alexametrics
Senin, 15 Agustus 2022
Senin, 15 Agustus 2022

Tradisi Perang Api Jelang Nyepi Umat Hindu Lombok yang Terus Lestari

Dimulai semenjak abad ke-16, tradisi Perang Api dua kampung Umat Hindu di Cakranegara masih terjaga dan lestari hingga kini. Mumpung lagi Pilpres, inilah contoh, betapa perang tak harus bermusuhan. Perang yang ternyata penuh kedamaian.

SIRTUPILLAILI, Mataram

====================

DUA kelompok pemuda duduk di aspal jalan. Mereka bertelanjang dada sambil membawa bobok, daun kelapa kering yang sudah diikat tali. Dari jarak beberapa meter mereka berhadap-hadapan dengan mata yang selalu awas. Bau minyak tanah menyengat. Bobok-bobok itu memang sengaja dilumuri bahan bakar, agar api mudah berkobar.

Hendak apa kedua kelompok pemuda itu? Mereka siap-siap untuk berperang. Serius? Iya! Pakai senjata? Iya! Bobok itulah yang akan jadi senjatanya. Tentu sebelum dipakai berperang, disulut lebih dulu. Lalu api menyala berkobar-kobar. Dan perang dimulai.

Sesekali terdengar teriakan salah satu kubu. Mereka hendak memprovokasi kelompok lawan. Tapi, yang diprovokasi masih menahan diri. Sebab, di arena pertempuran, masih dijaga para Pecalang dan polisi.

“Bakar,  bakar (bobok), bakar…!!!” suara itu mengaung di antara kerumunan. Entah dari mana. Suara itu terus memekak, berusaha memprovokasi. Untungnya kedua kelompok menahan diri. Rupanya mereka menunggu momentum tepat. Sebab, sinar matahari masih terang.

Perang biasanya dilakukan jelang Magrib, ketika matahari mulai terbenam. Inilah tradisi Perang Api umat Hindu di Cakranegara, Kota Mataram. Perang yang digelar sebagai rangkaian perayaan Hari Raya Nyepi. Tradisi ini sudah bertahan lama. Dan masih berlangsung hingga kini. Biasanya, digelar pada petang terakhir, sebelum perayaan Nyepi dimulai.

Saat hari kian sore, warga yang ingin menyaksikan tradisi ini mulai datang berduyun-duyun. Mereka berjejelan di simpang empat Jalan Selaparang, Lingkungan Negarasakah. Dan mulailah dua kelompok pemuda berdiri. Obor sebagai sumber api mulai dinyalakan. Hasrat menyerang pun tidak dielakkan saat kedua kubu mulai membakar bobok masing-masing. Pertempuran pun tidak bisa dihindari. Saling serang. Saling lempar dengan bobok yang menyala. Serangan pun acak-acakan. Pukul memukul, menggunakan api dari jarak dekat.

Baca Juga :  Mencoba Sensasi Mobil Canggih ala Jarvis di Film Iron Man

Sontak, suasana menjadi kocar kacir. Bara api yang menyala-nyala berseliweran. Menerjang dari segala penjuru. Mendarat di punggung, pundak,  perut,  dada,  tangan,  leher, kepala hingga muka para pemuda yang sedang berperang.

Sesekali percikan api mengenai warga yang menonton. Pemuda yang terkena sambaran api tidak kalah beringas. Menyerang balik di tengah kepungan asap dan sisa api.

Meski api mulai padam, saling lempar sisa bobok masih terjadi. Para Pecalang dan petugas keamanan pun akhirnya memberikan aba-aba agar perang dihentikan. Namun, mereka yang larut dalam pertempuran terus menyerang. Sampai akhirnya sorak sorai dan tepuk tangan penonton meredakan naluri saling serang. Ditambah semprotan air dari mobil water canon milik polisi yang memang telah disiagakan. Perang pun selesai.

