 juta per bulan harus dapat bertambah.

Bale Mediasi Lotim Damaikan Delapan Perselisihan

SELONG-Permohonan mediasi terus berdatangan ke Bale Mediasi Lotim. “Sudah ada 36 permohonan yang masuk,” kata Koordinator Administrasi Bale Mediasi Lotim Lalu Dhodik Martha Sumarna pada Lombok Post, kemarin (18/9).

Paling Sering Dibaca

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Siswa SMP di Loteng Menikah, Kenal Lewat HP, Pacaran Cuma Empat Hari

Meski belum cukup umur, Suhaimi dan Nur Herawati telah resmi menjadi pasangan suami istri. Bagaimana kisahnya sampai mereka memutuskan menikah? Berikut ulasannya.

Bantuan Uang Tunai untuk Warga Terdampak Korona Diperpanjang Sampai Desember

JAKARTA–Pemerintah memutuskan untuk memperpanjang pemberian bansos. Awalnya, bansos hanya diberikan tiga bulan dari April sampai Juni, namun akhirnya diperpanjang hingga Desember 2020. Sehingga, total...

Di Tengah Pandemi Korona, Dua Murid SMP di Lombok Tengah Menikah

Saat sekolah tak kunjung dibuka karena Pandemi Korona dua pelajar SMP di Lombok Tengah memilih untuk melangsungkan pernikahan Sabtu (12/9) lalu. Mereka adalah Suhaimi, kelas 2 SMP asal  Desa Pengenjek, Kecamatan Pringgarata menikahi Nur Herawati, kelas 1 SMP.

Film MOHAN, Ini Dia Official Teasernya

Rumah Produksi Warna tengah merampungkan pembuatan film MOHAN. Film bergenre drama remaja tersebut tengah memasuki fase shooting. Namun demikian sebagai bocoran Warna telah meluncurkan cuplikan Official Teaser nya.
Enable Notifications    Ok No thanks