alexametrics
Senin, 15 Agustus 2022
Senin, 15 Agustus 2022

Mereka yang Berjuang Demi Tercapainya Target Vaksinasi Covid-19 di Lotim

Begitu banyak sosok dan cerita yang mengiringi tercapainya target 70 persen vaksinasi Covid-19 di Lombok Timur. Perjuangan mereka mengusir pandemi Covid-19 dari gumi patuh karya tersimpan rapi dalam ingatan. Susah senang, pahit getir yang mereka alami tak akan pernah hilang. Perasaan itu tertanam bersama kebahagiaan yang datang ketika warga terbebas dari pandemi dan ekonomi pulih kembali.

——————

Seri Apriani, koordinator lapangan tim vaksinator Puskesmas Sakra menunjukkan sebuah rekaman video di telepon genggamnya. Di siang yang mendung, dalam sebuah perjalanan menuju rumah warga di pedalaman, sepeda motor yang dikendarai tim vaksinator terpeleset di jalan tanah yang basah dan licin. “Termasuk sepeda motornya pak Kapus,” kata Seri pada Lombok Post.

Rekaman video perjalanan memburu warga di dusun-dusun yang diperlihatkan Seri itu merupakan satu dari sekian banyak video lainnya. Video yang tersimpan rapi di memori telepon genggamnya. Juga ingatannya. Apalagi ingatan tentang warga yang tak mau divaksin dan menolak kedatangan mereka. “Sudah jauh-jauh kita ke sana, dapatnya hanya dua orang,” tutur Seri.

Vaksinator puskesmas Sakra terbagi menjadi empat tim. Satu tim berjumlah tujuh orang. Berdasarkan tugas, tim itu terbagi dua. Tim vaksinator pertama adalah yang bertugas mengentri data warga yang sudah divaksin. Mereka berjumlah 13 orang. Sedangkan satu lagi yang bertugas di lapangan melakukan vaksinasi. Mereka berjumlah 15 orang.

Sejak adanya percepatan vaksinasi Covid-19 di Lotim yang digalakkan pada Oktober 2021 lalu, tim ini bekerja siang dan malam. Dari dusun ke dusun, rumah ke rumah. “Bahkan kami juga pernah berdiri di pinggir jalan dan memberhentikan warga untuk vaksin,” kenang Seri.

Dari 58.102 jumlah penduduk Kecamatan Sakra, warga yang harus divaksin berjumlah 45.517 orang. Dari jumlah tersebut, puskesmas Sakra menjadi salah satu PKM dengan target capaian terbanyak di Lotim. Fokus Seri dan rekan-rekan vaksinator lainnya adalah bagaimana menghabiskan dosis vaksin yang datang. Berapapun jumlahnya.

Salah satu yang paling ia ingat adalah perjuangan menghabiskan 3 ribu dosis dalam dua hari. Menurutnya, dengan jumlah tenaga yang terbatas, dan kesadaran masyarakat yang masih rendah, target itu cukup sulit untuk dicapai. Mental dan tenaga para vaksinator terserang. “Beberapa di antara kami pun waktu itu sempat drop,” ujarnya.

Namun semangat mereka tetap besar. Terutama jika mengingat peran penting mereka dalam menciptakan kekebalan kelompok masyarakat dari Covid-19. “Kita melihat sendiri banyak keluarga yang meninggal dunia karena Covid-19 ini,” tutur Seri.

Bhabinkamtibmas Desa Pesanggrahan Lembur Sampai 28 Jam

Mereka memang melaksanakan tugas dari pimpinan. Namun semangat itu tak hanya berasal dari kata ‘kewajiban’. Di sana ada rasa kemanusiaan. Sebuah harapan untuk dapat melihat hidup masyarakat normal kembali. Terbebas dari pandemi Covid-19 yang menghambat segala aktivitas kehidupan warga.

Di Lunggu, sebuah dusun yang jauh dari pusat Desa Pesanggrahan, Kecamatan Montong Gading, Aipda Lalu Rahmat Supriadi berorasi menggunakan megafon di tengah kampung. Ia tak melepas helm untuk melindungi kepala dari terik matahari siang. Sekilas seperti para pendemo di depan kantor bupati. Tapi tidak. Karena Bhabinkamtibmas Desa Pesanggrahan itu sedang memanggil warga untuk divaksin.