Perang singkat itu diakhiri dengan damai. Tidak ada yang kalah, dan tidak ada yang menang. Setelah perang benar-benar usai, kedua kelompok pemuda saling berpelukan. Mereka mengangkat tangan dan berbalas tawa. Luka bakar di dada dan punggung tidak dihiraukan. Lalu, dengan sendirinya mereka pulang ke kampung masing-masing yang jaraknya berdekatan.

Tradisi Tahunan

Tradisi ini digelar tiap tahun. Terus terjaga hingga kini. Dilakukan Umat Hindu Lingkungan Negarasakah dan Lingkungan Sweta Barat, Cakranegara. Perang api meraka lakukan setelah pawai ogoh-ogoh.

Kepala Lingkungan Sweta Barat I Gusti Bagus Mayana menjelaskan, perang api sudah dilakukan sejak abad ke-16. Saat Lombok masih menggunakan sistem kerajaan. Dulu, warga perang menggunakan gumpang, jerami sisa panen padi. Tapi karena sekarang sulit mendapatkan gampang, sehingga beralih menggunakan bobok.

Perang api pada dasarnya dilakukan untuk menyambut perayaan Hari Raya Nyepi. Sebelum Hari Nyepi diresmikan pemerintah tahun 1983, umat Hindu selalu menggelar “tauragungkesane” untuk menyatakan besoknya hari Nyepi. Salah satu cara yang digelar warga adalah Perang Api.

Baca Juga :  Rebecca Alexandria Hadibroto, Dua Tahun Berturut-turut Juarai Kejuaraan Balet Dunia

Perang menggunakan api dipilih karena api melambangkan semangat mengusir roh-roh halus, dan para setan dikurung.  “Agar tidak mengganggu orang yang puasa tapabrata saat nyepi,” jelas Wakil ketua Parisada Chakranega itu.

Mayana menambahkan, karena kebetulan bulan April mendatang, bangsa Indonesia akan menghelat pemilihan presiden (Pilpres) dan pemilihan legislatif (Pileg). Semangat perang api bisa dimaknai sebagai spirit berapi-api untuk memilih pemimpin. “Boleh berbeda pendapat, seperti perang api, tapi semangat saling rangkul tetap dijaga,” katanya.

Selain itu, perang api juga dikisahkan bermula saat warga kedua kampung diserang wabah penyakit yang mematikan. Sehingga dilakukan Perang Api untuk penolak bala dari berbagai serangan wabah penyakit.

“Warga Sweta dan Negarasakah mengadakan Perang Api untuk menghilangkan buta kala, supaya warga di sini mendapatkan kesehatan dan keselamatan,” kata I Wayan Juet, salah seorang Pecalang.

Meski warga berperang, namun kedua kampung tidak pernah berseteru atau melanjutkan perkelahian. Bila ada perselisihan langsung diselesaikan saat itu juga. Sehingga tidak dibawa pulang.

Perang Api menurutnya hanya ada di Cakranegara. Sebab, itu merupakan tradisi kampung. Bukan ajaran agama Hindu. “Setahu saya hanya ada di sini, rutin jelang perayaan Nyepi,” katanya.

Perang Api juga tidak dilakukan sembarangan. Warga yang ikut Perang Api harus menyiapkan diri baik-baik. Tidak punya niat buruk untuk melukai lawan saat perang. Karena itu sebelum perang api dimulai, ikatan bobok yang dipakai harus diperiksa terlebih dahulu. Warga memeriksa apakah di dalam bobok ada benda keras atau benda tajam.

I Made Jaya, salah seorang warga menjelaskan, bobok sebenarnya tidak boleh diikat menggunakan ikat tali. Tapi menggunakan duan agar cepat terurai saat api mengenai tubuh lawan. Kalau diikat menggunakan plastik akan menyakiti lawan dan apinya bertahan lama mengenai kulit. (*/r8)

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications    OK No thanks
/