Baca Juga :  Tetap Waspada, Pusuk Sembalun Masih Rawan Longsor

Hal itu dilakukannya bersama Babinsa Desa Pesanggrahan Serda Joni Edi Irawan dan tim vaksinator puskesmas Montong Gading selama percepatan vaksinasi Covid-19 di Lotim. Orasi dari kampung ke kampung seperti itu hanya sebagian kecil dari tugas yang ia kerjakan. “Kita membantu kebutuhan teman-teman tenaga kesehatan. Ngambil vaksin, rekap data, dan bantu ini itu lainnya,” kata Supriadi pada Lombok Post.

Vaksinasi terpusat atau pun dari pintu ke pintu sama saja. Bedanya, langkah door to door sedikit lebih banyak menguras tenaga. Kendati target yang dicapai bisa lebih banyak. Kata Supriadi, bersama Babinsa ia akan selalu hadir dalam setiap vaksinasi. Sehari bisa empat sampai lima titik. Lokasinya di pelosok-pelosok. Tempat yang jalan ke sana tidak mudah untuk dijangkau.

Ia mengingat suatu hari ketika ia berada di tengah jalan berlumpur sepanjang 15 meter. Karena sudah setengah jalan, ia tak mungkin kembali. Maka terpaksa ia harus memaksa sepeda motor untuk melaju di atas jalan berlumpur dan licin itu. Tak jarang, ia dan tim vaksinator juga harus berjalan kaki karena tak semua dari mereka sanggup melewati jalan seperti itu.

Tak hanya lokasi dan beragam pekerjaan yang harus ia lakukan. Supriadi juga harus merelakan jam lepas piketnya untuk membantu percepatan vaksinasi. Yang cukup melelahkan adalah ketika ia lepas piket malam dari pukul 20.00 Wita, sampai pukul 08.00 Wita. Terus paginya ada giat vaksinasi. “Itu kita bekerja lagi dari jam 8 pagi sampai 11 malam. Ya, 28 jam penuh. Istirahanya kita curi-curi waktu saat istirahat salat dan makan,” tuturnya.

Kerja seperti itu memang sudah menjadi perintah pimpinan yang harus ia jalankan. Tapi Supriadi menegaskan, ia tak pernah merasa terbebani dengan tugas tersebut. Kendati tak ada insentif seperti tim vaksinator. Semangat itu, kata Supriadi, muncul karena rasa kemanusiaan yang dimiliki. “Dengan terbebas dari pandemi ini, warga kita bisa beraktivitas menjalankan kehidupan seperti baisa lagi. Nyongkolan begawe dan kegiatan budaya warga lainnya tidak perlu repot-repot izin ini itu lagi. Dan itu juga dampaknya ke kita sebagai pengayom masyarakat di desa,” jelasnya.

Sembari menjelaskan hal itu, Supriadi memandang piagam penghargaan sebagai juara II Bhabinkamtibmas favorit vaksinasi yang ia terima dari Polda NTB pada ajang kampung sehat jilid II award. Ia tersenyum dan mengatakan penghargaan tersebut layak diterima oleh semua Bhabinkamtibmas dan Babinsa yang berjuang keras mencapai target vaksinasi Covid-19 di tempat tugasnya masing-masing.

Vaksinator Sembalun, Jemput Warga Sampai ke Ladang-ladang dan Bebukitan  

Selain kesadaran warga yang masih minim, letak geografis menjadi tantangan tersendiri bagi tim vaksinator puskesmas Sembalun, Kecamatan Sembalun. Apalagi di musim penghujan, di akhir musim panen dan awal musim tanam, warga yang sebagian besar bekerja sebagai petani akan meninggalkan rumah ke kebun dan ladang untuk bercocok tanam.  Di sana, mereka bisa menginap dua tiga hari. Bahkan sepekan.

Hari itu, matahari pukul delapan pagi tak secerah biasanya. Ada sedikit awan mendung yang menutupi pancaran sinarnya dari balik bebukitan. Namun cuaca muram yang dibalut udara dingin itu tak menyurutkan langkah tim vaksinator puskesmas Sembalun, Kecamatan Sembalun untuk berangkat mengejar target capaian. Karena 1.500 dosis vaksin sinovac Covid-19 baru saja datang.

Baca Juga :  Hj Waridah Sempat Tak Mengizinkan Suami Jadi Calon Wawali

28 Vaksinator puskesmas Sembalun terbagi menjadi empat tim. Satu tim terdiri dari 7 orang. Tim ini menyebar. Dari Desa Bilok Petung, Timba Gading, Sajang, Sembalun, Sembalun Lawang, dan Sembalun Bumbung. Penulis koran ini, mengikuti dua dari empat tim tersebut. Satu di Bilok Petung, satu lagi di Sembalun Lawang. “Medan yang paling sulit memang di Bilok Petung ini,” kata Ketua tim vaksinator Covid-19 puskesmas Sembalun, Syamsul Hadi pada Lombok Post.

Jika dihitung-hitung, kata Hadi, terlalu banyak kendala yang dihadapi tim. Mulai dari letak geografis wilayah, kesadaran masyarakat, keterbatasan tim, tenggat waktu capaian, dan kendala teknis lainnya yang ditemui di lapangan. Saat menjelaskan kendala, Hadi beranjak dari tempat duduknya untuk mencari sinyal. Saat kembali, ia menambahkan kendala yang dihadapi. Blank spot. “Di beberapa tempat di Bilok Petung ini tidak ada sinyal. Jadi kita harus memasukkan data secara manual,” terangnya sembari memperlihatkan lembaran-lembaran kertas formulir data warga yang sudah divaksin.

Namun semua kendala yang dikatakan banyak itu sudah mampu diatasi. Buktinya, mereka mencapai target 70 persen. Bahkan sekarang sudah 80 persen lebih dari target wajib vaksin sebanyak 16.148 jiwa. Kata Hadi, capaian tersebut tak terlepas dari peran serta semua pihak.

Di titik lainnya, vaksinator puskesmas Sembalun Agus Marsandi bergerak menjemput warga yang tengah bekerja di ladang. Ia mengatakan, tidak hanya di ladang, mereka juga naik ke bukit-bukit dan kebun-kebun tempat warga bekerja. Proses seperti itu sangat gencar dilakukan. Apalagi saat mereka harus menghabiskan 1.500 dosis dalam sehari. “Waktu itu kita vaksin dari pukul 7 pagi sampai 11 malam,” tutur Agus.

Ia tersenyum saat ditanya mengenai kendala. Karena saat mengambil dosis vaksin terakhir, mobil ambulan yang digunakan mengangkutnya mogok di tengah jalan. Karena di lokasi tak ada sinyal, ia pun harus meminta bantuan pada pengendara yang lewat untuk memindahkan muatan penting itu.

Kata Agus, perkara mengambil vaksin juga sebenarnya kendala tersendiri bagi mereka yang berada jauh dari pusat pemerintahan. “Seringkali kita ngambil malam hari. Berangkat dari sini sore. Karena datangnya dari provinsi siang,” jelasnya.

Kepala Puskesmas Sembalun Asri Hadi menerangkan, kerja keras tim vaksinator membawa puskesmas Sembalun menjadi PKM pertama yang mencapai 70 persen di Lotim. Sekarang, untuk mengejar target dosis kedua yang kini sudah mencapai 48 persen, tugas tim vaksinator akan lebih berat lagi.

Dijelaskan, sebagian besar warga Sembalun bertani dan berkebun. Musim penghujan adalah waktu untuk kembali bercocok tanam. “Saat ini warga tidak rumah. Mereka di ladang dan kebun tadah hujan. Di sana bisa menginap sampai dua tiga hari. Kadang sampai seminggu,” tutur Hadi.

Modal untuk menguatkan tim adalah memberikan semangat dan tambahan insentif. “Ya, selain dari Pemkab, saya juga coba sisihkan dari pengeluaran kita di puskesmas,” kata Hadi. (fatih kudus jaelani/r5)

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications    OK No thanks
/